Tampilkan postingan dengan label Horison. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Horison. Tampilkan semua postingan

Maling

Oleh: M. Hilmy Hidayatullah
“Maleng! Maleng! Maleng!” kiai sepuh teriak maling di suatu sore menjelang maghrib.
Memang, sejak beberapa hari yang lalu, kiai sepuh selalu teriak maling. Padahal rumah beliau aman-aman saja. Beberapa kali Lora Rahman, putra kiai sepuh, menyuruh beberapa santri dalem memeriksa barang yang hilang. Tapi hasilnya nihil. Bahkan tanpa sepengetahuan kiai sepuh dan santrinya Lora Hasan mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada ayah beliau itu. Kadang-kadang Lora Hasan mengintip, mengendus, dan menyelidiki rumahnya. Tidak ada seorang pun yang mencurigakan masuk ke rumahnya. Tak mungkin ada maling! Lalu sesaat kemudian,
“Maleng! Maleng! Bedhe maleng se detengnga.” kiai sepuh teriak maling lagi.
*

“Beremma abah, Fit?”
“Hmmhhhh…,” Fitri hanya melepaskan nafasnya yang berat. “Kule bi’ empian pera’ bisa adu’a bhei, Kak. Mandhere Abah dhuli sehat,”
Lora Hasan melihat wajah abahnya yang terbaring lemas di atas tempat tidur. Dia teringat kembali ketika abahnya mengaji kitab Ta’lim Al-Muta’allim sebulan lalu. Namun penyakit yang mulai mengisi hari-hari beliau memaksa beliau berhenti menginjak lantai mushalla lagi.
“Ala laa tanalul ‘ilma illa bi sittatin…”
Kata-kata itu masih belum hilang dari ingatan Lora Hasan. Sebulan lalu ia rasa setahun lamanya. Lora Hasan sangat merindukan suara abahnya yang penuh kharisma. Begitu pula para santrinya yang mulai resah seiring berkurangnya kesehatan kiai sepuh.
Semula sakit yang diderita kiai sepuh adalah sakit kepala biasa. Tapi semakin hari penyakit beliau semakin parah. Beberapa hari ini beliau sering mengigau tentang maling. Bahkan kadang beliau juga teriak dan teriakan itu sampai ke kamarku yang berjarak kurang lebih 20 meter dari kediaman kiai sepuh.
Setiap malam para santri diminta mengaji di pendopo, berharap semoga kiai sepuh lekas sembuh. Lora Hasan juga meminta tolong kepada beberapa santri senior untuk berjaga-jaga, takut-takut kalau maling itu benar-benar datang. Tapi hasilnya nihil. Walaupun setiap malam para santri lembur menjaga pendopo, tapi mereka tak sekali pun melihat batang hidung maling itu.
Malam itu adalah malam yang mencekam buatku. Malam gelap tak ada cahaya. Hanya ditemani lampu strongking yang berdansa diterpa angin, seakan dia berbisik di telingaku untuk tetap membuka mata. Aku pun berusaha untuk tak memejamkan mataku sebab beberapa temanku yang juga punya giliran jaga sudah tak kuat menahan kantuk yang menggelayuti matanya. Padahal kami telah bertekad tidak akan memejamkan mata kami sebelum kami menangkap maling itu hidup-hidup. ‘Sekali melangkah, pantang menyerah!’ begitu tekad kami. Tapi tampaknya malam yang dingin dan sepi telah mematahkan tekad kami itu.
“Maleng!! Maleng!!”
Aku terperanjat bukan kepalang dan dengan spontan aku membangunkan Haris, Samsul, Saiful, dan beberapa temanku yang lain.
“Ada maling! Ada maling!” aku berteriak.
“Mana malingnya? Mana malingnya?” Tanya Saiful setengah tak sadar.
“Di dalam!” kataku. Sebenarnya aku tak tahu di mana malingnya. Karena sedari tadi aku tak melihat tanda-tanda adanya maling.
Setelah masuk kamar kiai sepuh, aku tak menemukan siapa pun kecuali Lora Hasan dan Ning Fitri yang menenangkan abahnya itu. Aku dan para santri lainnya berusaha mengatur nafas yang tersengal-sengal.
“Malingnya di mana, Lora?” Tanya Saiful dengan mata menyisir seisi ruangan. Tapi Lora Hasan tak menjawab pertanyaan Saiful. Beliau hanya menatapnya.
“San…” suara kiai sepuh agak serak.
“Engghi, Bah?”
“Ambe’eghi ye. Are jumat ria bhekal bedhe maleng rajeh maso’a ka pasantren ria,”
“Engghi,” Lora Hasan hanya mengangguk-angguk. Beliau yakin kalau abahnya itu hanya menceracau.
“Zakki bile abelie?” tanya kiai sepuh lagi.
“Korang oning, Bah,”
“Pasantren ta’ nemmu aman. Dimma ra, Zakki ma’ tak dhulli mule?”
Lora Muzakki. Aku masih ingat ketika iring-iringan air mata keluarga dhalem mengantar anak sulung kiai sepuh itu hingga pintu gerbang. Ketika itu Nyai sepuh masih selalu berdo’a untuk beliau. Semenjak kepergian Lora Muzakki, kiai sepuh dirawat putra keduanya, Lora Hasan dan menantunya, Ning Fitri.
Memang agak lama beliau berada di pondok Syekh Kholil Bangkalan. Wajar kalau kiai sepuh selalu menanyakan beliau belakangan ini. Mungkin kiai sepuh mulai merasakan sesuatu akan segera terjadi. Begitu lama beliau tak kembali ke desanya. Bahkan ketika Lora Hasan menikah dengan Ning Fitri sekali pun.

*

Aku baru saja selesai mencuci di sungai dekat pesantren. Hari itu adalah hari Jumat. Hari di mana semua kegiatan belajar sedang libur. Buru-buru aku menuju kamar. Ingin sekali aku merebahkan badanku. Rasanya beribu ton pemberat telah menggelayuti mataku semenjak dari selesai mencuci tadi.
“Assalamualaikum,” sapaku pada beberapa temanku yang sedang asyik ngobrol sambil beristirahat di serambi kamar.
“Waalaikum salam,” jawab mereka hampir bersamaan. Mereka membuat lingkaran diskusi dan sepertinya mereka membicarakan sesuatu yang sangat serius.
“Sebenarnya kiai sepuh sakit apa sih?” seseorang melanjutkan pembicaraannya setelah terpotong dengan salamku tadi.
“Wah, aku juga ga’ tahu,” jawab yang lain.
“Nah, kamu coba saja tanya sama Rizal. Dia kan sering ronda di pendopo,”
“Zal!?” Rozi memanggilku setengah berteriak.
“Ya?” sahutku.
“Ke sini sebentar,”
Aku terburu-buru menuju ke serambi kamar.
“Kiai sepuh sakit apa sih?”
“Wah, saya juga ga’ tahu. Tapi kata Lora Hasan, sakit beliau sudah agak…”
“Agak apa, Zal?” tanya Rozi penasaran.
“Entahlah,” kataku sambil menaikkan bahu.
“Katanya beliau sering mengigau tentang maling ya?” tanya yang lain.
Aku mengangguk.
“Kau pernah melihat maling itu?”
Aku menggeleng.
“Jangan-jangan…”
“Ah, gak baik su’udz dzon lho…”
Tiba-tiba terdengar gaduh di pintu gerbang. Banyak santri yang berbondong-bondong datang ke sana. Tiba-tiba terdengar iring-iringan Shalawat Badar.
“Thala’al badru ‘alaina, min tsaniyyatil wada’, wajabas syukru ‘alaina, mada’a lillahi daa’…,” suara santri sahut-sahutan bergantian.
Aku dan para santri lainnya yang sejak tadi asyik berbicara penasaran. Dengan cepat kami melompat dari serambi kamar dan langsung pergi menuju pintu gerbang, mencari tahu apa yang terjadi.
Setelah aku berdesak-desak dengan tubuh kecut para santri, aku melihat Lora Muzakki tersenyum dipeluk para santri. Tak henti-hentinya beliau diserang pertanyaan.
“Bagaimana Madura, Kiai?”
“Kiai, dapat ilmu apa saja dari Syekh Kholil Bangkalan?”
“Kiai sudah pasti menguras ilmu di Madura sana, kan? Ajari kami, Kiai,”
Lora Muzakki hanya tersenyum penuh penuh kharisma.
“Eh, pertanyaannya nanti saja. Kiai baru datang. Beliau pasti sangat lelah. Biarkan beliau istirahat dulu,” kata santri senior lainnya.
“Ya, benar, benar,” sahut yang lain.
Kami mengiringi beliau masuk pesantren yang sudah lama beliau tinggalkan itu. Dan tak jauh dari pintu gerbang, aku melihat kiai sepuh dibopong Lora Hasan datang dari jauh dengan lari yang dipaksakan.
“Maleng!!! Maleng!!! Tangkep malengnga!! Tangkep!!” Kiai sepuh berteriak histeris. Kami tak mengerti dawuh beliau. Tak mungkin kami menangkap Lora Muzakki yang baru saja datang dari Madura. Kami tak punya cukup bukti untuk Menuduh Lora Muzakki sebagai pencuri. Tapi kiai sepuh…, ah, kami bingung!
“Abah,” Lora Muzakki berlari, memeluk abahnya. Kiai sepuh membalas pelukan itu hingga air mata beliau jatuh bercucuran. Begitu juga Lora Muzakki.
Aneh.
Kami tak mengerti.
*

Keesokan harinya, kurasakan seluruh alam menampakkan wajahnya yang muram. Tangis pun pecah tak bisa terhalangi. Suara pendopo kiai sepuh gaduh dengan suara bacaan al-Qur’an bercampur suara tangis.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un… Allah telah memanggil beliau.
Segalanya langsung dipersiapkan. Liang langsung digali. Pendopo pun sudah dikerumuni para santri. Setelah selesai dikafani dan dishalati, kiai sepuh siap dimakamkan.
Selesai pemakaman, para santri dipersilakan ke pendopo untuk minum teh dan beristirahat sejanak.
Keesokan harinya, tema maling menjadi tema yang paling hangat dibahas di semua tempat berkumpul. Maling yang diteriakkan kiai sepuh sehari sebelum beliau meninggal mampu menyihir para santri dalam rasa penasaran yang besar. Maling itu menjadi teka-teki yang seakan-akan harus dipecahkan.
“Menurutmu, apa yang dimaksud kiai sepuh dengan kata-kata ‘Maling’ itu, Din?” kata Saiful pada pada Samsuddin di suatu siang sebelum shalat Dzuhur.
“Entahlah, kok bisa ya, kiai sepuh menuduh Lora Muzakki sebagi maling?” kata Samsuddin sambil mengusap keringat yang mengalir di dahinya.
“Iya ya. Padahal kiai kan memeluk Lora, tapi kenapa kiai menuduh beliau maling?”
“Apa jangan-jangan Lora Muzakki jadi maling ya, selama beliau di Madura?” Yusuf menimpali.
“Ah, ngaco’ kamu!” kataku.
“Lho! Siapa tahu, kan!” Yusuf tetap ngotot.
“Atau jangan-jangan Lora Muzakki itu adalah pencuri ilmu selama beliau di Madura,” kata Saiful lagi.
“Maksudnya?” aku bertanya pada Saiful tak mengerti.
“Maksudnya beliau sudah banyak menguasai ilmu agama,”
“Tapi kenapa kiai sepuh meneriakinya maling dari sebelum Lora Muzakki datang hingga kedatangan beliau?”
“Jangan-jangan…,”
“Beliau berdua wali!!!” kataku dan Samsuddin hampir bersamaan.
“Yah, mungkin.” Saiful menambahkan. “Hanya saja belilau nggak mau kalau kedoknya terbongkar,”
Diskusi kami siang itu tak berlangsung lama. Adzan segera menghentikan pembicaraan kami. Walaupun kami dapat kesimpulannya, tapi kami tahu kalau kesimpulan itu belum tentu benar. Dan sebenarnya otakkku masih menyimpan pertanyaan besar tentang maling yang dimaksud kiai sepuh. Namun aku merahasiakannya. Biarlah ini menjadi pertanyaanku sendiri. Dan sebenarnya lagi, aku yakin kalau teman-temanku juga merasakan hal yang sama denganku.
Selengkapnya...

Astaufirullah al-Adhim

Oleh : Rizqiulme

Dibawah terik Matahari
Kafilah kegelapan
Membentangkan senyum siriknya
Membuat hamparan bumi berpeluh limbah kenistaan
Membuat samudra berdusta akan dirinya
Hingga langit meronta-ronta mengubur asa
Hingga langit bersedih meneteskan air mata
Membasahi pipi dunia…..!

Dalam benak penuh tanda Tanya

Mengapa….?
Kenapa……?
??????????????????

Apakah ini idzin dariNya ?
Apakah ini karyaNya ?
Atau, hanya iseng malaikat-malaikat
Yang bertugas menggoda isi dunia…?
Atau leher benakku pantas ditebas gerombolan tanda Tanya
Hingga terbatah-batah melafadhkan asma-asmaNya
Sambil berbisik kata penuh makna
Astufirullah al-‘Adhim
Selengkapnya...

Pasrah Diri

Oleh : Rizqiulme

Di sepanjang jalan itu
Ku langkahkan kaki
Beralaskan duri
Yang tak kenal basa-basi
Hanya mataku menatap jauh kearah warna pelangi
Hinggaaa..!
Ku mengayun-ayun sunyi perahuku yang menyimpan misteri
Arus gelombang ombak menerjangku, mengantarku kedasar samudra
Hingga ku terlelap dengan bantal mutiara
Memimpikan kata penuh makna
Sukses….!
Kata yang ku impikan
Kata yang ku mimpikan
Hatiku berkarya, menulis membentuk kata sastra
Tinta emas tergores dalam sucinya pikiranku
Menatap serius dalam sebuah pandangan
Melantunkan sukses dalam rembulan malamku
Jiwaku berirama dengan alunan hembusan angin
Arah timur….., barat….., selatan…..,
Utara……., hanya tuk tingkatkan prestasiku
Akupun melayar dikesunyian malam
Atas asma-asma dan ayat-ayat suciNya
Ku pasrahkan diri
Hanya tuk cita-citaku
Hanya tuk suksesku
Hanya tuk seriusku
Hanya tuk tingkatkan prestasiku
Hanya tuk kearifan, keselamatan
Agar aku tak beralas duri
Agar aku Happy…..!
Selengkapnya...

Mahkota Jiwa

Oleh : Rizqiulme

Burung bersenandung lagu sendu
Temani mentari nan lesu
Seirama embun membisu
Sambut pagi berwajah pilu
Senda gurau angin, lawakan awan
Termakan hujan kepedihan
Sempurnakan jeritan insan
Kutanam bunga sejuta harapan
Kusiram air kasih sayang
Tumbuhkan gelora damba
Berbuah rindu merangkul dada
Ta’ halangi bendera sang layu tuk berkibar
Keelokan mahkotanya
Senyuman daunnya Iringi jiwa melayang
Menembus tujuh petala langit
Laksana rembulan menyongsong malam
Anggun warnanya, bening sinarnya
Biasan cahayanya redupkan fatamorgana
Dia tumbuh ditanah kasih sayang
Air kemulyaan jadi teman kecilnya
Pupuk keikhlasan kembangkan dahannya
Senada sentuhan tangan tuhan
Jadikan bunga putih merona
Terjangan angin kesedihan
Hantaman badai kesesatan
Ta’ goyahkan cengkraman akarnya menyerap sari-sari ketauhidan
Tapi mengapa …..?
Engkau layu oleh sengatan takdir
Kau rapuh di tengah Lumpur kebimbangan
Hingga kau roboh tertiup dunia maya
Kucoba tutup jendela mata
Temani lisan bergeming syahdu
Rasakan hampa basahi relung hati
Membujur sangkar memenjara pelita rasa
Biji mata teteskan air kenistaan
Mengalir deras kepenghulu jiwa
Memaksa lentera hati merundung pilu
Namun…..
Setitik kehidupan terlukis dalam hamparan jiwa
Kuatkan sketsa air pecahkan batu
Hadirkan sepercik semangat membakar asa
Tuk mengusir sang layu
Menuju bukit ketegaran nan jauh disana
Kumulai berpijak melangkah berlari
Menembus lingkaran waktu
Tuk jemput senyum sumbing bungaku
Tawarkan semerbak penuh pesona
Di taman sorgaku.
Selengkapnya...

Akhirnya Tersenyum

Oleh : Rizqiulme

Matahari menyinari seisi bumi
Mudahkan langkah mengisi tinta kehidupan
Bintang berpijar menyelimuti malam
Temani lelap menembus cakrawala pagi
Seruan pencipta hanya nyanyian belaka
Jeritan alam tak mampu menusuk telinga

Demi nadi yang berdenyut
Jantung berdetak, nafas berhembus
Siapa kita….?

Masihkah tergores pada dinding Qalbu
Siapa yang mendenyutkan nadi
Mengapa jantung berdetak
Hingga nafaspun berhembus

Untuk apa nadi berdenyut
Jantung berdetak
Bila nafas berhembus tidak untuk menyembahNya

Pantaskah nadi berdenyut
Bila kedhaliman menyertai jiwa
Pantaskah jantung berdetak
Jika kemungkaran melumuri raga
Langit meneteskan air mata
Bumi merintih bersedih
Jadikan bencana silih berganti
Membuat alam enggan berselimut jiwa

Kemana mata memandang
Bila murkaNya terlintas di kelopak mata
Bagaimana kaki melangkah
Jika kemarahan alam ta’ lagi menyingkap hati

Betapa besar karuniaNya
Hingga gunung ta’ sanggup memikulnya
Lautan ta’ mampu menampungnya
Bahkan ibadah ta’ bisa menyamainya


Wahai jiwa yang lemah
Laa Takhof wa Laa Tahzan
Hanya kepadaNya jiwa bersimpuh
Berserah diri dinaungan keagunganNya

Wahai insan pelupa
Denyutkanlah Shalawat
Deta’kanlah Dzikir
Bernafaslah dengan ke-ikhlasan
Datangkan taubat tu’ merayuNya
Selipkan taqwa tu’ menghiburNya

Niscaya RahmatNya selalu menaungi jiwa
Hingga akhirnya tersenyum menghadap sang pencipta
Selengkapnya...

Ku Tulis dengan Tinta Pesan Damai

Oleh: Zaini “Z@”

Embun pagi sejukkan hati damaikan sanubari setelah sang surya kerlingkan cahaya. Anganku berada di alam yang tak sanggup dikata. Karena kutak pahami. Ya, mungkin karena aku bukanlah seorang ahli memaknai sebuah arti. Kutak tau entah apa yang kulihat tadi. Ah mungkin hanya ilusi. Hati ini bergumam “siapa yang bisa menjawab nalarku yang telah jauh berhalusinasi dengan alam yang tak menentu?” dan lama ku menunggu sebuah jawaban, tapi tak satupun ada jawaban. Padi menunduk, kelapa gantungkan asa pada batangnya, bahkan dedaunan dan rerumputan hanya asik menari dengan bayu yang berhembus. Namun, derap langkah detik yang meniti, akhirnya “Setulusnya aku akan terus menunggu menanti sebuah jawaban tuk memilikimu.” Begitulah lantunan syair lagu Donita. Ya kuakui suaraku tak sesyahdu Dodi, tak sermerdu Pasha, dan tak setenar Once.
Di saat asa yang kuharapkan tak kunjung terurai. Tiap hari hanya lampaui batas angan tak hiraukan masa depan. Namun perlahan kuingin menjadi perkasa dengan setetes kehidupan di balik dedaunan. Walaupun ku tahu diriku bukanlah sang pejantan tangguh. Kusadari zaman terus berganti, tapaki pijak langkahku. Aku tak ingin ketika siang menjelma lantas diriku menjadi suram. Ku mengerti aku bukanlah sang dewa yang dapat bertindak “semau gue”. Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah, tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik, Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasaNya, pada semua hambanya yang tabah, dan tak kenal putus asa”. “Jangan Menyerah” D’Masiv indah mengalun dari bibir mungilku. Lagu ini membangkitkan jiwaku untuk tegak menyapa hidup dengan selangit rasa optimis. Akupun selalu teringat akan sekapur sirih guruku sekaligus Kepala Madrasah Tsanawiyah, Ustadz Ali Murtadlo. “Anak-anakku siswa MTs yang saya banggakan. Hidup adalah sebuah pilihan, semua terserah Anda, namun ingat semua itu ada konsekuensinya. Kalian perlu tahu bahwa kenyataan kadang tidak sesuai dengan harapan, keberhasilan dan kesuksesan sering kali kandas di tengah jalan. Tempuhlah jalan kesuksesan, kalian berharap sukses tapi tidak menempuh jalan untuk sukses, maka ingatlah bahwa perahu tidak berjalan di tanah yang kering”.
Telah lama aku hidup di perantauan orang. Namun semua berjalan tanpa makna. Tak kudapatkan sebuah arti hidup yang signifikan. Aku hanya pemimpi kecil yang berusaha untuk mengubah nasib. Mungkin hidupku selalu dihantui bayangan indah seorang hawa dan hawa tersebut tak mengerti apa yang ada dalam sanubari. Haruskah ku utus kertas putih agar sang hawa pahami getarnya hati ini? Haruskah ku ikuti cahaya melalui Hijau Daun. Aku hanya bisa hadapi dengan senyuman sang Dewa. Lalu Kapan malaikat cinta Kapten akan datang? Sungguh akan kuutus Armada lantunkan buka hatimu. Sebab hatiku senada dengan Andra and The Back Bond yang mengatakan tak ada yang bisa gantikan dirimu.
Jumat pagi, saat serunai syahdu Numata mengalun yang kudengar dari MP3 dengan pesona miliknya, aku berangkat ke pantai bersama Gank Slims disertai dengan sebotol kopi, 1 pack Chocolatos, dan seplastik kue gorengan. Gank kami beranggotakan 5 orang sesuai dengan banyaknya huruf pada kata Slims. Ketika diperjalanan banyak hal kami perbincangkan. Namun hal yang paling mengesankan adalah ketika kami melihat Herlina Sofa, gadis kampung dekat pantai.

”Bang ada gadis cantik, pakek kerudung lagi, pasti dia solehah”. Kata Vanza padaku
“Vanza jangan kau paksa aku untuk mencintai gadis lain walaupun gadis yang aku suka belum memberikan jawaban atas perasaan ini”. Kataku dengan mantap
“Tapi orang yang abang sukai itu tidak suka sama abang, dan dia tidak pernah merespon apa yang diinginkan abang. Jangan biarkan hidup abang tidak karuan sebab menanti jawaban yang tak pasti dan hanya akan membuat sakit hati abang”. Suasana semakin memanas
“Vanza, perlu kau tahu, bahwa bunga tidak mekar dalam waktu semalam, Pesantren Sukorejo tidak dibangun dalam sehari. Cinta yang agung terus tumbuh selama kehidupan. Kebanyakan hal-hal yang indah nan suci memerlukan waktu yang lama. Dan saya yakin penantian takkan sia-sia. Maka sebab itulah, tetap lebih baik menunggu orang yang tepat sebab hidup terlampau singkat untuk dilewatkan bersama pilihan yang salah. Karena menunggu itu mempunyai tujuan mulia.”
“Bang, sangat menyakitkan ketika kita mencintai seseorang namun ia tak membalasnya. Maka penantian tinggallah penantian ketika ia tidak ditakdirkan bersama abang dan dengan berat hati abang membiarkannya pergi dan berlalu.”
“Vanza, aku bukanlah seorang Furqon yang dengan mudahnya ia mendapatkan cinta Anna Althafunnisa dalam novel atau film ketika cinta bertasbih milik Habiburrahman El-Shirazy. Aku hanya bayangkan diri ini adalah seorang Hafiz yang menyimpan rasa kasih terdalam kepada Cut Mala, adik Fadil. Memang sudah ada beberapa wanita yang menyatakan cintanya kepadaku, tapi perlu kau tahu bahwa laki-laki sejati bukanlah dilihat dari banyaknya wanita yang memuja, tapi komitmennya dia terhadap wanita yang ia cintai. Ingat kawan, bahwa menanam bunga itu mudah, yang sulit adalah merawatnya. Begitupun dengan mencintai wanita, dengan mudahnya kita mencintainya, tapi sangat sulit bagi kita mempertahankan cinta tersebut. 1 jam saja ku telah bisa cintai kamu di hatiku, begitulah kata Charly ST 12 dalam syairnya”. Vanza terdiam lama. Entak aku tak mengerti mengapa dalam diamya ia teteskan air mata. Mungkin dia lagi memikirkan orang yang istimewa di hatinya yang juga tak kunjung mengerti atas prasaanya slama ini.
Hari berlangsung sebagaimana siang dan malam yang menggumuli takdir dalam ruang dan waktu. Malam mulai menjelma. Berbagai macam bintang bertabur menghias pekatnya malam. Ketika kita-kitab dibacakan, ketika diri disandarkan pada Sang Khaliq, maka gerak dzikir adalah kenikmatan abadi untuk mengukir lafal cinta dalam hidupnya. Semilir angin menyeruak berhembus melabrak tubuhku yang teraliri oleh peluh-peluh tarian musik yang tak kukenal dengan syairnya berkumandang.
Berhembuslah anginku bawa kisahku
Bergoyanglah daunku iringi kebesanku
Lagu ini terus mengalun dalam senyap. Terasa damai mendengarnya. Tak kurasa malam sudah mulai larut, lampu-lampu banyak yang redup, pintu-pintu kamarpun banyak yang tutup. Ku duduk bersandar pada tembok asrama Sunan Maulana Malik Ibrahim. Bibirku berkata “Bukankah aku pernah melihat bintang yang hiasi sang malam yang berkilau bagai permata, menghibur yang lelah jiwanya, yang sedih hatinya. Aku ingin hidup dengannya. Nikmati hidup dengan sebuah ikatan langgeng yang hatiku takkan menoleh ke bintang lain selain bintang yang telah kupilih”. Lalu kemudian kuteringat keluargaku yang selalu memberikan semangat kepadaku untuk hadapi hidup dengan sebuah impian.
Ya, Bondan Prakoso berkata bahwa hidup berawal dari mimpi. Dengan irama merdu ia lantunkan
Tinggalkanlah gengsi hidup, berawal dari mimpi
Gantungkan yang tinggi agar semua terjadi
Rasakan semua peduli itu ironi tragedy
Senang bahagia hingga kelak kau mati
Namun kemudian, pena berbicara untuk kutulis beberapa butir kata dengan tinda pesan damai. “Kita terlahir bagai selembar kertas putih, tanpa noda tanpa dosa. Namun dalam tiap dengusan nafas yang kita keluarkan, telah banyak kita torehkan noda dalam lembaran hidup kita. Sekarang akan aku tawarkan sebuah kesucian yakni hubungan suci, yang diridoi IlahiRabbi. Kata peterpan, memang hayalan tingkat tinggi bagiku memilikimu, tapi kata ungu, tak bisakah berikan aku cinta dari satu hati yang akan kunanti. Kalu kau ingin langit tak mendengar hubungan kita nanti, maka akan kubuat dunia terlupa akan apa yang telah terjadi. Dan aku pun akan bersujud diatas sajadah panjang sebagai rasa syukurku yang telah berhasil meraih sebuah impian, yakni menjadikanmu kekasih halalku”.
Selengkapnya...

Kau Berpulang Gus

Kau berpulang Gus
Di dada dan kepala bulanku hangus
Dimana mana
Orang orang mengirim karang bunga
Bangsa Lintas agama hingga Obama
di desa desa dan kota kota
sampai Indonesia
Merah putih turun tahta
Kau berpulang Gus
Di pusaramu
Bunga bunga berguguran
Doa doa berhamburan
Tahlil berlarian
Mata mata hujan
Entah dari rakyat sampai pejabat
Kawan dan lawan
Indonesia bahkan dunia
Sebab hidupmu
Jadi Purnama
Tempat mereka mencari cahaya
Jadi cermin cermin
Tempat mereka berkaca
Jadi Rumah teduh
Tempat mereka berteduh
Jadi Guru
Tempat murid menuntut ilmu

Kau berpulang Gus
Syetan Syetan tertawa
Mereka kembali merdeka
setelah dipenjara

NURTAUFIK (UNQIE)

Teater AIR PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo
Selengkapnya...

Hidangan Bendera setengan tiang (Buat Guru Bangsa Abdurrahman Wahid)

Terdengar kabar keranda
Gugur air mata
Gugur doa doa
Diestafet wajah wajah
Jeritan bersahutan
Sungai kecil di jalan berangkat jadi hujan
Dari tangan tangan
Bunga subur bunga gugur
Barangkali mata mata yang terluka
Seringkali menjadi saksi
Langkah langkah kontroversi
Hanya ingin mengajari semut belajar rajawali
Selamat Jalan ke barzah
Berbulan madulah di ranjang pengantin
Sebab kami yakin
Bendera yang kau kibarkan di dunia
adalah bendera rahmatan lil alamin
Bendera Bhineka Tunggal Ika
GUS
Di negeri ini
Orang orang mengibar setengah tiang bendera
Berebutan memikul keranda
Merekalah rakyat kampung
Yang kau ajak tidak kampungan
Merekalah yang kau beri jalan
Ketika tak punya kompas di hutan
Mereka yang kau hibur
Ketika hak haknya dimasukkan ke kubur
Gus
Bertahun tahun berperang
menghantam udang udang senayan
Tak peduli masih pagi turun kursi
Santai saja
Dengan celana pendek di depan istana
Gus
Kaulah seniman
Kaulah Negarawan
Kaulah Ilmuwan
Kaulah Agamawan
Kaulah Budayawan
cermin dari berbagai warna warna
Sehingga setelah jasad dan ruhmu berucap perpisahan
Para seniman seniman kehilangan
Para Negarawan negarawan kehilangan
Para Ilmuwan Ilmuwan Kehilangan
Para Agamawan agamawan kehilangan
Para budayawan budayawan kehilangan
Para Awam ikut ikutan
Karena mereka sering diajak jadi teman
Gus
Aku tak sempat merasakan
Bagaimana waktu izroil datang
Bagaimana waktu mungkar nakir bertanya
Masihkah tetap kau berkata
GITU AJA KOK REPOT !Lalu tersenyum
Selamat jalan Guru Bangsa
Dan dariku
Ya Allah Biha Ya Allah biha
Ya Allah bi Husnil Al khotimah

NURTAUFIK (UNQIE)
Teater AIR PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo
Selengkapnya...

Salam Terindah Untuk Bunda

Senyummu...
Kutemukan dalam sujud malamku
Ketika kuteteskan kristal
Dalam sungai kecil mataku
Kepada sang pencipta...
Ku ceritakan pada-Nya
Tentang kerinduanku padamu
Tentang betapa inginku
Bersujud dalam telapak surgamu
Bunda...
Lewat semilir angin malam
Ku kirimkan salam syahdu kerinduan
Kerinduan terindah...
Seindah taman Firdaus
Dan...
Diatas sejadah biru
Kulantunkan bait al-fatihah
Agar engkau selalu dalam ridho-Nya

Seruling kerinduan menggema
Dalam syahdu jiwa...
Mendobrak memasuki lorong
Hati yang kosong...
Nyanyian cinta menari diatas
Istana kasih sayang...
Siap terbang menuju taman hakiki
Aku berteriak...
Aku merintih
Pada angin yang membawanya pergi
Dan hingga fajar menjemput
Aku masih tetap menangis dalam sepi
Menangisi kekosongan hati...
Memanggilmu tuk beri kekuatan dan kelembutan
Hingga senja menyapa
Aku selalu rindu hadirmu ”Ummi”

Secarah mentari pagi
Kulangkahkan kaki menuju
Pelataran suci...
Pelataran Muallim dan Fuqaha’
Yang menekuni bait-bait kalam-Nya
Kutata hati dengan beribu kemantapan
Untuk mengetahui mutiara indah ilmu
Sehati dengan nasehatmu....

”Kasih Sayangnya”

Cahaya fajar...
Kembali beri sinar
Sinar indah dari mentari
Di celah dinding kelas
Bersama terlantunnya nadham alfiyah
Terpikir dalam benak...
Betapa indah
Betapa tulus
Memberi cahaya tuk menyinari
Seindah kasih sayangnya
Yang ikhlas dan tulus
Tanpa harap balas...
Fenomena cinta dan kasihnya jadi history
Tak kan usang dalam nurani
Kami pun mengaguminya...
Tak sekedar kata dan pujian
Tapi reality yang nyata...
By: I’m Fitri As-Shan
Siswi SMAI Kelas XIIA 4



Dan Engkau, Tanpa sangkakala


Israfil menari-nari
Diujung serabut akar
Angkara Israfil
meluap- luap

menumpah ruah, ketika
Fathah menelungkup,
Tersunghkur tak berdaya,
Isrfail menari-nari
Sekarang atau kapankah?
Terus menari-nari
Pada tanduk tunggang akar
Haq dan BAthil
Kasrah terseok, hendak ia kemana
MAnuju Singgasana hina
Tak pantas!
Sungguh Gempita menari-nari,
Lalu kapan saatkah?
Ketika terompet suara gaduh
dan aduh israfil tiup,

Dan Engkau tuhan,
Kuasa aku tak atu,
KApan terompet gaduh
Suara aduh, Israfil tiup.

Dan Engkau, Tuhan...
Kuasa aku jatuh, ketika,
Fathah dan kasrah
Kehilangan sekat tak bertempat,
Entah kemana aku,
Ketika sujud bukan karna syukur
malah sujud karna sungkur...!!!

Entah kemana aku,
Ketika KAu wahid... Semakin kuasa atas segala
Meninggalkan jejak-jejak MAha-Mu,
Meninggalkan Fathah,
MEnginjak-injak Ksarah.

Dan, Israfil menari-nari bersam abelati..
Entah sekarang atau kapan,
Aku dan kami beranai-anai

dan, Engkau..
Meninggalkan jejak maha-Mu,
Sebab Dzat-Mu bukan fathah,
apalagi kasrah,
melainkan diatas segala...
Abadi, tanpa sangkakala....


Zyadah Arrohman Ishaque
Gensmai, X10
Selengkapnya...

Hijrah

Bertahun tahun kau rakit matahari
Di langit petang kota Mekah
Kau ajarkan mereka mengenal Allah
Mengubur berhala jejak Syetan Laknatullah
Sungai zam zam kau alirkan di sana
Menenggelamkan polusi budaya yang kotor dan keji
Kau sampaikan firman firman Tuhan
Tapi mereka lemparkan padamu berjuta cacian
Ingus ludah dan muntah
Tapi kau tetap sabar
Mendoakan mereka agar tersiram cahaya

Karena makin banyak umat yang merapat ke barisanmu
Mereka berencana membunuhmu
Disusunlah siasat mengkiamatkan langit subuhmu
Disusunnya peta peta jurang kuburanmu
Senjata telah diasah
Nurani mereka bakar hingga abu
Tapi Allah kekasihmu menyelamatkanmu
Allah memberi perintah hijrah
Dan dengan ikhlas kau melaksanakannya
Bersama sahabatmu yang setia Abu Bakar namanya
Bersama Abu Bakar kau pergi hijrah
Dari gersang kotamu
Mereka memburumu membabi buta
Menawarkan seratus unta
Bagi yang menyerahkanmu pada mereka
Hidup atau binasa
Kau dan Abu Bakar sembunyi di sebuah gua
Dengan hati mengepal tawakkal
Abu Bakar hawatir
Pada lidah maut yang hampir menjulur di kakimu
Sebab mereka hanya berjarak sepandang mata
Tapi Allah menyelamatkanmu
Mereka kembali dengan hati dilumat batu
Kau lelah Muhammad
Tidur bersandar di Abu Bakar
Tiba tiba dari sebuah lubang
Seekor ular mendekatimu
Di injak oleh Abu bakar hingga digigit
Tapi ia tak menjerit
Meski rasa sakit
Seakan memblender jantungnya
Abu Bakar takut kau terbangun ya Muhammad
Tapi rasa sakit menerjunkan air matanya ke pipimu
Engkau terbangun dan kagum
Akan kesetiaan dan pengorbanan Abu Bakar
Kau lanjutkan perjalanan
Meniti padang tandus
Dari belakangmu Muhammad
Derap kuda suroqoh menerbangkan debu debu
Yang ingin mencekikmu
Tapi kau tak gentar
Sebab kau yakin pertolongan Allah akan berpijar
Kuda suroqoh tergelincir hingga dua kali
Dan ia mengerti kau dilindungi penguasa langit dan bumi
Setibanya di Kuba kau bangun masjid
Sebagai tabungan sujud pengikut pengikutmu
Dan ahirnya Madinah di depan mata
Saat langit jum'at menyala
Engkau disambut
Dengan suka cita memekarkan bunga
Ya Muhammad
Bawalah kami hijrah
Ke tenda tenda purnama



Sholeh Abu Bakar
Sanggar “Cermin” PP Iksass dan Sekretaris Teater “Air”.
Selengkapnya...

Brosur Santri Baru

Jumlah Pengunjung

Website counter
 

Tamu Pesantren

Mubes Iksass VIII di Jember

Tamu Pesantren

Powered by Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah