Menristek: Santri Harus Jadi yang Terbaik, Santri Salafiyah Untuk Dunia



Prof. H. Mohamad  Nasir, Ph.D., Ak, mengharapkan agar para santri menjadi yang terbaik yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta bermanfaat bagi umat manusia. Ia sangat mengharapkan hal itu, karena para santri merupakan pemimpin masa depan dengan dunia yang sangat dinamis. Ia berharap kepada santri Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo menjadi yang terbaik; sehingga dapat membanggakan Sukorejo. “Santri Salafiyah Syafi’iyah untuk Indonesia, Santri Salafiyah Syafi’iyah untuk dunia,” imbuhnya.

Harapan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) tersebut di sampaikan kepada ribuan mahasiswa dan pelajar SMA saat memberikan kuliah umum di Aula Pesantren kemarin. Menristekdikti juga berharap agar santri menjadi orang yang mengusai ilmu pengetahuan (ilmu fardhu kifayah) dan pintar mengaji (berorientasi ilmu fardhu ain). “Saya walaupun menjadi menteri tapi juga masih mengaji,” tuturnya.

Menteri kelahiran Ngawi, 27 Juni 1960 tersebut merasa sangat terbebani kalau para santri pendidikannya jauh tertinggal. Mengapa? “Karena saya juga memiliki latar belakang santri,” katanya.

Karena itu, ketika pertama kali membuka kuliah umum kemarin, ia bersilaturrahim ke Pondok Sukorejo karena ingin belajar mengaji. Menristekdikti beberapa kali juga menyetir nadzam alfiyah. Profesor Nasir, pernah nyantri (Mts) di Pondok Pesantren Mambaul Ilmu Asy-Syar’y Sarang Rembang Jawa Tengah kemudian melanjutkan SMA di Pondok Pesantren Al-Ishlah Kediri.




Karena itu Profesor Nasir sangat peduli kepada kemajuan pendidikan pesantren. Ia juga berharap agar IAI Ibrahimy secepatnya dapat berubah menjadi universitas. Bahkan ia “menantang” kepada tim IAII agar dapat memprosesnya paling lama, enam bulan. Ia juga berjanji akan memberikan beasiswa kepada para mahasiswa Sukorejo yang bernaung di bawah kementriannya.


Di samping para civitas akademika Perguruan Tinggi Ibrahimy dan pengurus pesantren, hadir pada acara kuliah umum tersebut, Saifullah Yusuf (Wakil Gubernur Jawa Timur), salah satu Dirjen Dikti, anggota DPRD Jatim, ketua DPRD Situbondo, dan lainnya.  
Selengkapnya...

Iksass sebagai Benteng Pesantren Sukorejo



Anggota Ikatan Santri Alumni Salafiyah Syafi’iyah (Iksass) mampu memerankan diri sebagai benteng yang kokoh untuk Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, terutama ketika menghadapi problematika yang cukup pelik. Misalnya, ketika Pondok Sukorejo mengalami pergantian kepemimpinan. Anggota Iksasslah yang mampu menjadi benteng dari serangan-serangan pihak luar sekaligus sanggup memberi informasi yang jernih dan mencerahkan.

Demikian salah satu rangkuman dari refleksi perjalanan Iksass, tadi malam di Musholla Gunung Masali Sukorejo. Refleksi tersebut disampaikan oleh KHR. Ach. Azaim Ibrahimy (Ketua Umum Majelis Syuri PP Iksass), Ust. Muhyiddin Khotib (mantan Ketua Umum PP Iksass), Lora Ach. Fadlail (Sekretaris Pesantren Sukorejo), dan Ust. Munif Shaleh (Ketua Umum PP Iksass).

Ketika Kiai Syamsul wafat, di dalam Pondok Sukorejo mengalami “problem kepemimpinan”. Karena saat itu, Kiai As’ad sebagai Pengasuh Pondok Sukorejo yang baru, tidak berada di Sukorejo namun berada di Madura. Tapi aktifitas Pondok Sukorejo tetap berjalan dengan baik. Karena Pondok Sukorejo diback-up oleh Syaikh Thoha, Kiai Hadori, dan lain-lainnya. “Peran alumni sangat membantu,” imbuh Kiai Azaim.

Begitu pula, ketika Pondok Sukorejo mengalami pergantian kepemimpinan dari Kiai As’ad kepada Kiai Fawaid. Sebagian masyarakat mempertanyakan kemampuan Kiai Fawaid. Namun para alumni Sukorejo mampu membentengi Pondok Sukorejo dan memberikan informasi yang mencerahkan kepada masyarakat.

Pasca wafat Kiai As’ad, banyak kalangan yang meragukan Kiai Fawaid untuk memimpin Pesantren Sukorejo. Ia masih sangat muda, sedang yang ia pimpin tergolong pesantren besar. Keraguan tersebut, juga mengemuka di media massa. Maklum peristiwa wafatnya Kiai As’ad, menjadi headline pemberitaan media massa. Pemberitaan tentang Kiai As’ad dan Pesantren Sukorejo menjadi bahan liputan selama berhari-hari. Kiai As’ad menjadi tokoh nasional, sehingga memenuhi kreteria untuk selalu diberitakan.

KH. Drs. Hasan Basri, LC, (kala itu Rektor IAI Ibrahimy Sukorejo), ketika ditanya wartawan menepisnya dengan teori “inseminasi”. Menurutnya, teori inseminasi atau penyebaran dan pengembangan ini akan cepat menyebar kepada diri Kiai Fawaid, paling tidak segala potensi kepemimpinannya akan tampak dalam waktu lima tahun mendatang. Teori inseminasi ini sudah lumrah terjadi pada kalangan pesantren. Ia mencontohkan, Sayyid Muhammad Alawi, yang menggantikan abanya ketika masih kecil. Namun kini Sayyid Muhammad Alawi menjadi ulama besar, karena proses inseminasi (Surabaya Post, 5 April 1991).


Ketika Pondok Sukorejo mengalami pergantian dari Kiai Fawaid ke Kiai Azaim, Pondok Sukorejo nyaris mengalami peristiwa seperti era Kiai Syamsul ke Kiai As’ad. Aktifitas Pondok Sukorejo tetap berjalan dengan baik tidak terganggu. Namun Pondok Sukorejo mendapat serangan dari luar. “Namun Alhamdulillah berkat dukungan dan benteng dari para alumni, Pondok Sukorejo mampu menghadapi ujian tersebut dengan baik,” tutu rust. Muhyi.
Selengkapnya...

Sukorejo Nyatakan Mufaroqoh dengan PBNU

KHR. Ach. Azaim Ibrahimy, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, menyatakan mufaroqoh (melepaskan diri dari semua tanggung jawab) dan tidak ada keterkaitan dengan kepengurusan NU hasil Muktamar ke-33 NU di alun-alun Jombang. Sikap tegas Kiai Azaim tersebut diputuskan melalui proses yang panjang, setelah melakukan pengkajian yang mendalam secara lahiriyah melalui tim maupun proses batiniyah dengan bertawassul kepada para kiai pendiri NU dan pendiri Pondok Sukorejo.

Pernyataan Kiai Azaim tersebut disampaikan pada acara Halaqah III Napak Tilas Berdirinya NU, “Mengembalikan NU kepada Khittahnya”, di Pondok Sukorejo, kemarin. Halaqah tersebut dihadiri oleh keluarga Pondok Tebuireng, KH. Sholahuddin Wahid; keluarga Pondok Syaikhona Kholil Bangkalan, KH. Yusuf; keluarga KH. Ahmad Siddiq Jember; mantan ketua umum PBNU, KH. Hasyim Muzadi, serta ratusan peserta pengurus NU dari Jawa, Bali, dan Sumatera.

Terdapat beberapa permasalahan yang diperbincangkan pada halaqah tersebut. Pertama, masalah pengamalan Islam ala NU (khashaish) Aswaja yang keluar dari relnya. Rumusan khashaish NU ini penting, agar masyarakat mengerti khashaish NU yang mengedepankan ketersambungan kepada Rasulullah dan sikap moderat. Khashaish NU tersebut kemudian dirumuskan di Muktamar ke-33 dengan merevisi beberapa draf dari panitia karena dianggap melenceng dari relnya; tapi anehnya NU Online memposting draf bukan keputusan Muktamar. Kemudian NU Online memposting khashaish NU yang baru, hasil muktamar.

Kedua, produk muktamar. Peserta halaqah menganggap, produk muktamar dikatagorikan menjadi dua macam yaitu produk yang masih bermasalah dan tidak bermasalah. Keputusan tidak bermasalah, keputusan selain kepengurusan, misalnya hasil bahtsul masail. Masalah kepengurusan, ada yang bermasalah dari sisi kepribadian (karena dianggap melanggar kode etik NU) dan proses pemilihan, ada pula yang hanya bermasalah dari sisi proses.

Permasalahan dari sisi proses kepengurusan dapat dilihat dari penggunaan sistem ahwa (ahlul halli wal aqdi). Seharusnya, penggunaan sistem ahwa tersebut harus mengacu kepada AD/ART NU. Padahal di AD/ART NU hasil Muktamar Makassar, masih menggunakan pemilihan langsung. Karena itu, kalau ingin menggunakan sistem ahwa harus diubah dulu AD/ART melalui keputusan Muktamar, bukan langsung ditetapkan.

Pada saat itu, KH. Mustofa Bisri (selaku Rais Am) menawarkan solusi pada forum syuriah, “kiai dipilih kiai”. Keputusan tersebut mengandung pengertian Rais Am dipilih oleh beberapa rais syuriah wilayah dan cabang atau para rais syuriah wilayah dan cabang memilih anggota ahwa sebagai perwakilan mereka yang akan menentukan rais am PBNU. Namun kesepakatan ini dilanggar, karena yang ada hanya list nama-nama anggota ahwa yang sudah ditentukan panitia.

Pemilihan ketua umum, oleh peserta halaqah juga dianggap cacat. Diantaranya karena jumlah pemilih tidak mencapai quorum karena muktamirin banyak yang meninggalkan tempat dan ada dugaan pemilih fiktif. Peserta halaqah juga mempermasalahkan profil ketua umum yang kepribadian dan ideologinya melenceng dari NU. Misalnya, beberapa perkataannya dianggap meresahkan warga NU. Menghadapi permasalahan tersebut para peserta sepakat menjunjung tinggi keutuhan NU namun caranya berbeda. Ada peserta yang menghendaki Muktamar ulang; ada peserta yang menempuh jalur hukum karena inilah yang dianggap beradab; dan Pondok Sukorejo menyikapi dengan cara mufaroqoh.

Pernyataan maklumat mufaroqoh selengkapnya demikian: Bismillahirrohmanirrohim Setelah mengamati dengan seksama melalui pengkajian secara lahiriyah dan batiniyah, serta bertawassul kepada para ulama pendiri Nahdlatul Ulama, kami melihat adanya penyimpangan tata cara Muktamar ke-33 NU di Alun-alun Jombang, 1-6 Agustus 2015 yang kemudian menghasilkan keputusan dan langkah-langkah yang menyimpang pula. Kami, Pengasuh dan keluarga besar Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo Jawa Timur (tempat diputuskannya khittah NU 1926) tidak dapat ikut mempertanggung jawabkan proses dan hasil Muktamar ke-33 NU di Alun-alun Jombang, baik kepada ummat nahdliyin maupun kepada Allah SWT . Oleh karena nya kami menyatakan MUFAROQOH (melepaskan diri dari semua tanggung jawab) dan tidak kait mengait antara kami dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama hasil Muktamar ke-33 NU di Alun-alun Jombang. Kami menyerukan kepada para ulama dan warga nahdliyin agar tetap teguh mempertahankan dan menjalankan ajaran Ahlu Sunnah wal Jamaah serta mempertahankannya dari serangan aqidah dan ideologi lain. Demikian Maklumat MUFAROQOH ini kami buat dan telah sesuai dengan amanat Hadratus Syeikh KHR, As’ad Syamsul Arifin.
Selengkapnya...

Sukorejo - Ash-Shofwah Siapkan Kader Aswaja

Lahirnya sekte-sekte dan aliran baru yang banyak bermunculan di Indonesia beberapa waktu terakhir ini telah diyakini sebagai pemicu perpecahan di kalangan umat Islam. Ada tiga sekte besar yang mulai menguasai Indonesia, Gerakan Wahabi yang ditopang oleh dana besar dari Negara Arab Saudi; gerakan Islam Liberal yang diback up oleh kekuatan Amerika serta aliran Syi’ah yang banyak mendapat dukungan dari Negara Iran. Untuk menyelamatkan aqidah ummat Islam Indonesia sesuai dengan ajaran ahlussunnah waljama’ah, Hai’ah Ash-Shofwah,organisasi alumni Abuya As-sayyid Ahmad bin Muhammad Alawi Almaliki Al-Hasani bekerjasama dengan PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo mengadakan kegiatan Training Of Trainer (TOT) pada 29-31 Maret 2013. Turut hadir pada acara ini sebagai nara sumber; Abina KH. M. Ihya’ Ulumuddin (Al Aminul ‘Aam Ha’ah Ash-Shofwah); KH. Mahfudz Syaubari (Ketua Qismu Daurah Hai’ah Ash-shofwah); Habib Abdur Rahman Balegha (Pengasuh PP Ihya’us Sunnah Rejoso Pasuruan); KHR. Azaim Ibrahimy (Pengasuh PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo); Syaikh Abdul Qodir Atiq Al-Baihani (Mufti Syabwa Yaman); Prof. DR.H. Habib Baharun, M. Ag (Guru besar Fakultas Dakwah IAII).; KH. Abdullah Syamsul Arifin (Gus Aab). Mahmudi menjelaskan,Total ada sekitar 150 peserta yang merupakan delegasi dari seluruh pondok pesantren se- Jawa dan Madura. Adapun materi yang disampaikan pada Training Of Trainer ini meliputi;perjuangan Aswaja melawan faham dholalah; Metodologi Abuya As-Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam meluruskan faham sesat; faham Aswaja demi keutuhan NKRI ; mengenal Wahabi, Syi’ah dan Islam Liberal “kita bagi para peserta menjadi tiga kelas; kelas Wahabi, kelas Syi’ah dan kelas Liberal.Mereka di minta untuk presentasi hasil kajiannya dihadapan seluruh peserta yang ada”terangnya. Diharapkan dari kegiatan ini nantinya akan lahir seorang yang memiliki wawasan yang luas mengenai faham ahlussunnah waljama’ah. Panitia akan memilih sepuluh peserta terbaik, yang akan tugaskan untuk berda’wah didaerah yang rawan disusupi oleh aliran-aliran sesat. (rud)
Selengkapnya...

Bahtsul Masa’il, Bahas Polemik Antarsekte

Pelaksanaan Bahtsul masa’il yang diselenggarakan oleh Forum Mudzakarah Ma’al Ikhwan (FMMI) sebagai rangkaian kegiatan menjelang peringatan HAUL pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo pada tahun ini cukup semarak. Kegiatan ini secara langsung dibuka oleh pengasuh ke-4, KHR. Ach. Azaim Ibrahimy. “Pengasuh memang cukup memberikan perhatian cukup besar pada acara semacam ini,” ujar Sugiyono, SHI, panitia pelaksana. Dalam sambutannya, Kiai Azaim menyampaikan terimakasih sebesar-besarnya kepada para peserta bahtsul masa’il yang telah meluangkan waktunya untuk ikut memperingati wafatnya para leluhur, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo dengan cara yang mulia yakni melalui kajian di bidang keagamaan. “Peringatan atas wafatnya seorang tokoh panutan umat tidak harus dengan meratapi dan menangisi kematiannya, seperti yang dilakukan oleh kelompok Syi’ah,” tandasnya. Bertempat di mushalla Ibrahimy, setidaknya ada empat persoalan yang diketengahkan dalam forum Bahtsul Masa’il kali ini yang diantaranya; pertama, memanfaatkan situasi bencana alam untuk meraup keuntungan pribadi; kedua, mengkonsumsi produk luar negeri yang tak jelas kadar kehalalannya semacam mie instan; ketiga, kisruh klaim antara bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah; keempat, status kewarganegaraan dalam pandangan Islam. Diantara materi yang banyak menyita perhatian adalah mengenai polemik antara beberapa kelompok yang saling berebut untuk mendapat predikat ahlus sunnah waljama’ah. “Ini sebenarnya adalah persolan klasik, namun akan sangat merugikan banyak pihak jika tidak dicarikan jalan keluarnya,” ungkap Musthafa, MHI, selaku moderator dalam acara tersebut. (rud)
Selengkapnya...

Bidang Pendidikan Gelar Festival Lomba Sains

Dalam rangka menyambut Haul atas wafatnya para pendiri dan pengasuh PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, maka sejak tanggal 23 hingga 26 Maret 2013 Bidang Pendidikan Pondok Pesantren melakasanakan festival lomba yang bertajuk “Arena Semarak Ma’had”. Festival ini diikuti oleh seluruh lembaga pendidikan setingkat MI/SD, SMP/MTs, SMA/SMK/MA yang berada dibawah naungan yayasan PP Salafiyah Syafi’yah Sukorejo. “Kegiatan ini dimaksudkan untuk membangun ukhwah islamiyah antara pondok pesantren dengan lembaga cabang dan lembaga pendidikan yang dikelola oleh alumni se-kresidenan Besuki,” terang Drs. H. Mudzakkir A. Fattah, kepala bidang pendidikan. Ada lima jenis kategori yang diperlombakan meliputi: Lomba Sains SD/MI; Lomba Sains SMP/MTs; Lomba Sains Fisika; Lomba Ibnu Aqil; Lomba Desain Grafis. ”Perlombaan ini kita bagi menjadi tiga tahap; tahap penyisihan, tahap semifinal dan final,” ujar L. Supratman, S.Ag, selaku sekretaris panitia. L. Supratman mengatakan, hadiah untuk para pemenang dari berbagai kategori itu diberikan ketika perayaan haul para pendiri dan pengasuh pada tanggal 29 maret 2013. “Saya kira para peserta akan lebih termotivasi untuk mengeluarkan kemampuannya, karena pemberian hadiahnya disaksikan oleh ribuan orang yang hadir pada acara haul nanti,” pangkasnya. Tampil sebagai juara disetiap ketegori perlomabaan tersebut adalah Anis Mahdi utusan SMK Panji pada kategori lomba desain grafis, Teguh Widodo delegasi dari MI Islamiyah Wongsorejo untuk kategori lomba sains tingkat SD/MI, Ainun Hasna utusan SMP 3 Ibrahimy Sukorejo pada lomba sains tingkat SMP/MTs, Fauziyah utusan SMA Ibrahimy Sukorejo pada lomba Sains tingkat SMA/MA sementara untuk kategori lomba ibnu aqil, juara 1 digondol oleh Ahmad Yusuf utusan MA Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Selain itu, kegiatan perlombaan ini juga dinilai sebagai salah satu upaya untuk membangun nuansa keilmuan yang mampu menumbuhkan motivasi dan semangat belajar dan bersaing dalam diri santri “Barangkali, inilah implementasi dari ayat al-qur’an fastabiq al khairat” terang Musthafa, MHI. yang hadir sebagai juri dikategori lomba Ibnu Aqil. (rud)
Selengkapnya...

Seluruh Santri Ngaji Bab ‘Adab Al Jum’ah

Hari Jum’at merupakan hari teristimewa menurut keyakinan orang Islam. Beberapa waktu yang lalu (24/03) ba’da sholat maghrib atas instruksi pengasuh secara serentak seluruh kepala kamar baik asrama pusat maupun cabang wajib menyampaikan materi mengenai ‘adabul jum’at yang telah dirangkum oleh pengurus pesantren. “Pengajian ini untuk menindaklanjuti himbauan pengasuh agar santri menghormati datangnya hari Jum’at serta memahaami keutamaan-keutamaannya,” tandas Ustadz Jali, kepala Daerah Sunan Kali Jogo. Materi tersebut meliputi serangkaian perbuatan yang dianjurkan dan diwajibkan pada hari Jum’at seperti halnya membersihkan anggota tubuh, memotong kuku, dan menggunakan pakaian terbaik dan berwarna putih demi menghadiri pelaksanaan sholat jum’at. “Materi yang disampaikan banyak bersumber dari kitab fathul qorib fi targhib wa at tarhib karya Sayyid Muhammad Alawai Almaliki Al Hahasani” ujar Abd. Khalik, Kepala Kamar F. 07. Diharapkan, dari pengajian ‘adabul jum’at ini nantinya para santri mampu memahami sunnah-sunnah nabawi yang dianjurkan untuk dilakukan pada hari Jum’at guna memaknai ibadah Jum’at sebagai sebuah kemuliaan dan keagungan di mata Tuhan. “Semoga para santri bisa memahami sakralnya ibadah Jum’at,” terang Moh. Yasin, Kepala Daerah Sunan Maulana Malik Ibrahim. (rud)
Selengkapnya...

Sanggar Cermin Buka Sekolah Deklamasi III

Setelah sukses mendapat penghargaan dari Balai Seni dan Bahasa Jawa Timur, sanggar seni CERMIN terus berupaya untuk memperbaiki konsep manajemen dan sistem pembinaanya. Salah satu konsep pembinaan yang mendapat apresiasi dari Dewan Kesenian Situbondo adalah terselenggaranya Sekolah Deklamasi, sekolah yang telah berjalan hampir selama dua tahun lebih ini mengajarkan berbagai materi dan teknik berdeklamasi. “Sekolah ini kami setting seprofesional mungkin, dengan menggunakan kurikulum layaknya sekolah formal lainnya,” terang Lalu Hulul Maswa, Ketua Sanggar Seni Cermin. Lalu H. Maswa menambahkan,untuk menjaga eksistensi dari keberadaan sekolah ini, pada tanggal 03 Maret 2013 para pengurus sanggar Cermin secara resmi membuka pendaftaran bagi peserta didik baru. Ada sekitar 30 peserta yang tergabung dalam pendidikan deklamasi kali ini. “Setelah Sekolah deklamasi jlid satu dan dua, kita ingin yang ketiga ini juga sukses,” ujarnya. Sementara itu, pada tanggal 27 Desember 2012 lalu, Sangar seni Cermin bersama Pengurus Pusat IKSASS menyelenggarakan seminar kebudayaan sekaligus ujian bagi para siswa sekolah deklamasi jilid IIdengan menghadirkan D. Zawawi Imron sebagai nara sumber dan sebagai tim penguji. “Alhamdulillah pada ujian Sekolah Deklamsi jilid II, ada 9 peserta didik yang dianggap layak untuk menjadi deklamator oleh D. Zawawi Imron,” tandas Nanang M. Lucki selaku Sekretaris Sanggar. Selain itu, Ketua Umum PP IKSASS, Khairul Anam, S.Pd.I menilai keberadaan sekolah Deklamasi ini cukup membantu dalam rangka menumbuhkan kecintaan para santri terhadap nilai-nilai sastra dan kebudayaan. “Semoga dengan adanya Sekolah Deklamasi ini, akan lahir budayawan tingkat nasional yang akan mengharumkan nama pesantren,” harapnya. (rud)
Selengkapnya...

PP IKSASS Bentuk Kajian Aswaja Intensif

Demi memperkuat identitas ke-NU-an para santri, PP IKSASS berinisiatif untuk mebentuk kelompok kajian intensif yang secara khusus membahas ideologi kaum Nahdliyin dan beberapa faham-faham yang berbeda jauh dengan faham Ahlus Sunnah Waljama’ah. “Kami berkeinginan agar santri mampu memahami ajaran Ahlus sunnah Waljam’ah secara falsafi, bukan hanya secara amali,” tandas Ketua Umum PP IKSASS,Khairul Anam.S.Pd.I. Kegiatan yang dilaksanakan di setiap malam Jum’at ini diikuti 20 orang anggota yang masing-masing merupakan utusan dari IKSASS Rayon se-Nusantara. Yang menarik dalam kajian Aswaja ini adalah latar belakang pendidikan peserta ternyata berbeda-beda sehingga pertukaran keilmuan antar sesama anggota berjalan dengan begitu baik. “Saya merasa bangga karena meski saya masih SMA, saya bisa beradu wacana dengan temen-temen yang sudah mahasiswa”ujar Husen, salah seorang anggota utusan dari Rayon Bondowoso. Dikatakan, keberadaan kelompok kajian ini terbentuk secara tak terduga, berawal ketika pesantren mewajibkan seluruh santri untuk mendaftarkan diri sebagai anggota NU dengan cara membuat Kartu Tanda NU (KARTANU). “Pembentukan kelompok kajian ini juga merupakan bentuk keprihatinan kami pada santri yang mengaku anggota NU hanya karena memiliki KARTANU, bukan karena memahami ajarannya” ujar Syaifur Rijal, Koordinator Bidang SDM. Turut bergabung dalam kajian Aswaja ini, Ustadz Zaini Miftah. Sebagai salah seorang ustadz senior di pesantren, beliau secara sukarela mendampingi para peserta untuk berdiskusi seputar persoalan teologi. Terlebih ia memang memiliki pengetahuan yang mendalam terhadap sejarah peradaban islam. “Islam memiliki keragaman keyakinan yang sangat kompleks, hanya saja, yang berhak mendapatkan keselamatan adalah mereka yang mau mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya,” tegasnya. Ditemui di kantornya, ketua Bidang SDM dan INFOKOM, Sofyan Al Ghazali menginformasikan bagi setiap santri yang berkeinginan untuk ikut bergabung dalam kelompok kajian ini agar secara langsung mendangi kantor PP IKSASS. “Kami masih memberi kesempatan bagi yang mau ikut” ujarnya. (rud)
Selengkapnya...

Pesantren Selenggarakan Sarasehan Nasional

Sebagai wujud kewaspadaan kepada kebangkitan PKI serta kepedulian pondok pesantren terhadap keutuhan dan kesatuan Republik Indonesia, beberapa hari yang lalu, PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo menyelenggarakan Sarasehan Nasional bertajuk “Mewaspadai kebangkitan PKI di Indonesia”. Dalam sambutan dan orasi ilmiahnya, Pengasuh PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, KHR. Ach. Azaim Ibrahimy, mengungakapkan bahwa menjaga stabilitas dan keamanan negara adalah bagian dari implementasi kehidupan beragama. “Keberadaan Partai Komunis telah merubah peta dunia, ada banyak kesengsaraan yang ditimbulkan oleh gerakan kelompok ini,” ungkap suami Ny Hj. Nur Sari As’adiyah itu. Turut hadir sebagai pembicara dalam Sarasehan Nasional tersebut KH. Hasyim Muzadi, Letnan Kivlan Zein, Dr. Anton tabah, KH. Afifuddin Muhajir, M.Ag. Bertempat di auditorium PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, acara ini diikuti setidaknya oleh ratusan peserta yang terdiri dari berbagai kalangan baik akademisi maupun tokoh masyarakat. Selain itu, bupati Situbondo Dadang Wigiarto, SH juga terlihat membaur dengan peserta lainnya. Sebagai gerakan massa yang berorientasi pada pemerataan ekonomi dengan konsep sosialisme yang digagas oleh Karl Max, Partai Komunis Indonesia (PKI) sempat mendapatkan tempat dihati masyarakat Indonesia diawal tahun 60-an. Hanya saja konsep “hidup tanpa Tuhan” yang menjadi ruh perjuangan PKI sangat sulit untuk diterima oleh masyarakat, mengingat bangsa Indonesia adalah negara yang berketuhanan. Sejarah berdarah, penolakan dan perlawanan adalah dinamika yang terus mewarnai perjalanan PKI di Indonesia. Terakhir, masih segar dalam ingatan kita bagaimana tragedi pembantaian dan pertumpahan darah yang ditimbulkan oleh perang ideologi pada peristiwa G 30 S/PKI telah menyisakan banyak duka baik dari kalangan ummat beragama maupun anggota partai komunis. Dan baru-baru ini, muncul persoalan yang sempat riuh diperbincangkan di media lokal maupun nasional mengenai anak keturunan Eks PKI yang mengajukan gugatan kepada pemerintah untuk memberikan ganti rugi atas kerugian materi maupun moral yang mereka alami pada peristiwa G 30 S/PKI. Juga pertemuan-pertemuan tertutup antar keluarga eks PKI telah memantik kecurigaan dan kekhawatiran, jangan-jangan ada indikasi bahwa PKI akan menyusun kekuatannya kembali “di Banyuwangi itu, sudah beberapa kali ditempati pertemuan anak-anak mantan PKI, itu harus diwaspadai” tegas H.Ikrom, politisi gaek asal Banyuwaangi. (rud)
Selengkapnya...

Rayon IKSASS Ra’as Gelar Debat Ilmiah

Peringatan Hari Ulang Tahun Rayon Ra’as yang ke-24 juga dimanfaatkan untuk menyelenggarakan lomba “Debat Ilmiah” dengan maksud melatih keder-kadernya agar lebih mengembangkan wawasan keilmuannya. Hal ini disampaikan langsung oleh ketua Rayon IKSASS Ra’as, Agus Fauzi, S.Pd.I. “Pada biasanya harlah selalu identik dengan dengan perayaan dan hura-hura, maka kami ingin memberi warna lain pada hari ulang tahun IKSASS Ra’as yang ke-24 ini,” tegasnya. Bertempat di aula Kantin PP Salafiyah Syafi’iyah lt. II, acara lomba debat itu berjalan cukup meriah. Dialog dan diskusi terlihat sangat hidup, bahkan suasana sempat memanas ketika salah satu kelompok terpancing emosinya dalam mempertahankan pendapatnya. Dan yang tak kalah membuat riuh suasana malam itu adalah dukungan yang henti-hentinya diberikan oleh superter masing-masing kelompok “Ya meski banyak yang belum memahami betul pada pokok persoalannya, namun sudah lumayan baik, tinggal perbanyak baca buku saja,” tandas Rudi Maswanto, selaku juri pada perlombaan tersebut. Fauzi menjelaskan bahwa, lomba Debat Ilmiah tersebut hanyalah salah satu dari rangkaian acara peringatan ULTAH Rayon Ra’as ke-24. Meski begitu para peserta tampak antusias mengikuti ajang adu tangkas dalam menyampaikan argumentasi ini “Kita harapkan kader IKSASS Ra’as nantinya bisa bersaing dan menjawab tantangan masa depan,” ujarnya. Sedangkan malam puncak dari peringatan hari ulang tahun Rayon IKSASS Ra’as ke-24 itu sendiri dilaksanakan pada tanggal 21 maret 2013 dan ditempatkan di Aula PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Dihadiri oleh seluruh warga Ra’as baik yang masih aktif sebagai santri maupun yang telah tercatat sebagai alumni. “Kami ingin terlihat lebih kompak dan solid,” ujar Fauzi. Ketua Umum PP IKSASS, Khairul Anam,S.Pd.I juga turut hadir dalam pelaksanaan malam puncak peringatan hari ulang tahun Ra’as ke-24 ini. Dalam sambutannya dia berharap agar dalam momen yang berharga ini para pengurus IKSASS untuk senantiasa ingat bahwa perjuangan belum sepenuhnya selesai. “Ingatlah bahwa dipundak kalian ada tanggung jawab besar untuk berjuang demi kemaslahatan umat,” pungkasnya. (rud)
Selengkapnya...

Siswa Kelas Akhir Rutin Gelar Istighatsah

Detik-detik pelaksanaan ujian nasional telah banyak menyita waktu para siswa yang telah memasuki tahap akhir. Apapun yang terkait dengan ujian nasional selalu menjadi tema menarik untuk dipikirkan dan diperbincangkan. Dengan segala cara dan upaya mereka sekuat tenaga agar bisa lolos dari ujian nasional yang telah banyak membuat pesertanya nekat bunuh diri karena tak mampu melewatinya dengan baik. “Kami akan lakukan apa pun untuk bisa lulus,” ujar Dani Fikrullah, siswa kelas 3 SMA yang sedang mengaji di Asta. Kemarin (24/03) sekitar pukul 09:30 WIB, bertempat di asta atau makam keluarga PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, para siswa kelas akhir tanpa komando dari siapapun, mereka menggelar istighatsah dan do’a bersama sebagai salah satu ikhtiar agar pada saat mengikuti ujian nasional mereka diberikan kemudahan oleh Allah SWT. “Ini hanya ikhtiar mas, persoalan hasilnya kita pasrahkan sama yang diatas(Allah)” terang Lutfhi, jama’ah istighatsah. Diperkirakan, istighatsah semacam ini akan sama seperti tahun-tahun sebelumnya, kegiatan ini nantinnya akan berlangsung hingga hasil ujian nasional itu bisa diumumkan. “Istighatsah ini akan kami lakukan setiap malam sampai hasil ujiannya diumumkan,” ungkap Abdul Behed. Disisi lain, kebiasaan santri mengadakan istighatsah kubro menjelang ujian nasional ini disambut baik oleh Pengurus Pesantren, hal ini dinilai sebagai bentuk kesadaran para santri bahwa apapun yang menjadi cita-cita dan harapan manusia pada saatnya taqdir tuhanlah yang akan menetukan segalnya “itu hal yang baik( istighatsah), tapi mereka tidak boleh melupakan usaha yang riil yakni belajar,” tandas salah seorang pengurus pesantren yang tidak ingin disebutkan identitasnya.(rud)
Selengkapnya...

Syeikh Dhofier, Sang Arsitek Keilmuan Pesantren Sukorejo


Salah satu daya tarik Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo adalah bidang fiqh, terutama lembaga pengkaderan ilmu fiqh yang dikenal dengan Ma'had Aly. Sudah ratusan ahli fiqh yang pernah digembleng di Pesantren Sukorejo. Namun, pernahkah kita bertanya; siapakah sang arsitek keilmuan di Pondok Sukorejo tempo dulu, sehingga Sukorejo dikenal sebagai gudangnya fuqaha'?

Sang arsitek itu, Kiai Haji Raden Dhofier Munawar atau yang lebih dikenal dengan sapaan Syeikh Dhofier. Syeikh Dhofierlah yang mengurusi segala sesuatu yang berkaitan dengan keilmuan di Pesantren Sukorejo. Apalagi, sejak tahun 1974 sampai meninggalnya, jabatan beliau adalah mansya'.

Syeikh Dhofier memang dikenal alim, terutama dalam bidang fiqh. Bahkan konon, Kiai As'ad sendiri mengakui: dalam bidang fiqh beliau kalah dibanding sang menantu, Syeikh Dhofier.

Pengembaraan Syeikh Dhofier dalam bidang keilmuan mulai diasah di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep. Di pesantren ini, beliau digembleng sendiri oleh kakak iparnya, KH. Abdullah Bajjad. Kiai Abdullah ini suami Nyai Shafiyah, kakak kandungnya. Di Guluk-guluk Syeikh Dhofier melahap semua kitab-kitab ilmu alat, semacam nahwu dan sharraf.

Belum puas menimba ilmu di Annuqayah, Syeikh Dhofier melanjutkan pengembaraannya di Pondok Pesantren Sidogiri, dibawah asuhan KH. Abdul Djalil. Di Pesantren Sidogiri ini, Syeikh Dhofier pernah diangkat sebagai "kelurahan" pondok pesantren. Menurut penuturan beberapa temannya, Syeikh Dhofier terkenal dengan kewara'an dan kealimannya. Bahkan beliau dikenal sebagai "Macan Sidogiri". "Banyak santri yang antri sorogan kitab kepada beliau di asramanya," imbuhnya.

Setelah di Sidogiri, Syeikh Dhofier melanjutkan pengembaraannya ke Pondok Pesantren Lasem Jawa Tengah, asuhan Kiai Maksum. Di Pesantren ini, konon beliau hanya untuk mencari barokah. Dan tidak beberapa lama kemudian, Kiai As'ad memanggilnya untuk membantu Pondok Pesantren Sukorejo.

Kiai kelahiran 1923 tersebut lalu dikawinkan dengan Nyai Zainiyah As'ad. Syeikh Dhofier dan Kiai As'ad sebenarnya masih famili; silsilahnya bertemu di Kiai Ruham, sang kakek. Syeikh Dhofier ini putra bungsu Kiai Munawar bin Kiai Ruham. Pasangan Syeikh Dhofier-Nyai Zai ini akhirnya diberi karunia empat putri dan seorang putra; yaitu Qurratul Faizah, Tadzkirah (meninggal usia 6 tahun), Uswatun Hasanah, Umi Hani’, dan Imdad Ibrahimy yang kemudian berganti nama Azaim Ibrahimy.

Syeikh Dhofier terkenal dengan kealimannya dalam bidang fiqh dan tasawuf. Menurut Syeikh Dhofier, antara fiqh dan tasawuf tidak bisa dipisah-pisahkan. Karena, "Sebenarnya tasawuf merupakan intisari ilmu fiqh. Sedangkan ilmu balaqhah merupakan intisari ilmu nahwu," tuturnya.

Syeikh Dhofier mengabdikan dirinya, untuk mengembangkan Pondok Pesantren Sukorejo dalam bidang keilmuan. Ia habiskan hari-harinya, untuk mengajar mulai dari kitab yang kecil sampai yang besar. Di antaranya kitab Taqrib, Zubat, Taqrir, Kifayatul Ahyar, Iqna', Fathul Wahab, dan Tafsir Jalalain. Beliau juga mengarang kitab "Syaribatus Saiqah" dan buku "Leluhur KHR. As'ad Syamsul Arifin".

Setiap Ramadhan, termasuk Ramadlan 1405, Syeikh Dhofier memberikan pengajian Tafsir Jalalain. Banyak santri, alumni, dan masyarakat yang mengikuti pengajiannya. Sayangnya, saat itu Tafsir Jalalain yang dibacanya, tidak seluruhnya tamat, hanya sepertiga kitab. Sebab beliau terserang penyakit. Pada tgl 10 Ramadlan 1405 atau 30 Mei 1985, sekitar jam dua dini hari, Syeikh Dhofier meninggal dunia. (Dimuat Tabloid Salaf)
Selengkapnya...

Gus Ipul: “Kiai Fawaid Kiai Istiqamah”


Dalam bulan-bulan ini, Jawa Timur telah kehilangan kiai-kiai besar. Jawa Timur telah berduka. Sebab meninggalnya orang alim berarti matinya alam. Salah satu kiai besar Jawa Timur yang wafat adalah Kiai Fawaid. Kiai Fawaid merupakan sosok yang istiqamah, terjun langsung memperjuangankan ketidakadilan, dan mau mendengar siapa pun.

Demikian sambutan Saifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Timur pada malam tujuh harinya Kiai Fawaid di hadapan puluhan ribu santri, alumni, dan masyarakat. Menurut Gus Ipul, Kiai Fawaid termasuk sosok yang istiqamah. “Beliau selalu istiqamah shalat berjamaah dan membaca al-Qur’an,” imbuhnya.

Kiai Fawaid juga tipe kiai yang mau mendengar siapa pun. Tidak banyak tokoh yang sabar mendengar. Biasanya merekalah yang banyak berbicara. Namun Kiai Fawaid termasuk tokoh yang sabar mendengar walau berjam-jam.

Menurut Gus Ipul, potret Kiai Fawaid yang lain adalah beliau kalau melihat ketidakadilan dan sesuatu yang mengganggu kepentingan publik, beliau terjun langsung. Beliau berada di garda terdepan dalam membela keadilan dan kepentingan masyarakat.

Dalam cacatan Gus Ipul yang lain, Kiai Fawaid termasuk tokoh yang sabar dan tabah, tidak menampakkan diri kalau beliau sakit. Sewaktu Gus Ipul mendatangi acara undangan Maulid yang diselenggarakan di kediaman Kiai Fawaid di Surabaya, Kiai Fawaid tidak menampakkan kalau beliau sakit.

Sementara itu salah seorang kiai yang alumnus Habib Muhammad Al-Maliki mengharap agar masyarakat tenang dan melanjutkan perjuangan Kiai Fawaid. Sebab pengganti Kiai Fawaid, Kiai Azaim, sekarang masih menunggu istiharah Habib Ahmad bin Muhammad Al-Maliki untuk pulang ke Sukorejo. Insya Allah sebentar lagi Kiai Azaim akan datang bahkan langsung akan diantar Habib Ahmad Muhammad Al-Maliki ke Sukorejo. Kiai Karror juga meminta masyarakat agar Kiai Azaim nanti dapat meneruskan hasanat para pendiri pesantren terdahulu. (sah)
Selengkapnya...

Alumni Harus Tetap Menjaga Hubungan Ruhaniyah


Para santri dan alumni diharapkan tetap menjaga hubungan ruhaniyah dengan almarhum KHR. Ach. Fawaid As’ad. Sebab Kiai Fawaid hanya meninggal secara lahiriyah, tetapi secara ruhaniyah beliau tetap hidup. Bahkan beliau sekarang semakin jelas memahami kehidupan.

Demikian nasihat yang disampaikan KH. Afifuddin Muhajir, Wakil Pengasuh Bagian Ilmiah Pondok Pesantren Sukorejo di hadapan ribuan alumni, malam Jum’at kemarin. Menurut Kiai Afif, hubungan ruhaniyah tersebut dilakukan dengan cara selalu mendoakan beliau dan menjaga semua yang telah digariskan oleh Kiai Fawaid. “Menjaga sesuatu yang telah digariskan Kiai Fawaid, amat penting. Terus terang, saya dulu banyak berbeda pendapat dengan beliau. Tapi sekarang saya tidak berani,” imbuhnya.

Menurut Kiai Afif, dalam kepemimpinan Kiai Fawaid, terdapat kharisma dan manajemen yang baik. Perpaduan kharisma dan manajemen yang baik ini menimbulkan kepemimpinan yang luar biasa.

Di samping itu, Kiai Afif juga meminta alumni menjaga kesantrian dan kekompakan. Kiai Afif menambahkan, peran alumni di tengah-tengah masyarakat adalah mempertahankan identitas kesantrian dan keislaman. Sebab banyak alumni kalau sudah bermasyarakat, lupa akan identitas kesantrian.

Sedang peran Ikatan Santri Alumni Salafiyah Syafi’iyah (Iksass) adalah sebagai pendorong dan pelindung. Melindungi sesuatu dari luar atau eksternal dan internal. (sah)
Selengkapnya...

Isyarah Kepemimpinan Memang Ke Kiai Azaim



Isyarah estafet kepemimpinan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah dari KHR. Ach. Fawaid As’ad ke tangan KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy sudah ada sejak dulu. Nyai Hajjah Makkiyah As’ad memaparkan hal itu di hadapan ribuan alumni Salafiyah Syafi’iyah di Mushalla Ibrahimy.

Menurut Nyai Makki, sekitar tahun 1980-an, Nyai Zainiyah As’ad sering bercanda, setelah Kiai Fawaid, yang meneruskan Pondok Sukorejo nanti adalah Ra Zaim. “Candaan Nyai Zai tersebut sekarang menjadi kenyataan,” imbuh Nyai Makki.

Nyai Makki juga menceritakan, bahwa kakaknya, Nyai Zai juga berwasiat agar Ra Zaim dikawinkan dengan Ning Sari. Nyai Makki juga menambahkan, kisah Kiai As’ad mirip dengan Kiai Fawaid. Kiai As’ad sebelum meninggal, menitipkan istrinya, Nyai Ummi Khairiyah kepada Kiai Fawaid. Kiai Fawaid sebelum meninggal juga menitipkan istrinya, kepada keluarga. Bahkan, menurut Nyai Makki, ketika memandikan Kiai As’ad, Kiai Fawaid menangis dan menitipkan istrinya kepada Nyai Makki.

Menurut Nyai Makki, Kiai Fawaid juga sering dawuh, agar Ra Zaim dikawinkan dengan Ning Sari. Sebelum Nyai Makki melaksanakan ibadah umrah, Kiai Fawaid menitipkan pesan agar disampaikan kepada Habib Ahmad bin Muhammad Al-Maliki, guru Ra Zaim. “Ketika di Makkah, saya mendengar suara agar menunggu untuk menyampaikan pesan itu sampai bulan purnama, tanggal lima belas,” tutur Nyai Makki.

Ternyata, tanggal 16 Rabiul Tsani, Kiai Fawaid meninggal dunia. Setelah itu, Nyai Makki menyampaikan pesan Kiai Fawaid kepada Habib Ahmad bin Muhammad Al-Maliki. Habib Ahmad berjanji akan mengantarkan sendiri Ra Zaim ke Sukorejo. “Bahkan beliau menginginkan masakan khas Indonesia,” imbuh Nyai Makki. (sah)
Selengkapnya...

Ribuan Masyarakat Dukung Kelestarian Pesantren


Sebelum meninggal dunia, Kiai Fawaid sesungguhnya telah mempersiapkan penerusnya sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Sekitar Januari yang lalu, ketika Kiai Fawaid melaksanakan umrah isyarah tersebut dijelaskan secara gamblang di depan Ka’bah. Begitu juga, sekitar dua minggu lalu, Kiai Fawaid mengirim SMS ke Kiai Imam Mawardi, agar putri tercintanya, Ning Sari dikawinkan dengan Ra Zaim. Dan pengganti Kiai Fawaid tersebut tak lain adalah Ra Zaim.

Demikian kesaksian KH. Dr. Imam Mawardi dari Surabaya, yang mengiringi Kiai Fawaid ketika umrah Januari lalu. Kesaksian Kiai Imam Mawardi tersebut disampaikan di hadapan para kiai, santri, masyarakat, dan ribuan jam’iyah tahlil lainnya dalam memperingati malam keenam wafatnya Kiai Fawaid. Karena itu, Kiai Imam Mawardi mengajak semua lapisan santri dan masyarakat agar tidak larut dalam kesedihan tapi ikut mendukung pembangunan Pondok Sukorejo. “Kita boleh sedih, tapi jangan larut dalam kesedihan,” imbuhnya.

Sebelum Kiai Imam Mawardi memberi kesaksian, Kiai Zuhri, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton juga meminta masyarakat agar saling mendoakan dan mendukung kelestarian Pondok Sukorejo. Kiai Zuhri meminta masyarakat agar menjaga kebersamaan untuk meneruskan amanah perjuangan Kiai Fawaid.

Kiai Zuhri yakin Pondok Sukorejo tetap kokoh dan berkembang terus. Karena ibarat tanaman, kata Kiai Zuhri, Pondok Sukorejo sudah mempunyai akar yang kuat tertanam dalam tanah. Sehingga walau Kiai Fawaid wafat, pohon tersebut takkan goyah. “Karena itu para santri, wali santri, dan masyarakat, diharap tenang,” pintanya.

Pengasuh Pondok Nurul Jadid Paiton tersebut yakin, Kiai Syamsul Arifin, Kiai As’ad, dan Syaikhona Kholil Bangkalan akan ikut mengawasi perkembangan Pondok Sukorejo.

Menurut kesaksian Kiai Imam Mawardi, yang dipikirkan Kiai Fawaid selalu NU dan Pesantren Sukorejo. Karena itu Kiai Imam menghimbau para pecinta Kiai Syamsul, Kiai As’ad, dan Kiai Fawaid agar ikut menjaga kelestarian dan pembangunan Pondok Sukorejo.

Malam itu, di depan Masjid Jami’ Ibrahimy dan beberapa tempat sekitar Pondok Sukorejo sudah terpampang foto Ra Zaim bersama Kiai Syamsul, Kiai As’ad, dan Kiai Fawaid. Ra Zaim sudah mendapat tempat di hati ribuan santri, alumni, dan masyarakat. Begitu pula di sebuah jejaring sosial milik Ra Zaim dan Satu Abad Pesantren Sukorejo, banyak tulisan dari alumni dan masyarakat yang merindukan kedatangan Ra Zaim di Sukorejo. (sah)
Selengkapnya...

Kiai Politik yang Tak Menikmati Politik


Umat Islam merasa kehilangan kiai besar. Seorang kiai yang telah melaksanakan pengembangan pesantren dan masyarakat, yaitu Kiai Fawaid. Kiai Fawaid memang profil kiai yang ikut berpolitik tapi tidak menikmati politik. Beliau tidak menikmati jabatan. Karena politik sebagai alat untuk menyejahterakan masyarakat. Politik akan baik jika dipegang orang yang mulia, seperti Kiai Fawaid.

Demikian ceramah KH. Hasyim Muzadi, mantan Ketua Umum PBNU, malam Rabu, pada acara Tahlilan Kiai Fawaid. Menurut Kiai Hasyim, ketika Kiai Fawaid dan Kiai Hasyim bertemu, mereka sering diskusi masalah-masalah besar kenegaraan dan keummatan. Kiai Fawaid kerap menanyakan problematika aktual kenegaraan, sebaliknya, Kiai Hasyim menanyakan problematika masyarakat. “Nah, disinilah titik temunya diskusi kami,” ujar Kiai Hasyim.

Menurut Kiai Hasyim, pondok pesantren mempunyai perbedaan dengan lembaga pendidikan lainnya. Kalau lembaga pendidikan diluar, hanya mengajarkan keilmuan. Tapi kalau pondok pesantren mengajarkan ilmu kehidupan. Pondok pesantren mengasah otak dan menjernihkan hati. “inilah ruh ilmu,” imbuhnya.

Di samping itu, pondok pesantren mengajarkan pertanggungjawaban ilmu. Pertanggungjawaban ilmu juga terletak pada hidayah Allah. Karena itu kunci mencari ilmu adalah ridho Allah, ridho orang tua, dan ridho para guru. Kiai Hasyim juga menambahkan, bahwa para ulama tidak pernah merasa paling bisa. Ini berbeda dengan para cendikian yang kerap merasa paling dan serba bisa. Karena ulama menyadari pertanggungjawaban ilmu dan di dadanya terdapat ilmu kehidupan.

Menurut Pengasuh Pondok Al-Hikam Malang tersebut, setiap ulama mempunyai amalan tersendiri untuk mencapai kedalaman ilmu kehidupan dan pertanggungjawaban ilmu. Menurut pengamatan Kiai Hasyim, salah satu amalan Kiai Fawaid dalam mencapai hal itu, dengan amalan membaca Al-Qur’an. “Di sela-sela bertemu dengan saya, Kiai Fawaid selalu membaca al-Qur’an,” tambahnya.

Karakteristik orang yang memperoleh ilmu kehidupan dan pertanggungjawaban ilmu adalah pinter dan bener. Untuk mencapai pinter dan bener dengan cara memperbanyak berpikir dan berdzikir.

Pada kesempatan itu, Kiai Hasyim juga berdoa bersama jam’iyah tahlil, semoga keluarga dan dzurriyat mampu melanjutkan perjuangan Kiai Fawaid. Kiai Hasyim pun berjanji siap membantu Pondok Sukorejo.

Pada tahlil tadi malam terasa berbeda. Sebab pada malam sebelumnya, sebelum tahlil terdapat mauidhah hasanah. Namun tadi malam, tahlil dulu baru mauidhah hasanah. Karena masih menunggu kedatangan Kiai Hasyim. Acara tersebut ditutup dengan doa oleh KH. Miftahul Akhyar, Rais PWNU Jatim. (sah)
Selengkapnya...

Ribuan Jam’iyah Tahlil Dukung Cita-Cita Kiai Fawaid


Ribuan jam’iyah tahlil pada malam Selasa tadi malam mendukung dan mendoakan cita-cita almarhum Kiai Fawaid. Di antara cita-cita almarhum Kiai Fawaid adalah menyerahkan estafet kepemimpinan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah kepada Ra Zaim dan ikatan perkawinan putri beliau, Ning Sari dengan Ra Zaim. Doa dan dukungan terhadap cita-cita almarhum Kiai Fawaid dipimpin KH. Muhyiddin Abd. Shomad, ketua PC NU Jember.
Kiai Muhyiddin juga memberi kesaksian bahwa Kiai Fawaid termasuk kekasih Allah. Salah satu indikasi Kiai Fawaid termasuk kekasih Allah, menurut Pengasuh Pondok Pesantren Nuris Jember itu adalah ketika ia memandikan Kiai Fawaid, Kiai Fawaid tersenyum dan matanya tertutup dengan sempurna. “Saya belum pernah memandikan orang yang seperti Kiai Fawaid. Beliau kelihatan senang bertemu dengan Allah,” tambah kiai yang sering memandikan jenazah tersebut.
Di antara tanda yang lain adalah ribuan orang yang membanjiri Sukorejo untuk bertakziah. Ribuan santri dan orang sangat berduka dengan meninggalnya Kiai Fawaid. Ribuan orang yang mencintai Kiai Fawaid. Di samping itu, Kiai Fawaid sudah berbuat amal shaleh. Di antaranya, masjid yang megah yang menelan milyaran rupiah.
Dalam pandangan Kiai Muhyiddin, Kiai Fawaid hatinya bersih, sejuk, dan tidak mendendam. “Beliau tidak pernah memperguncing orang lain,” imbuh cucu Kiai Abd. Latief, adik Kiai Syamsul tersebut.
Menurut Kiai Muhyiddin, Kiai Fawaid termasuk sosok yang tegar dan tidak pernah mengeluh. “Ini menandakan beliau orang yang tawakkalnya tinggi,” ujarnya.
Potret Kiai Fawaid yang lain di mata Kiai Muhyiddin adalah Kiai Fawaid termasuk sosok manajer ulung. Hal ini ditunjukkan dalam kepemimpinan beliau di pesantren Sukorejo. Kiai Fawaid telah membangun sistem yang tangguh sehingga ketika ditinggal beliau, Pesantren Sukorejo tetap berjalan. Kiai Fawaid juga rutin mengadakan rapat dengan ketua kamar dan pengurus yang lain. “Ini tidak ada di pesantren lain,” katanya.
Acara tahlil tersebut diikuti tokoh masyarakat, santri, dan masyarakat umum. Di antara ulama yang datang adalah KH. Sufyan Miftahul Arifin (Panji Kidul Situbondo), KH. Basit (Besuki), dan puluhan ulama di sekitar Karesiden Besuki.(sah)
Selengkapnya...

Wali Santri Jangan Resah


Para wali santri jangan sampai resah memikirkan suksesi di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Para santri jangan gelisah, belajar dengan tenang. Karena Pesantren Sukorejo sudah besar dan pengganti almarhum KHR. Ach. Fawaid As’ad sudah ada, yaitu Ra Azaim.

Begitu pesan KH. Salwa Arifin dari Bondowoso kepada jamaah tahlil di Masjid Ibrahimy, malam Senin tadi. Pesan Kiai Salwa tersebut, sesuai dengan pesan Drs. KH. Afifuddin Muhajir, M.Ag pada acara prosesi pemakaman Kiai Fawaid. Menurut Kiai Afifuddin, secara kultural Pondok Pesantren Sukorejo dipimpin oleh Kiai Fawaid sebagai pengasuh pesantren. Setelah Kiai Fawaid wafat, pondok pesantren dipimpin secara kolektif kolegial. Namun secara struktural, pondok pesantren sudah lengkap kepengurusannya, yaitu berbentuk yayasan, dan Kiai Fawaid sebagai ketua pembina.
Pada malam kedua tahlilan tersebut, Kiai Salwa memaparkan, bahwa yang berduka cita terhadap meninggalnya Kiai Fawaid bukan hanya manusia, alam pun ikut berduka. Buktinya, sejak Kiai Fawaid meninggal sampai sekarang di sekitar Situbondo selalu mendung.

Menurut Kiai Salwa, Kiai Fawaid bukan hanya membimbing santri di pesantren. Para alumni pun selalu dalam bimbingan dan pantauan Kiai Fawaid. Kiai Fawaid juga termasuk profil yang istiqamah dan ikhlas. Salah satu keistiqamahan beliau, menurut Kiai Salwa, adalah melanggengkan membaca al-Qur’an dan wudhu’. Sedangkan tanda-tandanya Kiai Fawaid seorang yang ikhlas adalah beliau mendatangi undangan walau ke tempat yang terpencil tanpa keluh kesah.

Acara tahlil tersebut didatangi ribuan alumni dan masyarakat. Rencananya, yang memberikan tausiah tahlil malam Selasa nanti adalah KH. Muhyiddin Abd. Shomad, Rois Syuriah PCNU Jember. Malam Rabu, KH. Miftahul Akhyar, Rois Syuriah PWNU Jawa Timur. Malam Kamis, KH. Nur Iskandar, SQ dari Jakarta. Dan malam Jum’at, Drs. Surya Dharma Ali, M.Si, Menteri Agama RI dan KH. Mutawakkil Alallah, Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong.

Para takziah tetap membanjiri Sukorejo dari rakyat jelata sampai para tokoh. Di antara tokoh yang datang Ahad kemarin, KH. Nuruddin Abd. Rahim (MUI Jatim), KH. Wahid Zaini (DPR RI), KH. Zaini (ketua forum silaturrahim Madura), Haris (Wabup Bondowoso), Habib Hamid Al-Mukhdar (Bali), H. Musaffa’ Noor (Ketua DPW PPP Jatim), KH. Khalil Muhammad (Sampang), KH. Hasan Bar (Pondok Pesantren Genggong), Khairani, MA (Kasubdit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Kemenag RI), dan KH. Idris Abd. Hamid (Pasuruan). (sah)
Selengkapnya...

Brosur Santri Baru

Jumlah Pengunjung

Website counter
 

Tamu Pesantren

Mubes Iksass VIII di Jember

Tamu Pesantren

Powered by Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah