Diberi Uang DP 100 Ribu

Panwas Pemilu Kada Kabupaten Situbondo Akhirnya memulangkan 26 Pemantau illegal. Setelah memerikasa dua orang koordinatornya. Dua orang coordinator itu masing-masing Hariyono, Koordinator Sentral Mahasiswa Demokrasi, dan Sahamo Koordinaor LSM Forum Independent Kerakyatan dan Keadilan Rakyat Indonesia, Fikri.

Menurut Irwan Yulianto, Ketua Panwas Pemilu kada Situbondo, dari hasil pemeriksaan keduanya membantah, kalau mereka digerakkan oleh salah satu pasangan calon dengan tujuan tertentu.

Menurut Irwan, kedua lembaga itu memang tidak mengantongi ijin dari KPU untuk melakukan pemantauan Pilkada di Situbondo, sehingga kegiatannya harus diberhentikan.

Sementara itu, Koordinator SMD Hariyono kepada sejumlah wartawan, membantah kalau kegiatan pemantauan itu dibiayai oleh pasangan calon. Menurutnya, kegiatan tersebut murni program SMD dan LSM Fikri, yang pembiayaannya menggunakan kas organisasi sebesar satu juta rupiah.

Pernyataan Koordinator SMD ini ternyata kontradiktif dengan pengakuan Laila, salah seorang mahasiswa yang diajak untuk melakukan pemantauan Pemilu Kada di Pondok Sukorejo.

Manurut Laila, dirinya sama sekali tidak tahu kalau kegiatan pemantauan tersebut illegal. Sebelum berangkat ke Sukorejo, dirinya dan rekan-rekannya sempat di kumpulkan di salah satu tempat.

Menurutnya ada sekitar 40 orang yang diterjunkan untuk melakukan pemantauan di Sukorejo. Para pemantau juga dijanjikan akan mendapatkan uang. Sebelum berangkat, para pemantau illegal ini sudah diberi uang DP masing-masing 100 ribu rupiah.

Jika pemantau itu 40 orang, maka uamh DP yang harus dikeluarkan dari kas organisasi itu mencapai 4 juta rupiah. Padahal itu hanya uang DP atau uang transport saja, belum uang honor untuk pemantauan. Sementara Hariyono mengaku bahwa uang yang dikeluarkan kas organisasinya 1 juta rupiah.

Tidak hanya itu, kejanggalan lainnya, sebagian pemantau juga mengaku tidak pernah dibekali pengetahuan teknis khusus pemantauan, sebagaimana layaknya dilakukan pemantau professional lainnya. Saat digeledah petugas Limnas, juga tidak ditemukan adanya form pemantauan.
Selengkapnya...

Pondok Pesantren Sukorejo Dikacau 26 Pemantau Ilegal

Keamanan Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, akhirnya mengamankan 26 orang pemantau Pilkada illegal. Mereka yang rata-rata mahasiswa ini, melakukan pemantauan di TPS lingkungan pondok pesantren, meski tidak mengantongi surat registrasi sebagai pemantau dari komisi pemilihan umum.

Pemantau tersebut mengaku berasal dari Forum Independen Kerakyatan dan Keadilan Rakyat Indonesia, Fikri, dan Sentral Mahasiswa Demokrasi, SMD.

Menurut petugas Keamanan Pondok Pesantren, Suyono Abdul Karim, aksi mereka sudah mencurigakan petugas sejak rombongan datang sekitar jam 7 pagi. Mereka diangkut oleh mobil jenis Izuzu Panther dan sebagian lagi memakai memakai sepeda motor. Kedatangan mereka yang mengaku sebagai pemantau langsung ditolak oleh petugas, karena tidak mengantongi identitas sebagai pemantau dari KPU.

Namun meski ditolak, beberapa jam kemudian petugas keamanan menemukan mereka sudah beredar di 17 TPS dilingkungan pondok.

Menurut Drs. Fauzi Alco, MPdI, Humas Pondok Pesantren Sukorejo, bahwa kedatangan pemantau ilegal ini jelas meresahkan warga yang hendak ke TPS. Bahkan banyak masyarakat yang mengadu bahwa aksi mereka bukan saja meresahkan, tapi sampai memlototi masyarakat awam yang hendak mencoblos.

Fauzi menjelaskan, pihak keamanan pesantren hanya mengamankan saja, setelah menerima keluhan dari warga. Selanjutnya menurut Fauzi, para penyusup berkedok pemantau ini diserahkan ke Panwalu.

“Sebenarnya pesantren Sukorejo sangat welcome terhadap siapa dan dari mana pun yang hendak melakukan pemantauan, tapi mereka harus tahu mekanisme dan prosedur. Kalau caranya begini, ini bukan lagi kegiatan memantau tapi memprovokasi dan membuat para pemilih tidak tenang dan resah,” terang Fauzi.

Setelah kurang lebih satu jam diamankan di Pondok Pesantren Sukorejo, para penyusup berkedok pemantau ini akhirnya dibawa ke Kantor Kecamatan Banyuputih, sebelum akhirnya di evakuasi ke Kantor Panwas Pemilukada Situbondo.
Selengkapnya...

Asrama Bahasa Sambut Anniversary

Untuk menyambut hari jadinya Asrama Bahasa yang ke-9, Para Pengurus Asrama Bahasa sengaja mengisi penyambutan annyversary itu dengan berbagai ajang perlombaan. Meskipun sebelumnya para anggota asrama bahasa disuguhi ujian tulis dan lisan, mulai Malam Senin kemarin para anggota asrama bahasa mengikuti lomba speech dan khitobah di Aula Mini Asrama Bahasa.

Menurut Susilowati, Kepala Daerah Asrama Bahasa sebenarnya lomba Speech & Khitobah ini sudah dilaksanakan sebelumnya, berhubung dari IAI Ibrahimy mengadakan kegiatan Bakti Sosial (Baksos), jadi bagi sebagian mahasiswi yang berdomisili di Asrama Bahasa bisa mengikuti Lomba Khitobah & Speech Contest pada Malam Senin kemarin. Selain Lomba Khitobah & Speech Contest, anggota Asrama Bahasa pun diwajibkan mengikuti Lomba Gymnastic (Senam), Cerdas Cermat, Vocabulary & Mufrodat, Lomba Yel-Yel Kamar dan pemilihan Language Award (LA).

Rencananya, setelah Lomba Khitobah & Speech Contest akan dipilih sebanyak 30 orang Finalist untuk mengikuti Lomba itu. Kemudian dipilih menjadi pemenang terbaik. Baru setelah itu, pemilihan Miss Asrama Bahasa yang lebih dikenal dengan sebutan “Languange Award (LA)”

Para pengurus Asrama Bahasa juga terfokus pada rapat yudisium, LPJ Kegiatan Asrama Bahasa selama 1 periode, dan Pelantikan Pengurus Baru Asrama Bahasa dihelat terakhir sebagai penutupan.(She)

Selengkapnya...

Wasiat Kiai As'ad

Pengurus-Alumni Harus Saling Mengisi

“Saya sangat mengharapkan, agar pengurus pesantren dan para alumni selalu saling melengkapi --khususnya tentang pemeliharaan akhlakul karimah-- baik di dalam pesantren apalagi di luar pesantren. Mengapa saya menekankan hal ini? Karena para alumni masa belajar di pondok ini tidak sama! Ada yang baru dua tahun berhenti, ada yang tiga tahun dan sebagainya. Demikian juga tingkat pendidikan tidak sama. Ada yang baru Ibtida'iyah, Tsanawiyah, Aliyah atau bahkan sudah kuliah.
Karena itu, pengetahuan mereka tentu berbeda. Terutama pengetahuan mereka mengenai kepesantrenan. Apalagi bila seorang santri telah meninggalkan pesantren, ia lupa tradisi pesantren, kecuali mereka yang sering berkunjung ke pesantren ini. Kalian diharapkan saling melengkapi, saling mengisi kekurangan yang satu dengan yang lain…”

Demikianlah pesan KHR. As’ad Syamsul Arifin kepada para alumni Pondok Sukorejo, sebagaimana dalam buku “Percik-percik Pemikiran Kiai Salaf”. Walaupun peran alumni dan pengurus pesantren berbeda --karena perbedaan posisi dan keberadaan-- tapi mereka harus saling mengisi. Ibarat seekor burung, alumni dan pengurus pesantren merupakan kedua sayap. Seekor burung akan bisa terbang tinggi bila kedua sayap tersebut berjalan seiring sekata.
Nah, untuk mempererat jalinan alumni dan pengurus pesantren, maka dibentuklah Ikatan Santri Alumni Salafiyah Syafi’iyah (Iksass). Iksass berfungsi sebagai wadah silaturrahim alumni dan pengurus pesantren. Dan pada malam Ahad ini, terdapat momen besar bagi alumni. Yaitu reuni alumni dan pelantikan pengurus Iksass. Selamat melaksanakan Reuni Alumni.


Membaca Al-Qur’an

“Saya berharap, kalian bisa membaca Al-Qur’an dengan baik. Mengapa? Agar di dada kalian terdapat Al-Qur’an. Sebab salah satu tanda orang yang benar-benar beriman adalah di dadanya terdapat Al-Qur’an. Lantas bagaimana jika di dada kalian tidak terdapat Al-Qur’an? Apakah kalian benar-benar dikatakan beriman?”

Begitulah dawuh Kiai As’ad, sebagaimana dalam buku ”Percik-percik Pemikiran Kiai Salaf”. Memang ibadah yang paling utama adalah membaca Al-Qur’an. Karena itu marilah kita memperbanyak membaca Al-Qur’an, baik sendirian maupun berjamaah. Kanjeng Nabi pernah bersabda bahwa; tatkala terdapat jamaah yang berkumpul di suatu tempat, di rumah Allah (masjid dan mushalla) seyogyanya membaca Al-Qur’an dan mengadakan tadzarus --bergantian membaca; yang satu membaca sedang yang lainnya mendengarkan atau membetulkan bacaan Al-Qur’an, atau yang satu mengungkapkan maknanya sedangkan yang lain mendengarkan-- maka jamaah tersebut akan memperoleh ketenangan, mendapat rahmat yang berlimpah, akan dido’akan para malaikat, dan jamaah itu selalu disebut-sebut dan digolongkan kepada kalangan malaikat muqarrabin, malaikat yang dekat kepada Allah.
Marilah kita buka kembali Al-Qur’an. Kita renungi maknanya dan kita amalkan isinya. Bukankah membaca Al-Qur’an sambil merenungi isinya termasuk obat penawar hati yang sedang resah? Marilah di kala kesibukan kita, kita luangkan waktu barang sepuluh menit untuk membaca Al-Qur’an. Akankah kita relakan jiwa kita tetap gelap tanpa siraman cahaya Ilahi, walau beberapa menit? (syamsul a hasan)


Pentingnya Tauhid

”Segala ilmu, yang sebelumnya tidak dijiwai ketauhidan, jangan diharap memuaskan hasilnya. Segala ilmu yang hinggap ke lubuk hati seseorang yang kosong tauhidnya, ilmu tersebut malah bisa mencelakakan orang tersebut. Namun kalau tauhidnya sudah melekat, ilmu tersebut akan bermanfaat dan barokah.”

Demikian, wasiat Kiai As’ad sebagaimana dalam buku ”Percik-percik Kiai Salaf”. Kiai As'ad menilai, kenakalan dan kebrutalan para pelajar disebabkan karena sistem pendidikan yang keliru. Pelajaran agama yang diterapkan di sekolah amat minim. Karena itu, jiwa mereka amat gersang. Ilmu tauhid, tidak terpatri di hati mereka. Padahal tauhid merupakan pondasi segala sesuatu. Dengan tauhid, seseorang tidak akan mudah goyah dan tertipu ekstasi keduniawian. (syamsul a hasan)
Selengkapnya...

Dakwah Kunjungi Pusat Kesehatan Jiwa Banyuwangi


Fakultas Dakwah, Jum’at kemarin studi banding ke Pusat Kesehatan Jiwa Masyarakat dan Klinik Ketergantungan Obat (PKJM) Banyuwangi. Studi Banding tersebut dilakukan untuk menambah wawasan dalam ilmu psikoterapi dan melihat dari dekat pasien gangguan jiwa di PKJM Banyuwangi.

Menurut ketua panitia, Rindayanti, kegiatan tersebut dilakukan untuk mempertajam mahasiswa dalam mempraktikkan matakuliah Patalogi Sosial, Psikoterapi, dan beberapa matakuliah dalam jurusan Bimbingan dan penyuluhan Islam (BPI). Di samping itu, untuk menindaklanjuti Diklat “Bimbingan dan Konseling dengan Study Approach”. Materi Diklat tersebut adalah Rehabilitasi Narkoba, Konseling Perkawinan, Gangguan Kejiwaan, dan Teknik Terapy Kejiwaan.

Di PKJM Banyuwangi para mahasiswa mendapatkan pengalaman praktis tentang psikoterapi dari para pengelola PKJM. Bahkan para pengelola PKJM juga memberikan materi tentang Bimbingan Konseling dalam menghadapi anak-anak didik. Menurut Bu Sri, salah seorang pengelola PKJM, seorang konselor yang baik bukanlah orang yang mampu memberi solusi si pasien. Tapi ia harus mampu menggali potensi si pasien dan membimbing si pasien tersebut dalam mengatasi permasalahannya sendiri.

Setelah puas dialog dengan para pengelola PKJM, mahasiswa diajak untuk praktik interviuw BK dengan para pasien. Para mahasiswa dakwah melakukan wawancara langsung dengan para pasien yang mengidap gangguan jiwa.

Menurut Kasubang Kemahasiswaan Fakultas Dakwah, Yohandi, S.Sos.I, kunjungan ke PKJM dan beberapa tempat pengobatan kejiwaan tersebut rutin dilakukan mahasiswa Fakultas Dakwah jurusan BPI. Hal ini dilakukan agar mahasiswa BPI mempunyai kompetensi sesuai yang diharapkan Fakultas Dakwah. Karena kompetensi mahasiswa BPI adalah menguasai Konseling Islam dan Kesehatan Mental. Karena itu, matakuliah jurusan BPI antara lain: Psikologi Agama, Psikologi Kepribadian, Konseling dan Terapi, BP Agama, Konseling Perkawinan, dan Kesejahteraan Sosial.

Mahasiswa BPI juga dituntut menguasai Bimbingan dan Konseling di sekolah. Karena itu mereka mendapat matakuliah Bimbingan Konseling Sekolah dan Psikologi Belajar. Di samping itu, mahasiswa BPI juga mempunyai kompetensi dalam menerapkan teori-teori konseling kepada peserta didik. (sah)
Selengkapnya...

Makmur, Tuan Guru yang Selalu Menjaga Kebersihan

Di antara anggota keamanan pesantren yang terbilang sukses adalah Tuan Guru Lalu Makmur. Setelah pulang kampung, ia bergumulan dengan rakyat jelata dan membina mereka dalam sebuah majelis ta’lim. Ia juga menjadi PNS Kementerian Agama Kabupaten Lombok Tengah. Menjadi PNS ini, dalam pandangan orang Lombok, tergolong orang yang sukses. Tak hanya itu, ia sekarang meniti perjalanan menuju kursi bupati bumi Tatas Tuhu Trasna, dalam Pilbup 7 Juni nanti.

Padahal ketika nyantri di Pondok Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo dulu, Tuan Guru Makmur, termasuk santri biasa-biasa saja. Ia hanya anggota keamanan pesantren.

Namun ketika mondok, ia selalu menjaga kebersihan. Menurutnya kebersihan adalah hal yang paling disenangi Kiai As’ad. Dia juga berpendapat, dengan menjaga kebersihan di pesantren, berarti telah membuat kiai senang. Jika kiai telah senang, maka ilmu akan mudah masuk dan akan menjadi ilmu yang bermanfaat serta barokah.

Menurut Calon Bupati Lombok Tengah yang bernomor urut 3 ini, ada tiga macam kebersihan yang perlu dijaga oleh santri. Pertama, bersih pakaian. Dengan bersih pakaian ini santri akan terhindar dari berbagai macam penyakit.

Kedua, santri harus menjaga kebersihan tempat, baik tempat tidur, tempat belajar maupun tempat-tempat yang lain. Dan yang terakhir santri harus mampu menjaga kebershan makanan. Bersih makanan bukan berarti bersih dari kotoran saja, namun yang terpenting adalah makanan yang halal. Makanan yang halal inilah sebenarnya dinamakan makanan bersih. Oleh karena itu dia mengaku, selama masih nyantri di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah dia selalu berusaha menjaga kebersihan.

Selain itu juga, menurut Lalu Makmur, kunci keberhasilan yang lain adalah menghormati dan menghargai kepala kamar. Dia mengungkapakan bahwa, Kepala kamar adalah Wakil Pengasuh. Dengan menghormati Kepala Kamar, berarti santri tersebut sama artinya dengan menghormati Pengasuh dan para Ustadz yang lain.

Terkaiat dengan pencalonannya sebagai Bupati, dia berjanji akan selalu memperhatikan nasib kaum santri. Dia berjanji, jika nantinya terpilih, dia akan menyebarkan santri ke seluruh daerah Lombok untuk berdakwah. Menurutnya, pemerintah harus memiliki kebijakan-kebijakan yang menguntungkan kaum santri. Demi membuktikan perhatianya terhadap santri, tak tanggung-tanggung, jika mampu mengalahkan 9 pasangan calon bupati saat pemilihan nanti, dia berjanji kepada seluruh santri yang berasal dari Pulau Seribu Masjid, Lombok. Menjelang pulangan Ramdan nanti, ia akan menggratiskan biaya pulang santri. Bahkan seluruh santri akan disambut oleh orang tuanya masing-masing di Pendopo Bupati. (Habibul Adnan)
Selengkapnya...

Menyelaraskan Perkataan dan Perbuatan

Oleh : Yohandi, S.Sos.I

Mari kita coba memahami dakwah sebagai keseluruhan aktifitas amar ma’ruf nahy mungkar dalam spektrum yang lebih luas; yaitu meliputi dakwah bi al-hal (dengan keteladanan prilaku) dan bi al-lisan (pidato, ceramah, dll). Sedangkan keseluruhan aktifitas tersebut bermuara pada upaya untuk merealisasikan dan mewujudkan konsep-konsep Islami dalam segala sektor kehidupan manusia. Dengan demikian diharapkan akan tercapai tujuan akhir semua umat Islam “sa’ad fi al-dinya wa sa’ad fi al-akhirat” yakni kesejahteraan dan kebahagiaan hidup manusia, lahir batin, dunia akhirat yang diridloi Allah SWT.
Dalam hal ini kita juga bisa pahami bahwa tidak semua manusia bisa mencapai tujuan akhir tersebut. Oleh karenanya menurut Al-Ghazali, ada empat macam manusia berkaitan dengan pencapaain kualitas hidupnya.
Pertama, Sa’id fi al-dunya wa shaqiy fi al-akhirat (bahagia di dunian dan menderita di akhirat)
Kedua, Shaqiy fi al-dunya wa sa’id fil al-akhirat (menderita di dunia dan bahagia di khirat)
Ketiga, Syaqiy fi al-dunya wa syaqiy fi al-akhirat (menderita di dunia dan menderita di akhirat)
Keempat, sa’id fi al-dunya wa sa’id fi al-akhirat (bahagia di dunia dan bahagia di akhirat)
Oleh karena ini, maka sangat diharuskan adanya keseimbangan antara dakwah bi al-hal dengan dakwah bi al-lisan. Untuk menyebut landasan dari hal tersebut banyak disebutkan di dalam al-qur’an dan hadits nabi.(QS. Al-Saf/61:3, QS. Al-Baqarah/2:4). Keseimbangan antara perbuatan dan perkataan inilah menjadikan perjuangan Nabi Muhammad SAW serta para sahabatnya berhasil sehingga Islam bisa kita rasakan sampai saat ini.
Para da’i mestinya memahami hal tersebut, apalagi dengan perkembangan saat ini banyak tantangan dan sesuatu yang mestinya dilakukan. Dalam konteks dakwah profesional seharusnya dakwah dapat dipahami secara lebih luas. Dakwah bukan hanya sekedar ceramah agama saja, dengan songkok dan sorban dikalungkan, yang dilakukan dengan pidato di atas panggung, ataupun dilayar kaca (TV), datang di acara besar lalu pidato dengan gagah, setelah itu tidak ada koreksi sama sekali. Apakah dakwah semacam ini yang cukup marak dewasa ini dikatakan sebagai dakwah profesioanal...? sebab, bila dilihat dari segi menejemen dakwah jelas belum sesuai, walaupun dakwah semacam ini punya tujuan yang sama.
Dakwah seharusnya dipahami sebagai aktifitas yang melibatkan proses tahawwul wa al-taghayyur (transformasi dan perubahan), yang berarti sangat terkait dengan upaya rekayasa dan perubahan sosial kemasyarakatan. Sasaran utama dakwah adalah terciptanya suatu tatanan sosial yang di dalamnya hidup sekelompok manusia dengan penuh kedamaian, keadilan, keharmonisan di antara keragaman yang ada dan mencerminkan misi Islam sebagai agama ramatan lil a’lamin...
Metode dan proses yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya hendaknya menjadi acuan dasar untuk menjalankan kewajiban kita sebagai khalifah fi al-ardli yang mempunyai tugas untuk menciptakan kesejahteraan dimuka bumi ini. Bukan menjadikan proses dakwah sebagai jalan untuk mendapatkan ketenaran dan kekayaan. Berapa banyak warga miskin disekitar rumah para da’i dengan bangunan yang mentereng. Berapa banyak umat islam yang mati kelaparan sementara da’i-da’inya menikmati makanan dan mobil mewah. Belum lagi kita berbicara berapa banyak da’i yang mengevaluasi dan mengoreksi tingkat keberhasilan dakwah mereka, kalau tidak, berarti bagian dari unsur dakwah telah hilang yakni Efek dan Follow-Up nya.
Ulama’ Ahli hikmah juga mengatakan bahwa “Lisanul al-hal afshah min lisannil maqal” maksudnya adalah bahwa berdakwah dengan keteladanan sikap lebih mengena pada sasaran dari pada hanya sekedar berpidato atau ceramah. Masyarakat kita sekarang ini butuh bukti bukan hanya sekedar orasi. Oleh karena itu konsep Al-Tawazzun (kesimbangan) dalam menjalankan proses dakwah adalah hal yang tidak bisa di tawar-tawar. Perbuatan dan perkataan haruslah selaras dan seirama, se iya dan se kata.
Selengkapnya...

Brosur Santri Baru

Jumlah Pengunjung

Website counter
 

Tamu Pesantren

Mubes Iksass VIII di Jember

Tamu Pesantren

Powered by Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah