Kewajiban Menjaga Kesehatan

”Kesehatan tercipta, karena adanya kebersihan. Kalau sehat tergolong fardlu ain --kewajiban individual-- maka menjaga kesehatan badan pun termasuk fardlu ain pula. Dengan demikian, kebersihan pun tergolong wajib pula hukumnya”.

Begitulah dawuh Kiai As’ad, sebagaimana dalam buku ”Percik-percik Pemikiran Kiai Salaf”. Kiai As'ad amat menekankan kebersihan kepada para santri. Hadits "Annadhafah min al-iman, kebersihan termasuk sebagian dari iman"; harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, tidak sekedar slogan dan penghias dinding belaka. Dalam pandangan Kiai As'ad, kebersihan tergolong fardhu 'ain. Mengapa? Karena kebersihan merupakan pangkal kesehatan. Dan tugas pertama orang yang menuntut ilmu adalah menjaga kesehatan. Karena itu --dalam pandangan beliau-- kiai wajib mendirikan Puskesmas. (sah)
Selengkapnya...

Kisah Hodri, Alumni yang Menjadi Hakim


Santri Biasa yang Aktif di Organisasi


Hodri, salah seorang santri Sukorejo, terbilang bernasib baik. Setelah lulus Fakultas Syari’ah, ia mencoba mengadu nasib menjadi hakim. Ternyata, diterima. Sekarang ia bertugas di Pengadilan Agama Ketapang Kalimantan. Berikut penuturannya kepada Salaf:

Layaknya orang kebanyakan, saya juga ketika telah resmi menjadi salah satu wisudawan Institut Agama Islam Ibrahimy Sukorejo Situbondo merasa bingung dan sedikit skeptis dengan gelar dan predikat kesarjanahan S1 Syari’ah yang saya tempuh kurang lebih 4 tahun lamanya.

Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo populer dengan pesantren yang sarat dengan nuansa barokah, itu yang -paling tidak- harus bisa dibuktikan oleh jebolan alumnus salafi tercinta ini ketika sudah pulang ke kampung halaman.

Selama di pondok saya tergolong santri yang biasa, layaknya santri yang lain, saya tidak termasuk kutu buku yang selalu bergelut dengan berbagai kitab atau referensi dan pula saya tidak tergolong orang yang study oriented, dengan segudang prestasi.

Namun demikian, sebagai seorang santri yang masuk pesantren pada tahun 1999 silam, dan menjadi mahasiswa di Fakultas Syari’ah jurusan mu’amalah pada tahun 2002 dituntut untuk beradaptasi dengan kultur dan budaya pesantren, serta mematuhi segala tata tertib dan aturan pesantren. Selama Mahasiswa, sejak awal saya memilih bergelut dengan dunia organisasi, baik di BEM atau di IKSASS, sehingga porsi untuk belajar secara intens mungkin terbagi dengan kesibukan organisasi. Meski tak banyak andil dan kontribusi terhadap pesantren, pada tahun 2004 saya dipercaya untuk menjadi Presiden BEM-FS yang kemudian setelah itu dipercaya juga untuk menjadi Sekum PP. IKSASS

Pada akhir Desember 2006 secara riil saya meninggalkan pesantren tercinta (kurang lebih 7 tahun di Pesantren), belum punya asa dan tujuan yang jelas. Ternyata benar, sesampainya dikampung halaman, hanya rasa kalut yang menyelimuti diri. Namun saya tetap berusaha untuk tegar dan optimis, karena satu keyakinan saya bahwa pondok pesantren salafiyah syafi’iyah adalah pesantren yang memiliki dimensi perbedaan dengan pesantren lain, yakni aroma barokah yang menjadi ciri khasnya.

Saya memaknai barokah bukan pada tataran pasif, barokah itu bisa kita raih apabila ada sikap dan tindakan yang pro aktif, bukan hanya menunggu sembari berpangku tangan. Oleh karena itu, sepekan ada dirumah, tanpa sepengetahuan orang lain, -bahkan orang tua saya sendiri- saya memberanikan diri untuk melayangkan surat lamaran (untuk mengabdikan diri pada Negara) ke Pengadilan Agama Negara Bali, yang kebetulan letak kantornya hanya berkisar 500 m dari rumah saya, kalau nantinya saya diterima, paling tidak bisa menyelamatkan status sebagai sarjana dengan membawa nama besar Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah.

Kala itu tanggal 3 Januari 2007, dengan wajah penuh harap, saya langsung menuju bagian umum PA. Negara, meski dengan sedikit rasa malu, akan tetapi saya selalu mencoba untuk tenang, “ah dulu dipondok juga sering keluar masuk birokrasi, ngajukan proposal cari dana kegiatan organisasi, kenapa harus malu”, gumam saya seraya menghibur diri.

Ketika surat sudah resmi masuk dan telah berdisposisi, saya diperkenankan untuk meninggalkan ruang kerja bag. Umum yang waktu itu saya diterima langsung oleh Kaur Umumnya untuk menunggu kabar selanjutnya.

Setiba dirumah, perasaan tak menentu masih menggelayuti hati, namun rasa optimis masih tetap terpatri, masih lekat dalam ingatan saya pesan para ustadz waktu duduk di bangku kelas IV MISSPa, bahwa dengan “keyakinan” kuat, insya Allah kita dapat meraih apa yang kita impikan, “Kullu man lam ya’taqid, lam yantafi’, “ tutur ustadz kala itu sambil memperlihatkan Nadzam Imrithy dan Nazdam Maqsud.

Gayung bersambut, beberapa hari kemudian, telephone rumah berdering dan perasaan berkata “ini telephone dari PA”, ternyata betul, saya di panggil Ketua Pengadilan Agama Negara untuk menghadap pada hari jum’at tanggal tanggal 5 Januari 2007. (Bersambung)
Selengkapnya...

Doktrin yang Tak Mendidik (Refleksi Pasca Pilbup Situbondo)

Oleh: Ihsan Basri

Adalah suatu hal yang wajar, apabila sampai pada hari ini umat Islam di Situbondo masih bertengkar mempermasalahkan status Pemilukada yang dihelat 22 Juni lalu. Dalam proses pemilukada tersebut memang ditengarai banyak kecurangan dan design persaingan tidak sehat yang mencederai dan melukai keabsahan keberlangsungan Pemilukada .
Dari berbagai kalangan menjustifikasi bahwa kebenaran adalah mutlak milik kelompok dan golongan masing-masing, diluar itu salah dan sesat. Tapi yang perlu dilakukan oleh masyarakat adalah melakukan skala perbandingan sehingga menemukan titik ketimpangan dari golongan-golongan yang merasa benar. Karena dunia ini selalu dihuni oleh dua dimensi kekuatan hitam dan putih. Salah dan benar. Jahat dan baik.
Masyarakat pasti bertanya-tanya, lalu sampai seberapa jauh Situbondo akan dibawa kepada pertarungan panjang yang melelahkan ini? Haruskah fanatisme dan kebutaan pemikiran senantiasa melingkupi hati kita? Sehingga kita harus menjadi bulanan semata mencemari kesucian roh, dan mencampakkan kebenaran dengan cara doktrin pembelaan diri? Diberbagai tempat, masyarakat kita memang masih sangat patnerlistik, tapi di tempat yang lain cara berpikir masyarakat sudah mengalami perubahan dari pola pikir bersifat konserfativisme menuju rasionalisme. Hai ini disebabkan karena tingkat pendidikan masyarakat sudah mengalami kemajuan, sehingga sesuatu yang bersifat supra rasional dan sulit dijangkau akan ditolak.
Pendewasaan politik terhadap masyarakat tidak selayaknya dilakukan dengan cara anarkis apalagi dengan menyodorkan janji akhirat, dimana tidak satupun insan di bumi Situbondo ini mengetauhi terhadap warna surga beserta gemerlap keindahannya secara empirik. Penulis bukan tidak mau percaya gaib dan kemungkinan, tapi penulis hanya ingin mencoba mengklarifikasi melalui jalan syariat, bukan thorikat. Sehingga untuk mengidentifikasi salah dan benar adalah aturan norma atau hukum syariat. Jabatan bukanlah tujuan, melainkan sarana. Oleh karena jabatan merupakan sarana, maka pergunakanlah dengan baik agar tujuan bisa diraih dengan sempurna. Proses yang mesti dilaluipun harus bersih tanpa noda hitam. Meminjam bahasa KH. Afifuddin Muhajir “jika yang putih benar-benar putih maka yang putih akan menang”.
Jumlah elektabilitas suara bukanlah satu-satunya refrence kemenangan dalam ajang pemilu, karena istilah menang ketika ditarik pada kondisi riil dalam konteks pemilu, maka menang dapat dipahami dalam dua tafsir. Pertama kemenangan yang bersifat substantive. Dan Kedua kemenangan yang bersifat normative. Menang secara normative adalah kemenngan yang mendapatkan elektabilits suara terbanyak dan ditetapkan oleh KPU berdasarkan penghitungan manual. Sementara menang secara substantive adalah kemenangan yang sifatnya hakiki. Ia bisa saja kalah tapi pada esensinya menang.
Dikutip dari fatwa KH. Ach. Fawaid As’ad dalam pertemuan rutin dengan kepala kamar di Aula Putra “Pemilu apapun bagi saya adalah perlombaan, pertandingan. Ada kalah ada menang. Kalian tidak perlu memikirkan saya, apakah saya sedih atau menangis. Saya tidak sedih dan menangis karena kalah dalam pemilihan, melainkan yang saya tangisi adalah karena saya telah merasa kalah dalam membina ummat”.
Menurut beliau, ada banyak bentuk kecurangan dalam peilukada Situbondo, di antaranya adalah tindakan struktural secara massif dilakukan, maraknya money politik dan intervensi pemerintah setempat. Dan yang paling beliau sesalkan adalah Situbondo sebagai kota santri telah terkontaminasi dengan hal-hal yang berbau materi. Masyarakat mulai berpikir pragmatis dan materialistis. Intervensi itu bisa melalui power sharing (pembagian kekuasaan), finance (keuangan), black mail (ancaman), dan devide at impera (politik pecah belah).
Arah demokrasi di Situbondo sudah mulai hilang. Liberal democracy yang dianut oleh Negara kita tidak dibentengi dengan sistem yang baik. Money politik telah menjadi komsumsi pokok empat tahunan masyarakat. Anehnya, doktrin ukhrawi dengan masuk surga itu disampaikan sambil lalu menjalankan money politik.
Pendek kata, mereka yang melukai dan mencederai keabsahan proses pemilukada berarti hanya menginginkan dan mengejar jabatan dengan menghalalkan segala cara. Sebaliknya mereka yang berani menyuarakan kebenaran berarti menginginkan penataan kehidupan masyarakat lebih bak (better ordering of society).
Perbedaan adalah suatu hal yang wajar, tapi perbedaan seharusnya tidak dijadikan sekat dalam mengembangkan rasa kebersaudaraan.

(Pemimpin Redaksi Majalah Adiras)
Selengkapnya...

Pesantren Sukorejo Dibidik Indosiar

PT Indosiar Visual Mandiri, sebuah stasiun telivisi nasional baru-baru ini memilih Pesantren Sukorejo sebagai pesantren yang berprestasi. Selama 2 hari berturut-turut, mulai 19 hingga Indosiar akan mengadakan liputan ke pesantren asuhan KHR. Ach. Fawaid itu. Mereka akan membidik profil pesantren dan berbagai macam kegiatan santri, baik di luar maupun di dalam kelas. Demikian juga dengan ibadah keseharian santri. Pihak Indosiar juga akan membidik arsitektur bangunan pesantren serta akan mewawancarai sejumlah pimpinan dan pengurus ma’had.

Djoko Sulistyono, Produser kegiatan mengatakan, pihaknya akan menayangkan hasil liputan itu dalam program “Muhibah Pesantren”. Penayangannya akan dilakukan selama bulan Ramadlan mendatang. Dengan demikian dia berharap, agar masyarakat luas dapat mengenal pesantren Sukorejo. Sehingga nantinya, para orang tua akan lebih mempercayai pesantren untuk menitipkan putra-putri mereka. Dalam hal itu, beberapa Santri Salafiyah Syafiiyah yang berprestasi dan mempunyai kemampuan bercerita dipercaya menjadi presenter acara dalam tayangan itu.

Sementara itu, untuk mempersiapkan hal itu, Kabag Humas P2S2, Drs. Hasan Fauzi Alco, M. PdI, Malam Jumat kemarin mengumpulkan beberapa pengurus pesantren. Hadir dalam rapat yang bertempat di ruang Sekretaris Pesantren itu, Kabag Kepesantrenan, M. Sholeh Az-Zahrah, KTU Bidang Usaha, Jauhari Yasin, S. Ag., Kasubag Ubudiyah, Kabag Pendidikan Non Formal, Kabag Pendidikan Agama, Kasubag Ekspos dan Penerbitan serta Kasubag Protokoler.

Sekedar diketahui, Indosiar adalah salah satu stasiun televisi swasta nasional di Indonesia. Stasiun televisi ini beroperasi dari Daan Mogot, Jakarta Barat pertama mulai sejak tahun 1994. Indosiar didirikan dan dikuasai oleh Grup Salim melalui PT Indosiar Karya Media Tbk yang tercatat di Bursa Efek Jakarta, Diresmikan sejak tanggal 1 Januari 1995 di Jakarta, Kemudian dipindahkan dan diresmikan peluncurannya sejak tanggal 11 Januari 1995 di Jakarta.

Dalam siarannya, Indosiar banyak menekankan kebudayaan. Salah satu program kebudayaan yang selalu ditayangkan adalah acara pertunjukan wayang pada malam minggu. (C12)
Selengkapnya...

Iksass Pusat Adakan TOR

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan Ramadhan, mulai pada Hari Kamis sampai Hari Jum’at ini, Pengurus Iksass Pusat mengadakan kegiatan Training of Ramadhan (TOR). Menurut Ketua Panitai kegiatan, Arif Rahman, kegiatan itu dikhususkan kepada panitia inti Ramadhan yang meliputi Ketua, Sekertaris dan Bendahara Panitia. Adapun materi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut adalah Tehnik Lobi dan Negosaisi, Tehnik Pelaporan, Tehnik Penggalian Dana dan Tehnik Mobilisasi.

Menurut Ketua Umum Iksass Pusat, Moh. Syafii, S. PdI, kegiatan TOR itu bertujuan memberikan pembekalan kepada semua Panitia Ramadhan. Menurutnya, jika panitia tidak dibekali terlebih dahulu, dikahawatirkan mereka tidak bias melakukan kegiatan sebagaimana mestinya.

Sementara itu pada tanggal 24 Juli mendatang, Pusat Iksass mengagendakan Orientasi Pengenalan Pesantren (OP2) tahap pertama
Selengkapnya...

OSIS SMP 1 Ibrahimy Briefing Siswa

Orientasi Siswa Baru Ibrahimy (OBSI) telah dilaksanakan oleh OSIS SMP Ibrahimy Putri. Kegiatan yang berlangsung mulai Hari Minggu itu berakhir Malam Rabu kemarin. Seperti biasa, kegiatan itu diisi dengan penyampaian materi, diantaranya materi tentang Tatakrama siswa oleh Muzaiyana, S.Ag, peraturan pesantren oleh Haliyatun Nisa’, S.Ag, Pengembangan diri oleh Dra. Zumrotun Nisa’, Program dan Cara Belajar oleh Siti Nur Aisyah, S.Ag serta Wawasan Wiyata Mandala dengan nara sumber oleh Rukniya, S.Ag.

Ketua Panitia, Amelia Dwi Imanda menjelaskan, untuk puncak acara bertempat di halaman sekolah selatan. Dalam acara itu diisi dengan renungan malam serta pengumuman Peserta The Best Ten.
Semetara itu SMP Ibrahimy 1 Putra juga menggelar acara serupa. Acara itu digelar selama tiga hari mulai Hari Sabtu sampai dengan Hari Senin kemarin. Menurut, Ketua Panitia Kegiatan, Muhammad Ali Mudhari, kegiatan tersebut wajib diikuti oleh seluruh siswa baru SMP Ibrahimy 1. Menurutnya, dalam kegiatan yang diberi nama OSBI itu terdapat rangkaian kegiatan yang akan menambah wawasan berfikir siswa baru, dari cara berfikir anak-anak beralih ke remaja.
Dalam kegiatan itu juga diagendakan kegiatan game edukatif. Kegiatan itu bertujuan mempererat tali persahabatan dan solidaritas antar siswa baru. Titik tekannya adalah kebersamaan, dan tentunya saling kerja sama. Kepala Sekolah SMP Ibarahimy 1, Umar Hasan, M.Pd.I, dalam sambutannya mengharap, agar momentum itu dijadikan langkah awal yang baik. Beliau juga menghimbau kepada pegurus OSIS SMP Ibarahimy, agar dalam kegiatan tersebut, jangan sampai dijadikan sampai terjadi kekerasan dan sebagai alat untuk mempermainkan siswa baru. Harus lebih terfokus ke pengenalan lembaga. (Sudarsono Alhas/Syifa Fajriyah)
Selengkapnya...

Fakultas Ujian, Akademi PKL

Mulai Hari Senin kemarin, mahasiswi IAII menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS) semester genap. Sebagaimana biasa masing-masing fakultas tidak serempak mengakhiri waktu ujiannya. Untuk Fakultas Syari’ah pada Hari Kamis kemarin mengakhirkan ujiannya Sedangkan Fakultas Dakwah tepat pada Hari Minggu mengakhiri ujian. Fakultas Tarbiyah mengakhiri ujian paling akhir yakni pada Hari Senin kemarin. Berdasarkan penuturan dari masing-masing staff dilingkungan IAII Putri, peserta UAS mahasiswa Fakultas Syari’ah berjumlah 41 peserta, Fakultas Dakwah sebanyak 28 orang sedangkan peserta UAS paling banyak adalah Fakultas Tarbiyah yang berjumlah 159 orang.

Sementara itu, pada Hari Senin kemarin Akademi Manajemen Informatika dan Komputer Ibrahimy (AMIKI) memberangkatkan peserta Praktek Kerja Lapangan (PKL). Terlebih dahulu mereka mengikuti pelepasan oleh direktur AMIKI. Para peserta PKL disebarkan ke berbagai Instansi di daerah Situbondo, salah satunya di Radio Bhasa FM, Dinas Koperasi, Dinas Kependudukan, Dinas Pendidikan, Dinas Cipta Karya, BKD dan KPU Situbondo. Kegiatan itu akan berakhir pada tanggal 09 Agustus mendatang.(She)
Selengkapnya...

Brosur Santri Baru

Jumlah Pengunjung

Website counter
 

Tamu Pesantren

Mubes Iksass VIII di Jember

Tamu Pesantren

Powered by Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah