L a m i s

Oleh : Shaleh Az-Zahra

Lamis adalah istilah dari bahasa Madura untuk orang yang suka minta-minta. Termasuk perbuatan lamis adalah mengintip atau mondar-mandir di depan orang yang sedang makan dan semacamnya dengan maksud agar ditawari atau diberi makanan yang ada. Lamis pada biasanya dilakukan oleh anak-anak kecil yang masih belum baligh dan belum sempurna akalnya, orang-orang miskin dan orang-orang bodoh/idiot, namun kenyataannya hal ini seringkali kita saksikan di sekitar kita, lamis tidak lagi dimonopoli oleh mereka melainkan juga dilakukan oleh orang-orang dewasa, orang-orang yang ekonominya berkecukupan dan orang-orang yang berpendidikan, hanya cara dan gayanya saja yang berbeda.

Bagi orang-orang yang terbiasa berbuat lamis, maka akan selalu mengintip dan memanfaatkan milik orang lain daripada miliknya sendiri. Rokok umpamanya, mereka lebih suka merokok milik orang lain daripada miliknya sendiri yang selalu tersimpan rapi di sakunya dengan dalih dalam rangka pengiritan atau mengurangi anggaran rumah tangga (pribadinya). Dalam sebuah organisasi ketika mareka hendak mengadakan kegiatan, mereka lebih suka meminta sumbangan dengan membuat project proposal dan semacamnya padahal anggarannya sudah ada dan cukup. Mereka melakukan itu semua karena lamis sudah menjadi tabiat dan menjadi kenikmatan tersendiri. Apabila perbuatan lamis ini dilakukan oleh santri maka sungguh sangat bertentangan dengan dawuh luhur al-marhum al-maghfurlah KHR. As’ad Syamsul Arifin yang dalam sebuah kesempatan pernah mewanti-wanti santrinya agar tidak melakukan perbuatan lamis.

Lamis adalah termasuk al-akhlaqul madzmuumah (perbuatan/tingkah laku yang tercela), karena disamping menghinakan diri juga mencoreng arang di mukanya sendiri. Nabi kita, Nabi Muhammad SAW. menganjurkan kita agar membiasakan diri untuk tidak bermental pengemis. Dalam sebuah hadits diceritakan, ada seorang laki-laki dari golongan Anshar datang menghadap Nabi. Dia mengiba agar Nabi memberinya sesuatu untuk dibuat makan. Beliau bertanya, “memangnya, kamu tidak mempunyai sesuatu di rumah?”. Laki-laki tersebut menjawab, “tentu saja ada, wahai Rasulallah. Di rumah saya mempunyai sehelai kain yang sebagian saya pakai dan sebagian yang lain saya hamparkan serta sebuah ember/gelas besar tempat saya minum”. Nabi kemudian menyuruhnya pulang untuk mengambil dan membawa barang-barang itu kepada beliau. Lalu, laki-laki tersebut segera beranjak pulang untuk mengambil dan membawa barang-barangnya kepada Nabi. Kemudian Nabi menawarkan barang-barang tersebut kepada orang-orang yang ada di sekitar beliau. Seorang laki-laki menawar, “saya sanggup dengan harga satu dirham”. Nabi menawarkan lagi kepada yang lain, “siapa yang akan menambah lebih dari satu dirham?”. Laki-laki lain menawar, “aku berani dengan harga dua dirham”. Nabi kemudian memberikan dua barang tersebut kepada penawar terakhir dan mengambil dua dirham itu, lalu memberikannya kepada laki-laki Anshar tersebut, seraya bersabda : “belikan makanan dengan salah satu dari dua dirham ini, lalu berikan kepada keluargamu, dan yang satu dirham kamu belikan sebuah kapak kemudian bawalah kapak itu kepadaku.” Laki-laki Anshar tersebut kemudian bergegas melakukan semua yang diperintahkan oleh Nabi dan segera menyerahkan kapak yang baru dibelinya kepada Nabi. Setelah itu, Nabi memberikan pegangan kapaknya, lalu bersabda : “pergi dan carilah kayu bakar, kemudian juallah. Aku tidak ingin melihatmu selama lima belas hari kedepan”. Setelah mengerjakan perintah Nabi selama lima belas hari, datanglah laki-laki Anshar itu dengan membawa sepuluh dirham, kemudian membeli makanan dengan sebagian dari uang itu. Nabi bersabda : “ini lebih baik daripada kamu suka meminta-minta, karena hal itu hanya akan menjadikan noda di wajahmu pada hari kiamat kelak”.

Buah hikmah yang dapat kita petik dari hadits Nabi tersebut adalah : pertama, bahwa lamis dapat melemahkan kegigihan kita menghadapi hidup ini. Kedua, bahwa lamis akan membentuk jiwa kita kerdil, mudah merengek-rengek dan cengeng, sebuah sifat yang sulit bagi seseorang untuk dapat hidup mandiri. Ketiga, isilah perut kita dari hasil keringat kita sendiri dengan tidak berbuat lamis.

Selanjutnya, beranikah kita mulai hari ini, tidak lagi berbuat lamis?! Mudah-mudahan rasa malu itu masih menggelayut dan setia menemani kita karena malu adalah termasuk sebagian dari iman. Wallahu a’lam.
Selengkapnya...

Panitia Maulid Rapatkan Barisan

Perayaan Maulid Nabi sudah diambang pintu. Kali ini Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah akan merayakan kelahiran Rosul tanggal 27 Pebruari 2010, artinya perayaan rutin itu akan digelar sehari dari biasanya. Namun demikian, Malam Rabu kemarin, Panitia Maulid Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah melakukan pertemuan. Dalam rapat yang bertempat di Kantor Pusat Pesantren itu membahas beberapa permasalahan yang terkait dengan perayaan Maulid.

Yang menjadi pokok pembahasan yang paling mendesak mengenai perlombaan. Menurut rencana perlombaan Malulid akan dibuka pada tanggal 08 Pebruari mendatang. Menurut rencana pembukaan perlombaan umum dan Musabaqoh Tilawatil Quran akan dibersamakan. Ketua Panitia Maulid Nabi, M. Shaleh Az-Zahrah, S. Ag. mengharapkan, agar perlombaan kali benar-benar merata, dalam artian tidak hanya didominasi oleh madrasah saja. Karena saat ini, khususnya perlombaan umum terkesan didominasi oleh madrasah saja, buktinya perlombaan yang digelar berkutat di perlombaan kitab dan cerdas cermat yang pelajarannya dari madrasah bukan sekolah.

Selain itu, kegiatan hajian pra acara Maulid Nabi juga turut dibahas. Menurut Koordinator Hajian, Thohir Qulubana, pelaksanaan hajian yang rutin dilakukan setiap tahun kali ini akan diformat berbeda dengan tahun sebelumnya. Kali ini peserta akan dibedakan dengan daerah asal asrama masing-masing. Nantinya akan ada sekitar 10 kelompok. 9 kelompok dari asrama pusat dan asrama cabang ada 1 kelompok saja.

Penting untuk diketahui, rangkaian Maulid kali sama dengan tahun yang lalu, dialog wali santri, pengurus pesantren dan pengasuh akan dilaksanakan setelah Shalat Jum’at tepatnya tanggal 26 Pebruari 2010. Sedangkan Malam harinya akan diselenggrakan peringatan Maulid Nabi untuk santri. Khusus santri putra akan terselenggara di Aula Putra dengan penceramah Habib Hasyim Kamal dari Banyuwangi. Sedangkan santri putri bertempat di Kompleks Putri dengan penceramah KH. Abdullah Syamsul Arifin.

Puncak perayaan Maulid akan terselenggara pada tanggal 27 Pebruari 2010. Hadir sebagai penceramah Dr. Imam Mawardi, Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirajd dan Menteri Agama RI, Drs. Surya Dharma Ali, MSI. (C12)
Selengkapnya...

Maling

Oleh: M. Hilmy Hidayatullah
“Maleng! Maleng! Maleng!” kiai sepuh teriak maling di suatu sore menjelang maghrib.
Memang, sejak beberapa hari yang lalu, kiai sepuh selalu teriak maling. Padahal rumah beliau aman-aman saja. Beberapa kali Lora Rahman, putra kiai sepuh, menyuruh beberapa santri dalem memeriksa barang yang hilang. Tapi hasilnya nihil. Bahkan tanpa sepengetahuan kiai sepuh dan santrinya Lora Hasan mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada ayah beliau itu. Kadang-kadang Lora Hasan mengintip, mengendus, dan menyelidiki rumahnya. Tidak ada seorang pun yang mencurigakan masuk ke rumahnya. Tak mungkin ada maling! Lalu sesaat kemudian,
“Maleng! Maleng! Bedhe maleng se detengnga.” kiai sepuh teriak maling lagi.
*

“Beremma abah, Fit?”
“Hmmhhhh…,” Fitri hanya melepaskan nafasnya yang berat. “Kule bi’ empian pera’ bisa adu’a bhei, Kak. Mandhere Abah dhuli sehat,”
Lora Hasan melihat wajah abahnya yang terbaring lemas di atas tempat tidur. Dia teringat kembali ketika abahnya mengaji kitab Ta’lim Al-Muta’allim sebulan lalu. Namun penyakit yang mulai mengisi hari-hari beliau memaksa beliau berhenti menginjak lantai mushalla lagi.
“Ala laa tanalul ‘ilma illa bi sittatin…”
Kata-kata itu masih belum hilang dari ingatan Lora Hasan. Sebulan lalu ia rasa setahun lamanya. Lora Hasan sangat merindukan suara abahnya yang penuh kharisma. Begitu pula para santrinya yang mulai resah seiring berkurangnya kesehatan kiai sepuh.
Semula sakit yang diderita kiai sepuh adalah sakit kepala biasa. Tapi semakin hari penyakit beliau semakin parah. Beberapa hari ini beliau sering mengigau tentang maling. Bahkan kadang beliau juga teriak dan teriakan itu sampai ke kamarku yang berjarak kurang lebih 20 meter dari kediaman kiai sepuh.
Setiap malam para santri diminta mengaji di pendopo, berharap semoga kiai sepuh lekas sembuh. Lora Hasan juga meminta tolong kepada beberapa santri senior untuk berjaga-jaga, takut-takut kalau maling itu benar-benar datang. Tapi hasilnya nihil. Walaupun setiap malam para santri lembur menjaga pendopo, tapi mereka tak sekali pun melihat batang hidung maling itu.
Malam itu adalah malam yang mencekam buatku. Malam gelap tak ada cahaya. Hanya ditemani lampu strongking yang berdansa diterpa angin, seakan dia berbisik di telingaku untuk tetap membuka mata. Aku pun berusaha untuk tak memejamkan mataku sebab beberapa temanku yang juga punya giliran jaga sudah tak kuat menahan kantuk yang menggelayuti matanya. Padahal kami telah bertekad tidak akan memejamkan mata kami sebelum kami menangkap maling itu hidup-hidup. ‘Sekali melangkah, pantang menyerah!’ begitu tekad kami. Tapi tampaknya malam yang dingin dan sepi telah mematahkan tekad kami itu.
“Maleng!! Maleng!!”
Aku terperanjat bukan kepalang dan dengan spontan aku membangunkan Haris, Samsul, Saiful, dan beberapa temanku yang lain.
“Ada maling! Ada maling!” aku berteriak.
“Mana malingnya? Mana malingnya?” Tanya Saiful setengah tak sadar.
“Di dalam!” kataku. Sebenarnya aku tak tahu di mana malingnya. Karena sedari tadi aku tak melihat tanda-tanda adanya maling.
Setelah masuk kamar kiai sepuh, aku tak menemukan siapa pun kecuali Lora Hasan dan Ning Fitri yang menenangkan abahnya itu. Aku dan para santri lainnya berusaha mengatur nafas yang tersengal-sengal.
“Malingnya di mana, Lora?” Tanya Saiful dengan mata menyisir seisi ruangan. Tapi Lora Hasan tak menjawab pertanyaan Saiful. Beliau hanya menatapnya.
“San…” suara kiai sepuh agak serak.
“Engghi, Bah?”
“Ambe’eghi ye. Are jumat ria bhekal bedhe maleng rajeh maso’a ka pasantren ria,”
“Engghi,” Lora Hasan hanya mengangguk-angguk. Beliau yakin kalau abahnya itu hanya menceracau.
“Zakki bile abelie?” tanya kiai sepuh lagi.
“Korang oning, Bah,”
“Pasantren ta’ nemmu aman. Dimma ra, Zakki ma’ tak dhulli mule?”
Lora Muzakki. Aku masih ingat ketika iring-iringan air mata keluarga dhalem mengantar anak sulung kiai sepuh itu hingga pintu gerbang. Ketika itu Nyai sepuh masih selalu berdo’a untuk beliau. Semenjak kepergian Lora Muzakki, kiai sepuh dirawat putra keduanya, Lora Hasan dan menantunya, Ning Fitri.
Memang agak lama beliau berada di pondok Syekh Kholil Bangkalan. Wajar kalau kiai sepuh selalu menanyakan beliau belakangan ini. Mungkin kiai sepuh mulai merasakan sesuatu akan segera terjadi. Begitu lama beliau tak kembali ke desanya. Bahkan ketika Lora Hasan menikah dengan Ning Fitri sekali pun.

*

Aku baru saja selesai mencuci di sungai dekat pesantren. Hari itu adalah hari Jumat. Hari di mana semua kegiatan belajar sedang libur. Buru-buru aku menuju kamar. Ingin sekali aku merebahkan badanku. Rasanya beribu ton pemberat telah menggelayuti mataku semenjak dari selesai mencuci tadi.
“Assalamualaikum,” sapaku pada beberapa temanku yang sedang asyik ngobrol sambil beristirahat di serambi kamar.
“Waalaikum salam,” jawab mereka hampir bersamaan. Mereka membuat lingkaran diskusi dan sepertinya mereka membicarakan sesuatu yang sangat serius.
“Sebenarnya kiai sepuh sakit apa sih?” seseorang melanjutkan pembicaraannya setelah terpotong dengan salamku tadi.
“Wah, aku juga ga’ tahu,” jawab yang lain.
“Nah, kamu coba saja tanya sama Rizal. Dia kan sering ronda di pendopo,”
“Zal!?” Rozi memanggilku setengah berteriak.
“Ya?” sahutku.
“Ke sini sebentar,”
Aku terburu-buru menuju ke serambi kamar.
“Kiai sepuh sakit apa sih?”
“Wah, saya juga ga’ tahu. Tapi kata Lora Hasan, sakit beliau sudah agak…”
“Agak apa, Zal?” tanya Rozi penasaran.
“Entahlah,” kataku sambil menaikkan bahu.
“Katanya beliau sering mengigau tentang maling ya?” tanya yang lain.
Aku mengangguk.
“Kau pernah melihat maling itu?”
Aku menggeleng.
“Jangan-jangan…”
“Ah, gak baik su’udz dzon lho…”
Tiba-tiba terdengar gaduh di pintu gerbang. Banyak santri yang berbondong-bondong datang ke sana. Tiba-tiba terdengar iring-iringan Shalawat Badar.
“Thala’al badru ‘alaina, min tsaniyyatil wada’, wajabas syukru ‘alaina, mada’a lillahi daa’…,” suara santri sahut-sahutan bergantian.
Aku dan para santri lainnya yang sejak tadi asyik berbicara penasaran. Dengan cepat kami melompat dari serambi kamar dan langsung pergi menuju pintu gerbang, mencari tahu apa yang terjadi.
Setelah aku berdesak-desak dengan tubuh kecut para santri, aku melihat Lora Muzakki tersenyum dipeluk para santri. Tak henti-hentinya beliau diserang pertanyaan.
“Bagaimana Madura, Kiai?”
“Kiai, dapat ilmu apa saja dari Syekh Kholil Bangkalan?”
“Kiai sudah pasti menguras ilmu di Madura sana, kan? Ajari kami, Kiai,”
Lora Muzakki hanya tersenyum penuh penuh kharisma.
“Eh, pertanyaannya nanti saja. Kiai baru datang. Beliau pasti sangat lelah. Biarkan beliau istirahat dulu,” kata santri senior lainnya.
“Ya, benar, benar,” sahut yang lain.
Kami mengiringi beliau masuk pesantren yang sudah lama beliau tinggalkan itu. Dan tak jauh dari pintu gerbang, aku melihat kiai sepuh dibopong Lora Hasan datang dari jauh dengan lari yang dipaksakan.
“Maleng!!! Maleng!!! Tangkep malengnga!! Tangkep!!” Kiai sepuh berteriak histeris. Kami tak mengerti dawuh beliau. Tak mungkin kami menangkap Lora Muzakki yang baru saja datang dari Madura. Kami tak punya cukup bukti untuk Menuduh Lora Muzakki sebagai pencuri. Tapi kiai sepuh…, ah, kami bingung!
“Abah,” Lora Muzakki berlari, memeluk abahnya. Kiai sepuh membalas pelukan itu hingga air mata beliau jatuh bercucuran. Begitu juga Lora Muzakki.
Aneh.
Kami tak mengerti.
*

Keesokan harinya, kurasakan seluruh alam menampakkan wajahnya yang muram. Tangis pun pecah tak bisa terhalangi. Suara pendopo kiai sepuh gaduh dengan suara bacaan al-Qur’an bercampur suara tangis.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un… Allah telah memanggil beliau.
Segalanya langsung dipersiapkan. Liang langsung digali. Pendopo pun sudah dikerumuni para santri. Setelah selesai dikafani dan dishalati, kiai sepuh siap dimakamkan.
Selesai pemakaman, para santri dipersilakan ke pendopo untuk minum teh dan beristirahat sejanak.
Keesokan harinya, tema maling menjadi tema yang paling hangat dibahas di semua tempat berkumpul. Maling yang diteriakkan kiai sepuh sehari sebelum beliau meninggal mampu menyihir para santri dalam rasa penasaran yang besar. Maling itu menjadi teka-teki yang seakan-akan harus dipecahkan.
“Menurutmu, apa yang dimaksud kiai sepuh dengan kata-kata ‘Maling’ itu, Din?” kata Saiful pada pada Samsuddin di suatu siang sebelum shalat Dzuhur.
“Entahlah, kok bisa ya, kiai sepuh menuduh Lora Muzakki sebagi maling?” kata Samsuddin sambil mengusap keringat yang mengalir di dahinya.
“Iya ya. Padahal kiai kan memeluk Lora, tapi kenapa kiai menuduh beliau maling?”
“Apa jangan-jangan Lora Muzakki jadi maling ya, selama beliau di Madura?” Yusuf menimpali.
“Ah, ngaco’ kamu!” kataku.
“Lho! Siapa tahu, kan!” Yusuf tetap ngotot.
“Atau jangan-jangan Lora Muzakki itu adalah pencuri ilmu selama beliau di Madura,” kata Saiful lagi.
“Maksudnya?” aku bertanya pada Saiful tak mengerti.
“Maksudnya beliau sudah banyak menguasai ilmu agama,”
“Tapi kenapa kiai sepuh meneriakinya maling dari sebelum Lora Muzakki datang hingga kedatangan beliau?”
“Jangan-jangan…,”
“Beliau berdua wali!!!” kataku dan Samsuddin hampir bersamaan.
“Yah, mungkin.” Saiful menambahkan. “Hanya saja belilau nggak mau kalau kedoknya terbongkar,”
Diskusi kami siang itu tak berlangsung lama. Adzan segera menghentikan pembicaraan kami. Walaupun kami dapat kesimpulannya, tapi kami tahu kalau kesimpulan itu belum tentu benar. Dan sebenarnya otakkku masih menyimpan pertanyaan besar tentang maling yang dimaksud kiai sepuh. Namun aku merahasiakannya. Biarlah ini menjadi pertanyaanku sendiri. Dan sebenarnya lagi, aku yakin kalau teman-temanku juga merasakan hal yang sama denganku.
Selengkapnya...

Asrama Bahasa Sambut Anggota Baru

Beberapa hari yang lalu, Asrama Bahasa Khususnya Bahasa Inggris Putra mengadakan tes masuk. Malam Kamis kemarin para santri yang sudah dinyakan lolos mulai pindah dari kamar asalnya ke kamar yang khusus menampung para santri yang mampu Berbahasa Inggris. Kedatangan mereka disambut dengan baik oleh anggota lama.

Ketua Kamar Sunan Gunung Jati Nomor 25, Ustadz Hali Makki, memberikan pemahaman terhadap anggota barunya. Lajang kelahiran Raas itu mengatakan, agar anggota baru Asrama Bahasa selalu berbahasa Inggris dengan baik. Mereka harus aktif di kompleks pesantren, tidak boleh kerasan di pemandian, karena hal itu dapat mengganggu segala aktifitas kepesantrenan dan asrama. Anggota barunya itu juga diharapkan untuk aktif di lembaga kursus Bahasa Inggris, ESA. Karena ESA sangat mendukung terhadap kemahiran dalam berbahasa.

Sementara itu pada Malam Senin kemarin, seluruh Kepala Daerah mengahadiri rapat di Kantor Pusat Pesantren. Hadir dalam rapat tersebut, Kabag Kamtib, Kabag Kepesantrenan, Kasubag Asrama, Ubudiyah, dan Kasubag Kebersihan.

Dalam rapat itu, Kabag Kamtib Ustadz Ahmadi Muhamadiyah mengaharapkan kepada semua kasubag dan semua kepala daerah agar lebih proaktif terutama dalam pelaksanaan Shalat Tahajjud. Menurutnya, semua program pesantren butuh keaktifan dari kepaala daerah dan kepala kamar. Sementara itu Kabag Kepesantrenan, Ustadz Sholeh Az-Zahra mempertanyakan kegiatan-kegiatan daerah dan kegiatan Kamar. Beliau mengharapkan agar kepada kepala daerah lebih aktif lagi memantau serta mengawasi kegiatan di kamar-kamar.(Aaz/C12)
Selengkapnya...

BEM Dakwah Siap Terjun

Lintas Dakwah merupakan kegiatan rutin tahunan Mahasiswa Fakultas Dakwah. Dalam kegiatan itu, semua Mahasiswa Fakultas Dakwah mengunjungi lokasi kegiatan Lintas Dakwah. Di lokasi kegiatan, mereka berbaur dengan masyarkat setempat. Menurut pengakuan beberapa mahasiswa, tidak jarang dari setaiap kegiatan Lintas Dakwah meninggalkan kesan positif bagi masyarakat setempat.

Lintas dakwah yang semula dijadwalkan di Desa Pandean, akan dialihkan ke Desa Widuri Asembagus. Ketua Panitia Lintas Dakwah, Lasmana mengaku, dengan peralihan lokasi tersebut dengan beberapa perimbangan. Salah satunya lokasi yang akan ditempati lebih dekat dan akan memudahkan pulang pergi. Untuk pelaksanaan tanggal 10 sampai tanggal 16 Pebruari mendatang.

Sementara itu, pada kegiatan Bahsul Masail Ma’had Aly, DBS FM menyiarkan langsung acara tersebut. Menurut General Meneger DBS FM, Yohandi, Sos. I, siaran tersebut dimaksudkan untuk menyuguhkan acara-acara yang bernuansa pendidikan. Karena menurutnya, selama ini radio yang dipancarkan melaui lantai II Fakultas Dakwah itu lebih banyak mengadakan acara-acara hiburan. Dia juga mengaharapkan, dengan adanya siaran langsung itu Radio DBS FM lebih dikenal lagi oleh banyak orang, teutama para santri maupun masyarakat sekitar yang mampu menangkap frekuensi DBS Fm. (Aaz)
Selengkapnya...

Pesantren Sunan Drajat Studi Banding, Ma’had Aly Bahas Penguburan

Pondok Pesantren Sunan Drajat Banyuanyar Paciran Lamongan Hari Kamis kemarin melakukan silaturrahim dan studi banding ke Pesantren Salafiyah Syafiiyah. Sebanyak 15 orang peserta silaturrahim dan kunjungan tersebut berdialog dengan para pengurus pesantren. Mereka menitikberatkan dialog terhadap persoalan Ma’had Aly dan Institut Agama Islam Ibrahimy. Dari pesantren Sukorejo sendiri yang menemui mereka, Wakil Sekretaris Pesantren, Drs. Hasan Fauzi Alco, M.PdI, Kabid Dikti, KH. Hasan Basri, Lc.

Sementara itu, Ma’had Aly Hari Kamis kemarin menggelar kegiatan Bahtsul Masail Regional dengan tema "Meretas Nalar Manhaj, Membangun Fiqh Moderat". Tim perumus bahtsul masail itu adalah , Wakil Pengasuh Bidang Ilmiah, KH. Afifuddin Muhajir, KH. Hariri Abdul Adhim, BA dan KH. Shalahuddin dari Pesantren Assunniyah, Kencong Jember. Kegiatan itu akan melibatkan beberapa pesantren dan lembaga pascasarjana di berbagai daerah di wilayah Jawa Timur.

Salah satu permasalahan yang dibahas pada kesempatan itu adalah persoalan menghadiri penguburan mayat non muslim. Berawal dari sebuah kasus yang dialami seseorang yang masuk Islam. Suatu ketika orang tuanya meninggal dunia, lalu dia menyuruh orang lain untuk hadir dalam acara persemayaman tersebut dengan catatan orang itu diberi uang saku. Bagaimana hukum menghadiri pemakaman tersebut? Dan bagaimana pula status uang saku yang diterima itu? (C12/Ric)
Selengkapnya...

Sumenep Demo Adat, Situbondo Singkronkan Kegiatan

Buletin Sumekar Iksass Rayon Sumenep kembali hadir ditengah-tengah warganya. Dalam obrolan budaya kali ini, bulletin yang berada dibawah naungan Rayon Iksass Sumenep ini membicarakan masalah sinden dan tayub yang tak bisa mungkin hilang khususnya di Kabupaten Sumenep. Hadir dalam kesempatan diskusi itu, Jauhari Yasin, Senior Iksass Sumenep. Beliau banyak memberikan pemahaman dan pengetahuan tentang hal itu.

Menurut Koordinator Infokom, Iksass Rayon Sumenep, kegiatan itu akan terus ditingkatkan. Karena senior Iksass Sumenep sendiri masih banyak yang berdomisili di Sukorejo. Diantara mereka adalah Ustadz Ahmadi Muhammadiyah, Ustadz maimun Abd. Jalil dan lainnya. Dewan Pakar Iksass Sumenep pun memberikan dukungan penuh terhadap semangat para pengurus. Mereka berharap agar kekompakan itu tetap dijaga dan ditingkatkan

Sementara itu Iksass Rayon Situbondo, Malam Senin Kemarin mengkoordinasikan semua kegiatan dengan semua pengurus sub rayon di bawah naungan Iksass Situbondo. Menurut Ketua Iksass Rayon Situbondo, Hafid Purnomo tidak lain kegiatan itu untuk menyingkronkan semua kegiatan. Selain dari itu agar ada jenjang kegiatan untuk warganya. Salah satu kegiatan yang berjenjang adalah jurnalistik dan dirosah. Kegiatan itu diikuti oleh semua Pengurus Iksass Rayon Situbondo dan perwakilan dari masing-masing sub rayon.(C12)
Selengkapnya...

Brosur Santri Baru

Jumlah Pengunjung

Website counter
 

Tamu Pesantren

Mubes Iksass VIII di Jember

Tamu Pesantren

Powered by Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah