Mengutamakan Kepentingan Umat

“Teruskan perjuangan saya! Sebarkan tauhid, kenalkan aqidah ahlussunnah wal jamaah ke masyarakat, dan utamakan kepentingan umat!”

Begitulah dawuh KHR. As’ad Syamsul Arifin. Kiai As’ad dalam beberapa kesempatan, selalu mengingatkan, agar para santrinya memikirkan perkembangan masyarakat sekitarnya. Kiai As’ad bahkan mengecam kiai yang tidak memikirkan umatnya; yang hanya mengurusi zakat fitrah dan tukang doa saja. Begitu pula, kepada para santri yang mau pulang bermasyarakat, Kiai selalu wanti-wanti agar ikut mengurusi; pendidikan Islam, dakwah melalui NU, dan ikut memperbaiki perekonomian umat.
Masalah mementingkan kepentingan umat ini, tidak boleh diremehkan oleh para juru dakwah. Kalau para dai memikirkan dan membantu orang lain, sebagai konsekuensi logisnya, pesan-pesan dakwahnya akan didengar dan diperhatikan umat. Setelah itu, seorang dai bisa menyampaikan mauidlah dan membuka dialog (mujadalah), sehingga terjadi komunikasi dua arah. Dari sinilah, akan terjadi overlaping of interest, himpitan kepentingan, sebagai kunci sukses suatu komunikasi dakwah.
Dalam istilah komunikasi, efek ini disebut need cognition, intuisi kebutuhan. Intuisi ini akan muncul sebagai variabel yang memadai dan mempengaruhi besarnya perhatian komunikan terhadap pesan komunikasi. (sah)
Selengkapnya...

Berjuang dan Mengabdi

“Oreng se berjuang setak ketemoah oreng. Mon-atemo oreng, degik ealem beremmah? Pas tero kealem, tero ka pesse, tero pangkat (Orang berjuang itu sekiranya tidak ketemu orang. Kalau dijumpai orang, nanti dipuji orang bagaimana? Lalu ingin disanjung, ingin uang, dan ingin pangkat, red),” pesannya kepada beberapa anggota Pelopor.
Kiai As’ad memang termasuk tokoh yang berjuang dan mengabdi secara tulus. Beliau termasuk orang yang menyimpan rapat-rapat apa yang beliau perjuangkan. Karena itu, beliau dikenal sebagai “tokoh di balik layar”.
Karena itu, beliau selama masih hidup, melarang menulis sejarah kehidupannya, kecuali kalau beliau sudah wafat. Konon, setelah Muktamar ke-27 NU, H. Mahbub Junaidi (kolomnis beken) dan Chalid Mawardi pernah meminta ijin menulis biografi Kiai As’ad. Namun Kiai As’ad menolaknya.
Dalam beberapa penuturannya, Kiai As’ad mengatakan segala sesuatu yang dikerjakan sesuai dengan kemampuannya tersebut dalam rangka niat beribadah dan mencari keridlaan Allah. Karena itu, Kiai As’ad tidak pernah merasa sibuk dengan pekerjaannya. Kiai As’ad juga tidak pernah merasa tidak digubris pendapatnya --bila ditentang orang lain atau tidak pernah merasa mendapat dukungan --bila pendapatnya didukung orang lain. “Keduanya tidak ada pengaruhnya pada saya dalam berjuang. Apa yang saya jalankan, semuanya merupakan pengabdian dan tanggung jawab saya kepada Allah SWT,” ujarnya kepada wartawan majalah Matra, beberapa hari sebelum meninggal dunia. (sah)
Selengkapnya...

Khittah Pesantren

”Kalau di NU ada khittah, pesantren pun harus menggagas khittahnya. Jika khittah NU berarti kembali ke era Kiai Hasyim Asy'ari; khittah pesantren berarti harus berorientasi ke zaman Sunan Ampel. Pesantren harus kembali berwawasan salafi”

Begitulah dawuh Kiai As’ad sebagaimana dalam buku ”Percik-percik Pemikiran Kiai Salaf”. Semboyan khittah pesantren ini amat menarik. Sebab sekarang, Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj mempunyai motto NU akan kembali ke pesantren.
Kiai As'ad mengharapkan, agar para pengasuh pesantren, mengembalikan pesantren ke khittahnya! Mengembalikan pesantren ke zaman Sunan Ampel! Sunan Ampel terbukti mampu mencetak kader negarawan, seniman, fuqaha, waliyullah, dan kader pemimpin lainnya.
Makna khittah pesantren yang diajarkan Kanjeng Sunan Ampel adalah mondok dengan baik, orientasi keakhiratan bukan kepangkatan atau pekerjaan! Sehingga para santri belajar dengan serius dan bersikap tulus. Yang diutamakan kualitas keilmuan bukan kuantitas gelar. (syamsul a hasan)
Selengkapnya...

Kebersihan

”Karena kebersihan tersebut merupakan 'pohon' kesehatan. Kesehatan tercipta, karena adanya kebersihan. Kalau sehat tergolong fardlu ain --kewajiban individual-- maka menjaga kesehatan badan pun termasuk fardlu ain pula. Dengan demikian, kebersihan pun tergolong wajib pula hukumnya. Karena itu, bagi saya, kebersihan tersebut merupakan fardlu ain. Namun bagi orang lain, kebersihan cukup sebagai fardlu kifayah, kewajiban kelompok!”

Demikianlah dawuh Kiai As’ad sebagaimana dalam buku ”Percik-Percik Pemikiran Kiai Salaf. Menurut Kiai As’ad, tugas pertama orang mencari ilmu adalah menjaga kesehatan. Beliau --sebagai pengasuh pesantren-- berusaha sekuat tenaga mendirikan Puskesmas. Sebab menurut Kiai As’ad, mendirikan Puskesmas tersebut merupakan kewajiban. Andaikan di suatu pesantren tidak terdapat Puskesmas, sudah selayaknyalah kiai dan para santrinya berdosa semua.
Begitu pula, andaikan di suatu daerah --Situbondo, misalnya-- tidak terdapat sebuah Puskesmas pun, maka mulai dari pejabat dan rakyat berdosa semua. Karena dalam pandangan Kiai As’ad, termasuk tugas utama pemerintah adalah menjaga kesehatan rakyatnya. Sebab kalau rakyat tidak sehat, mereka tidak dapat bekerja giat. Kalau rakyat sakit pemerintah pun rugi. Karena itu, kalau kita lihat beberapa kitab fiqh, menurut Kiai As’ad, kesehatan termasuk kewajiban. (sah)
Selengkapnya...

Nyi Khoiriyah, Figur Pendidik Berkharisma



Kiprah Ny. Hj. Ummi Khoiriyah, M.Ag di dunia pendidikan bukanlah hal yang diragukan lagi. Sosok perempuan kelahiran Bondowoso 17 Agustus 1954 ini, menjadikan seorang figur yang sangat berkharisma dan banyak mendapat simpatik dari seluruh santri dan masyarakat. Pribadinya yang arif serta keramahtamahannya dalam menghadapi siapa saja menjadi sosok yang di idolakan santri. Beliau tak pernah memandang apalagi membeda-bedakan dengan siapa ia bicara.

Nyi Khoiriyah, sapaan yang kerap akrab bagi santri itu mempunyai banyak sekali hobi. Di antara hobinya ialah membaca. Beliau sangat gemar membaca. Bahkan di waktu yang cukup padat tersebut, beliau masih menyempatkan membaca yang sering beliau habiskan di ruang perpustakaan pribadinya.

Mengingat betapa pentingnya pendidikan moral, Nyi Khoiriyah merasa terpanggil dalam meningkatkan pendidikan moral bagi para penuntut ilmu di Sukorejo. Apalagi salah satu fungsi pesantren sendiri merupakan salah satu lembaga yang membentuk dan mengembangkan nilai-nilai moral sekaligus menjadi pelopor dan inspirator pembangkit generasi moral bangsa. Dosen tetap Fakultas Tarbiyah tersebut beranggapan kalau pun ada krisis moral yang terjadi di kalangan santri yang sudah jauh menyeleweng dari kode etik dan kodratnya dia sebagai santri, merupakan ketidaktahuan mereka tentang kepesantrenan. Menurut putri pertama dari pasangan Alm. K.H Ach. Choiruddin dan Hj. Azizah Safinah, santri belum bisa beradaptasi dengan kondisi dan situasi serta lingkungan pergaulan di pesantren yang bisa mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku santri tersebut.

Keistiqomahan beliau yang tak pernah lepas dari belajar-mengajar inilah yang patut diteladani bagi kita semua. Besarnya arti ikhlas dan kesabarannya serta perilaku yang diterapkan dalam kehidupan beliau, juga tak lepas dari ajaran dan bimbingan Kiai As'ad Syamsul Arifin.

Kini perempuan yang aktif sebagai penasehat PC Muslimat Situbondo tersebut menegaskan, beliau tidak merasa terbebani sekali terhadap amanah yang diberi Almarhum Kiai As'ad. Karena ini merupakan suatu kehormatan bisa menjadi orang yang dipercaya dan merasa bertanggung jawab pula, untuk menjalankan suatu amanat tersebut. Meski harus bolak-balik Sukorejo –Surabaya untuk merampungkan program doktornya beliau masih selalu mengisi Imam Sholat di MQ. Prinsip beliau, "Tanpa harus jama'ah kita harus sholat" karena berjama'ah banyak sekali hikmah yang didapat yakni kebersamaan dan orang yang ahli jama'ah pasti akan disiplin.

Kita pun harus mengacungkan jempol, di era globalissasi sekarang ini, pesantren masih mempertahankan karakteristiknya sebagai pesantren Salafiyah-Syafi'iyah dan pengajaran yang bersifat klasik serta perkembangan yang makin melesat tanpa harus menghilangkan tradisi ulama Salaf terdahulu. Pesan beliau bagi para penuntut ilmu agar terus belajar. Tiada hari tanpa belajar dan ikutilah semua peraturan pesantren apapun resikonya karena hal itu akan balik kepada diri sendiri. (Irine Sofyanti)
Selengkapnya...

Kongres Mahasiswa dimulai

Setelah mengalami beberapa kendala terkait dengan pelaksanaan kongres, pada Malam Kamis kemarin BEM Ibrahimy memulai kegiatan tahunan tersebut. Dalam acara pembukaan yang bertempat di Kampus Putra lantai II itu dihadiri oleh Rektor IAI Ibrahimy, Drs. HM. Mansour Idris, MM. Selain Rektor, hadir juga para Kasubag Kemahasiswaan dari masing-masing Fakultas dan Akademi. Pembukaan tersebut juga dibersamakan dengan pembukaan Kongres BEMI ke 10, BEM Fakultas yang ke-8 dan BEM Akademi yang ke-VI.

Sesuai dengan agenda kegiatan kongres, Pembukaan dilanjutkan dengan dengan sidang Tata Tertib (Tatib). Untuk Hari Kamis, dilanjutkan dengan Sidang LPJ, Sidang Komisi dan Sidang Pleno. Sedangkan pada Hari Jum’at sampai Hari Sabtu dikhususkan untuk Kongres ditingkat Fakultas dan Akademi. Kemudian pemilu Raya atau pemilihan Presiden dan Wakil Presiden diagendakan pada Hari Minggu(Aaz)
Selengkapnya...

Ki Ageng Ganjur Bakal Hibur Santri




Grup musik akulturatif, Ki Ageng Ganjur dari Jakarta tidak lama lagi akan menghibur para santri Sukorejo. Itu disampaikan oleh sang leader Al Zastrouw Ngatawi saat bersilaturrahim ke Sukorejo, Rabu kemarin.
Seniman yang juga Ketua Umum Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) milik NU itu mengaku memilih Pesantren Sukorejo sebagai satu-satunya pesantren di wilayah Karesidenan Besuki untuk program pengajian budaya dan konser religi, disamping 7 pesantren lainnya di seluruh wilayah Jawa Timur.
”Kita ingin mengenalkan dunia seni sebagai sarana alternatif bagi pengembangan dakwah kepada para santri. Sebab sekarang fenomenanya para generasi muda dan hampir semua orang sangat menyukai seni. Kalau pintu ini tidak kita masuki, eman, karena justeru akan dimasuki dan dimanfaatkan orang lain diluar NU,” papar mantan sekretaris pribadi Gus Dur yang suka berblankon itu.
Renacananya pengajian budaya dan konser religi tersebut akan dimeriahkan oleh artis-artis Ibu Kota seperti Evi Tamala, Ratna Listy dan Widi Hello. Bahkan Iwan Fals juga akan ditampilkan pada penampilan kedua menjelang satu abad Pesantren Sukorejo. Kegiatan yang akan digelar tanggal 26 hingga 27 Juli tersebut akan diawali dengan pelatihan penulisan kratif santri mulai menulis puisi, cerpen, novel, sampai karya tulis ilmiah. Kemudian dilanjutkan pentas seni yang akan menampilkan kreasi seni para santri baik seni baca maupun seni musik, dialog budaya dan dipuncaki dengan pengajian budaya dan konser religi, di halaman kampus dengan tatanan panggung, lighting dan sound system berdaya 200 ribu watt.
Tidak hanya itu, pihak Ki Ageng Ganjur dengan mengajak PT Djarum juga akan menggelontorkan beasiswa bagi santri sebesar 1,5 juta setiap bulannya selama satu tahun. Nah, anda yang punya bakat menulis dan berkesenian jangan sia-siakan kesempatan emas ini.(nsn)
Selengkapnya...

Brosur Santri Baru

Jumlah Pengunjung

Website counter
 

Tamu Pesantren

Mubes Iksass VIII di Jember

Tamu Pesantren

Powered by Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah