FUJI Siapkan Maduk Raksasa

Dalam rangka ajang memperkenalkan FUJI (Forum Jurnalistik Ibrahimy) Pengurus FUJI bidang lokakarya serta merta akan mengadakan Pameran Maduk Raksasa dengan tema “Gapai Alam dengan Tarian Tinta” . Mulai hari Sabtu kemarin rapat persiapan pameran maduk raksasa dimantapkan di kampus Putri, rencananya melihat alam yang begitu menarik untuk ditampilkan dalam ajang ini. Berangkat dari situlah Fuji tergerak untuk memperkenalkan alam pada seluruh santri Salafiyah-Syafi’iyah. Selain itu, “Fuji ini kan baru berdiri sehingga perlu diadakannya launching jurnalistik berupa karya dengan rubrik apa saja asal bertema alam,“ Syifa Fajriyah selaku Ketua Forum Jurnalistik (FUJI) menambahkan.

Seluruh ketua dari masing-masing organisasi baik Presiden BEMI, Gubernur Tarbiyah, Dakwah, Syari’ah, AMIKI dan APERIKI serta OSIS SMA Ibrahimy dan OSIS SMK 1 Ibrahimy Putri diminta ikut berpartisipasi di dalamnya. Karena ini merupakan ajang terbesar Ibrahimy, pameran majalah duduk raksasa ini pun akan dibuat sedemikian dan semenarik mungkin agar santri salafiyah bisa bangga karena karya yang telah dibuatnya bisa ditampilkan di Pameran majalah duduk Raksasa ini.

Nurhasanah Mahnan selaku Ketua Panitia berharap pameran ini bisa berjalan sesuai dengan alur pikir para Pengurus Forum Jurnalistik Ibrahimy (FUJI). Untuk pengiriman rubrik karya terakhir dikumpulkan pada tanggal 11 April 2010 kepada Panitia Pameran Maduk Raksasa Fuji dan karya ini akan dipublikasikan Insya Allah pada tanggal 20 april 2010 di Depan Kampus Putri. (She)
Selengkapnya...

BEM IAI Ibrahimy Adakan Pekan Ilmiyah Mahasiswa

Mulai tanggal 09 April Badan Ekskutif Mahasiswa IAI Ibrahimy punya Gawe besar. Ada beberapa kegiatan yang akan dihelat dalam kegiatan yang bernama Pekan Ilmiyah Mahasiswa tersebut. Mulai pada tanggal 9 April akan diadakan Seminar Regional dan Bedah Buku.

Dalam seminar regional itu, yang bertindak sebagai Narasumber KH. Afifuddin Muhajir. Dalam kesempatan yang sama akan diadakan juga kegiatan Bedah Buku “Islam Tengah”. DR. Abu Yasid MA LLM selaku penulis buku tersebut, akan bertindak sebagai Narasumber dan H. A. Anas Azwar, MSi sebagai pembanding.

Kemudian pada tanggal 10 akan dihelat Debat Ilmiyah dan pada tanggal 11 akan dilanjutkan dengan lomba Karya Tulis Ilmiyah. Dalam lomba Karya Tulis Ilmiyah ini bertindak sebagai dewan juri yakni Syamsul A Hasan dan Drs Fauzi Alco, MPdI.
Sedangkan menurut A. Jaelani, selaku Ketua Panitia kegiatan tersebut adalah untuk mencetak kader yang berkapabilitas dan profesional. A. jaelani memaparkan, bahwa yang dimaksudkan dengan kader yang professional adalah kader yang kritis, inovatif, dan berwawasan luas disegala bidang. Kegiatan tersebut bertemakan “Mengokohkan Intelektual dan Pola Pikir Mahasiswa Dalam Meningkatkan Kreatifitas Keilmuan” (Aaz)
Selengkapnya...

BEM IAI Ibrahimy Hadiri Even BEM Nasional

Dari tanggal 7-14 Maret kemarin Pengurus BEM Ibrahimy menghadiri Seminar dan Kongres III Badan Ekskutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama’ (BEM PTNU) se-Nusantara. Acara yang berlangsumg di Asrama Haji Sudiang Makassar itu dihadiri oleh seluruh peserta BEM PTNU Se-Nusantara.

Menurut Arief Rahman selaku Presiden Bem Ibrahimy yang juga berkesempatan hadir dalam acara tersebut, bahwa tujuan didirikannya organisasi BEM PTNU Se-Nusantara adalah untuk mengawal isu-isu pendidikan NU pada khususnya dan isu-isu pendidikan nasional pada umumnya. Sekedar informasi bahwa BEM PTNU ini didirikan di Malang pada tanggal 5 April 2006 dan dideklarasikan di Bandung pada tanggal 25 juli 2006.

Disamping itu, Arief Rahman juga menyempatkan diri untuk menghadiri Seminar dan Konsolidasi Gerakan mahasiswa BEM Nasional. Acara yang berlangsung pada tanggal 26-29 Maret itu bertempat di Vila Eden Kaliurung, Jogjakarta. Kegiatan yang dihadiri oleh seluruh Presiden BEM Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta itu diadakan atas inisiatf Gerakan Mahasiswa BEM Nasional. (Arief Rahman)
Selengkapnya...

Dakwah Bedah Qurratul Uyun

Pada Malam sabtu kemarin, Fakultas Dakwah mengadakan acara bedah kitab Qurratul Uyun. Dalam acara tersebut, panitia mendatangkan, Drs. Abd. Mughni Shaleh. MPdI, sebagai narasumber. Acara yang berlokasi di Ruang Kuliah Fakultas Dakwah tersebut dihadiri oleh masing-masing perwakilan pengurus Badan Ekskutif Mahasiswa dan mahasiswa semester akhir. Acara itu juga disiarkan langsung melalui Radio DBS FM.

A. Agus Surya Winata, selaku Programer Radio Praktikum Mahasiswa Fakultas Dakwah mengungkapkan bahwa tujuan dari acara tersebut untuk memberikan pemahaman kepada para mahasiswa khususnya yang semester akhir tentang seks versi kitab kuning. Karena sseperti yang diketahui, paparnya, dalam kitab Qurratul Uyun secara lengkap mengkupas habis masalah ilmu seks.

Dalam kesempatan tersebut, Drs. Abd. Mughni Shaleh, MPdI mengungkapkan, bahwa mempelajari masalah seks sangat penting sekali. Menurutnya, orang yang tidak paham terhadap seks, maka ketika orang tersebut menjalani bahtera rumah tangga akan kesulitan mendapatkan kebahagiaan dalam rumah tangganya. Seks bukan hanya sebatas pebicaraan yang jorok-jorok saja, namun lebih dari itu, seks adalah pembahasan tentang tata cara menjalani hubungan suami istri yang sangat berpengaruh sekali terhadap keharmonisan rumah tangga. Acara yang berlangsung sampai jam 11 malam itu diikuti oleh oleh peserta bedah kitab dengan sangat antusias. Terbukti, sangat banyak sekali pesrta yang melontarkan pertanyaan pada kesempatan itu. (Aaz)
Selengkapnya...

Edy, Wartawan Pengagum Rhoma



“Kalau kalian senang menulis, asahlah tulisan kalian di jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah IAI Ibrahimy!”

Kalimat tersebut bukanlah slogan iklan tapi kisah pengalaman perjalanan Edy Supriyono, wartawan Radar Banyuwangi. Edy, sapaan akrabnya, sejak SMA mengaku senang menulis, menggambar, dan membuat komik.

Setelah lulus SMA Ibrahimy, Edy agak kebingungan menentukan sikap; mau melanjutkan kemana. “Cepat atau lambat, perjalanan hidup ini akan membawa kita ke persimpangan yang mengharuskan kita memilih... Bismillahirrohmanirrohim, semoga ini adalah yang terbaik,” ujar Edy.

Akhirnya, ia menentukan pilihan menjadi mahasiswa KPI Fakultas Dakwah Ibrahimy. Kenapa Edy tertarik dengan KPI Fakultas Dakwah? Ia mengaku karena salah satu kompetensi mahasiswa KPI adalah menguasai ilmu-ilmu komunikasi dan jurnalistik. Di KPI inilah para mahasiswa dicetak untuk menjadi jurnalis media eloktronik dan cetak. Karena di KPI ada matakuliah “Pengantar Jurnalistik”; “Teknik Menulis dan Mencari Berita”; “Teknik Reportase, Editorial, dan Feature”; “Teori dan Teknik Kepenyiaran”; “Teknik Olah Vokal dan Pernafasan”; dan beberapa matakuliah pendukung lainnya.

Agaknya, pilihan Edy di Fakultas Dakwah tidaklah salah. Di Fakultas Dakwah inilah ia ditempa ilmu-ilmu jurnalistik. Akhirnya, beberapa tulisannya dimuat di majalah Annida, Fadilah, Surabaya News, dan Jawa Pos.

Tulisan resensi tentang buku “Kharisma Kiai As’ad di Mata Umat” karya seniornya dimuat di Jawa Pos. Inilah tulisan resensi pertama kali karya mahasiswa Ibrahimy yang dimuat koran nasional. Setelah lulus kuliah, Edy dan Ali Shodiqin (temannya sesama mahasiswa Dakwah) melamar ke Radar Banyuwangi. Kedua-duanya, diterima sebagai wartawan Radar. Hanya saja Shodiqin ditugaskan di Banyuwangi, dan Edy di Situbondo.

Perjalanan Edy di dunia tulis-menulis, dimulai dari jenjang paling bawah. Di Orator, majalah praktikum mahasiswa Fakultas Dakwah, Edy ditunjuk sebagai ilustrator. Kemudian ia dipercaya sebagai reporter. Karena kualitas tulisannya kemudian ia menjadi pemimpin redaksi Orator.

Tulisan-tulisan Edy cukup mengalir dan enak dibaca. Ia mempunyai potensi besar untuk menjadi penulis feature atau cerpen. Bahkan beberapa cerpennya pernah dimuat di Annida dan Surabaya News. Ketika seniornya, Syamsul A Hasan menulis buku Kharisma Kiai As’ad, ia mendapat gagasan untuk mengarang sebuah cerita fiksi tentang Sukorejo tempo dulu, saat masa penjajahan. Beberapa lembar pun sudah ia kerjakan.

Tulisan Edy yang mengalir itu mengundang ketertarikan salah satu dosennya, Muhammad Baharun. Edy kemudian disuruh membantu Baharun dalam menyusun beberapa naskah buku. Edy dan Idris Iskandar kemudian dimagangkan di Malang Post. Edy juga pernah menjadi koresponden Bhasa FM untuk meliput berita-berita seputar Pesantren Sukorejo. Tugas liputan tersebut untuk memenuhi permintaan salah satu dosennya, Imam Syafi’i, yang juga sebagai manajer Bhasa.

Di luar aktivitas menulis, Edy sangat menyukai musik. Ia pengagum berat Rhoma Irama. Beberapa album Rhoma ia koleksi. Sebagai pengagum Rhoma, ia bangga ketika bisa berpose bersama Rhoma. “Saya pertama kali foto bersama Rhoma ketika mengantar teman saya. Skripsi teman saya itu, tentang Rhoma,” ujarnya bangga.

Sebagai pengagum Rhoma, ia hafal beberapa lagu Rhoma. Edy sering mengutip lagu-lagu Rhoma di Facebooknya.

Salah satu pesan Edy kepada yuniornya yang masih nyantri, bahwa di pondok sebenarnya kesempatan untuk menulis amat besar. Itu semua tergantung kita, apakah kita mampu memanfaatkan ataukah terbuang percuma begitu saja. (sah)
Selengkapnya...

Uswah yang Memudar di Tubuh NU

Oleh: Nurtaufik

Pada Muktamar ke-32 NU pada tgl 23-28 ini, banyak pihak yang menghimbau agar NU kembali ke khittah 1926. Istilah khittah ini mencuat ketika Muktamar 27 di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.

Menurut KHR. Asad Syamsul Arifin, kembali ke Khitah warga NU selalu berupaya meniru sepak terjang KH. Hasyim Asyari dan 1926 diartikan Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan baik tingkah lakunya maupun cara berfikirnya.”Kalau ada orang yang ceramah tapi merugikan NU maka tidak wajib kita mengikutinya. Walaupun itu dari PBNU!” tambah mediator berdirinya NU tersebut.

Sejak kembali NU ke jalur khittah 1926, maka dengan tegas NU tidak terikat dengan partai politik manapun serta melegalkan warganya menyalurkan aspirasi politiknya ke partai manapun, asalkan bertanggung jawab dan berakhlaqul karimah. Ternyata warga NU mempunyai potensi yang luar biasa dalam berpolitik yaitu bisa mewarnai partai manapun bahkan mereka bisa jadi public figure di partai tersebut.

Namun ternyata kedewasaan berpolitik warga NU masih diragukan. Kalau mau mengadopsi bahasanya Ustadz Nurul Al-Dholam, mereka masih banyak salah kaprah dalam berkiprah. Hal itu bisa kita lihat, masih banyak warga NU yang berpolitik dengan jalan yang kotor artinya banyak yang menghalalkan segala cara untuk mencapai apa yang menjadi keinginannya. Yang lebih ironis lagi sudah banyak pengurus- pengurus NU yang melepaskan dirinya mengabdi sebagai pengurus di NU. Mereka banyak yang hijrah menjadi pengurus partai dan sangat antusias menjadi calon wakil rakyat dari partai tersebut hingga mereka sibuk membesarkan dirinya sendiri dan jarang sekali memikirkan nasib NU sendiri.

Disamping itu, loyalitas dan militansi warga NU terhadap organisasinya tersebut patut dipertanyakan itu terbukti mereka masih menafikkan calon pemimpin yang sudah menjadi kader NU dan dibesarkan oleh NU. Tak hanya itu, imbas dari politik sudah mengubur budaya minta maaf dan saling memaafkan di intern NU sendiri, mereka selalu mengklaim kalau dirinya paling benar dan yang salah.

Untuk itu sudah saat ini sudah sepantasnya pengurus maupun tokoh – tokoh NU yang notabeninya sebagai public figure mengembalikan NU pada tujuan semula yaitu ormas. Misalnya dengan cara:

Pertama selalu berusaha mempererat ukhuwah terutama ukhuwah nahdiyah agar warga NU tidak mudah dipermainkan oleh mereka yang ingin merusak NU. misalnya dengan cara mengadakan kegiatan bersama dengan mengatasnamakan NU bukan kepentingan orang atau golongan tertentu.

Kedua memberi bimbingan keagamaan karena pada dasarnya NU lahir untuk membentengi dan melestarikan paham keagamaan ala ahlussunnah waljamah.

Ketiga selalu memberi contoh yang baik dalam berpolitik agar warganya bisa berfikir dewasa dan selalu menggunakan ahlaqul karimah dalam berpolitik dan berkiprah di politik semata-mata untuk kepentingan NU.

Keempat memberikan pemahaman kepada warganya kalau perbedaan itu sebuah rahmat. Selama perbedaan itu tidak merugikan NU apalagi sampai menghancurkan NU.

Kelima selalu bermusyawarah dalam menentukan kebijakan baik dalam masalah agama, sosial maupun dalam menentukan pemimpin agar nantinya warga NU tidak kebingungan hingga menimbulkan perpecahan. Bukankah NU sejak proses kelahirannya tidak pernah meninggalkan musyawarah?

Keenam memberi gambaran tentang perjuangan ulama NU terdahulu agar warga NU mempunyai loyalitas dan militansi terhadap NU serta memperkenalkan keputusan-keputusan yang telah ditetapkan oleh ulama NU terdahulu untuk dijadikan rujukan dalam melangkah.

Ketujuh, tidak pernah merasa dirinya paling benar artinya sebagai manusia tentu pernah benar dan tidak menutup kemungkinan pernah salah. Itu sinergi dengan sabda nabi Muhammad SAW. ”Setiap anak Adam pasti berdosa dan paling baiknya orang yang berdosa yaitu bertaubat.”

Jadi di kalangan NU harus selalu membudayakan minta maaf dan memaafkan atas kesalahan yang dilakukan.

(Mahasiswa Fakultas Dakwah IAII)
Selengkapnya...

Raas Meriahkan Malam Penutupan

Setelah mengadakan kegiatan Pelatihan dan Lomba Debat antardesa beberapa hari lalu, maka pada malam Sabtu kemarin, Iksass Rayon Raas memeriahkan malam penutupan dengan beberapa kegiatan. Dalam acara penutupan tersebut, hadir seluruh warga Iksass Rayon Raas dan semua Ketua Rayon senusantara. Demi memeriahkan malam penutupan, masing-masing warga menunjukkan kebolehan dan kemampuan lewat kesenian, diantaranya pencak silat, teatrikal puisi dan lain-lain. Pada malam itu juga, Panitia mengumumkan nama-nama Desa pemenang Lomba Debat dan The Best Three dalam acara pelatihan.

Untuk lomba Debat antar Desa, Desa Poteran sebagai terbaik pertama, sedangkan Desa Kropoh dan Desa Jungkat harus puas diurutan kedua dan ketiga. Untuk peserta terbaik, masing diraih oleh, Afif Sabil, Moh. Ipunk.dan Moh. Joli. Menurut Ketua Panitia kegitan, Sudarsono Alhas, kegitan tersebut bertujuan untuk mencetak kader yang handal serta militan dan siap pakai.

Sementara itu, pada malam Senin kemarin, Formasi kembali mengadakan kegiatan diskusi. Tema yang diambil “Tunangan dalam lintas budaya”. Bertindak sebagai nara sumber, Badrul Ulum dan Moh. Jazuli sebagai moderator. Diskusi yang berlokasi di kantor BEM tersebut akan diadakan setaip malam Senin. (Dar/aaz)
Selengkapnya...

Brosur Santri Baru

Jumlah Pengunjung

Website counter
 

Tamu Pesantren

Mubes Iksass VIII di Jember

Tamu Pesantren

Powered by Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah