Syariah Adakan Advokasi

BEM Fakultas Syariah IAII pada hari Kamis dan Jum’at ini menggelar Pelatihan Advokasi dan Praktik Peradilan Semu. Peserta pelatihan ini sebanyak 81 mahasiswa Fakultas Syariah. Sedang narasumbernya, H. Ach. Cholily Setyabudi, SH dengan materi “Administrasi Pengadilan Agama dan Negeri”, Ach. Fadlail, SH dengan materi, “Manajemen Advokasi dan Hukum Acara Persidangan”, Muhammad Jupri, SH dengan materi “Yurisprudensi”, Drs. Nur Chozin, SH.MH dengan materi, “Hukum Acara Perdata dan Tata Cara Persidangan”, dan “Praktik Pengadilan Semu”.

Menurut ketua panitia pelaksana, Zainur Rosyid, tujuan kegiatan ini adalah agar mahasiswa mampu menguasai dan memahami teori hukum, agar mahasiswa memiliki kemampuan dan keterampilan sebagai pengembang profesi hukum. Acara pelatihan tersebut diakhiri dengan kunjungan ke pengadilan negeri Situbondo. (sah)
Selengkapnya...

Tarbiyah Rintis Pendidikan Masa Depan

BEM Fakultas Tarbiyah IAII mulai Jum’at ini mengadakan Bina Sekolah di MI, SMP, dan SMK Khamas Kertosari Asembagus. Bina Sekolah kali ini dengan tema, “Merintis Pendidikan Ideal Masa Depan”. Kegiatan ini diikuti oleh 150 mahasiswa Fakultas Tarbiyah.

Menurut ketua panitia, Ali Ahmad, tujuan bina sekolah tersebut adalah mengembangkan potensi mahasiswa dalam pendidikan, menumbuhkan sifat kepedulian mahasiswa terhadap lembaga pendidikan, mencetak mahasiswa berjiwa pendidik, dan menanamkan nilai-nilai pendidikan dalam diri mahasiswa.

Kegiatan Bina Sekolah ini berbentuk pembinaan dan pengaplikasian materi serta metode pembelajaran dan dialog atau pengajian. Dialog tersebut diantaranya dialog tentang peranan pendidikan terhadap perilaku remaja yang disampaikan Dekan Fakultas Tarbiyah, Moh. Minhaji, M.PdI, dialog Fiqh Ibadah yang disampaikan Ustadz Mustofa, SIF, dan dialog “Adakah Pacaran dalam Islam” oleh Ustadz Manshur Arif. (sah)
Selengkapnya...

Asrama Bahasa Perketat Bahasa Asing

Akhir-akhir ini Asrama Bahasa sedang gencar-gencarnya memperketat penggunaan bahasa asing. Sudah kurang lebih 3 minggu pada awal bulan Maret yang lalu Asrama Bahasa perketat kebahasaan anggotanya. Bahkan jika beraktifitas diluar pondok pun harus menggunakan bahasa asing sesama anggota Asrama Bahasa. Sehingga dalam kurun waktu 24 jam mereka wajib menggunakan bahasa asing.

Menurut Kepala Daerah Asrama Bahasa, Susilowati tujuan diperketatnya penggunaan bahasa asing ini tidak lain adalah untuk menambah sistem kebahasaan Asrama Bahasa serta menumbuhkan rasa kedisiplinan dalam berbahasa asing.

Sanksi pun telah dijalankan jauh-jauh sebelumnya bagi mereka yang lalai menggunakan bahasa asing dimanapun berada selama 24 jam. Sanksi disini terdapat IV Level. Level I jika ngomong bahasa selain Arab dan Inggris satu kali akan disanksi hafalan vocab yang belum diketahui sebelumnya sebanyak 20 vocabulary. Level II jika melanggar lagi akan mempresentasikan artikel bahasa Inggris. Level III jika cerita menggunakan selain bahasa asing akan mempresentasikan hotnews yang ada di dunia serta menyapu didepan halaman pesantren dengan memakai plang Language Breaker. Dan Level IV jika melanggar lagi akan terkena sanksi diserahkan kepada Kepala Daerah Asrama Bahasa.

Program BP Asrama Bahasa ini sebelumnya sudah banyak menyanksi anggota asrama bahasa yang melanggar berbahasa asing Arab dan Inggris. Lain halnya dengan pengurus asrama bahasa yang sekali melanggar saja akan langsung diberikan sanksi pada Level III yakni mempresentasikan hotnews yang ada di dunia serta menyapu di depan halaman pesantren dengan memakai plang Language Breaker. (she)
Selengkapnya...

Rahmat, Pemenang Penulisan Website Nasional



“Kadang-kadang menyebalkan, agak kegila-gilaan, namun mengagumkan!” Barangkali, kalimat itulah yang pas menggambarkan sosok Ratmat Saputra.

Di mata teman-temannya, perilaku Rahmat --sapaan akrabnya-- kerap agak nyeleneh. Namun justru dengan kenyelenehan itulah kerap tersembunyi kekuatan yang mengagumkan. Kini, ia membuktikan hal itu.

Awal Maret lalu, Rahmat menjadi pemenang pertama dalam kompetisi penulisan website/blog tingkat nasional yang diselenggarakan harian Kompas. Kompetensi Muda Creativity Kompas (KFC) itu diikuti ratusan kawula muda, khususnya pelajar dan mahasiswa se-Indonesia. Jurinya pun tak sembarangan; yaitu Redaksi Kompas MuDa dan desain grafis Kompas.

Rahmat harus bersaing dengan ratusan mahasiswa perguruan tinggi lainnya. Ia mampu menaklukkan mereka. Termasuk Febrian Shandy, mahasiswa Sistem Jaringan, Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, yang “hanya” mampu sebagai juara III. Padahal, Rahmat “hanyalah” mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah IAI Ibrahimy.

Namun, barangkali, justru dengan menjadi mahasiswa Fakultas Dakwah IAII itulah Rahmat berhasil menjadi pemenangnya. Rahmat berhasil memadukan unsur bobot kepenulisan, desain yang menarik, dan search engine optimization (SEO), sebagaimana yang diinginkan panitia. Dan sebagian ilmu itu, ia peroleh di bangku perkuliahan. Karena di Fakultas Dakwah IAI Ibrahimy, Rahmat diajari berbagai macam matakuliah ilmu jurnalistik dan multimedia. Matakuliah multimedia di Fakultas Dakwah, misalnya: Desain Website, Animasi Komputer, dan Desain Komunikasi Visual.

Kemudian ilmu jurnalistik dan multimedia itu, ia praktikkan di website. Rahmatlah yang mempelopori website majalah online mahasiswa pertama di Jawa Timur, yaitu Orator Megazine. Ia juga mengelola www.saputraonline.com yang mengantarkannya sebagai pemenang website tingkat nasional.

Penilaian yang dilakukan tim juri terhadap website peserta KFC dalam rentang bulan Oktober 2009 sampai Februari 2010. Tema kompetisi kali ini, “Bangga Indonesia.” Unsur penilaian yang dipatok panitia adalah bobot kepenulisan, desain yang menarik, dan SEO. Pesan yang ingin disampaikan panitia kompetisi web adalah selain menulis yang baik, peserta juga harus bersosialisasi di forum-forum internet agar tulisannya diindeks oleh Google dan banyak dikunjungi orang.

Menurut panitia lomba --sebagaimana dilansir Kompas, 3 Maret 2010-- ciri khas kompetisi berbasis CEO adalah kompetisi di tingkat mesin pencari akan terus dicari anak-anak muda yang suka tantangan CEO. Kompetisi ini juga mengandung unsur kualitas tulisan dan desain. Dengan demikian kompetisi ini unik dan jarang diadakan di Indonesia.

Putra kelahiran Meulaboh Aceh, 1 Januari 1990 ini mengaku senang menjadi pemenang kompetisi penulisan website. Karena saingannya cukup ketat. Sebagai seorang santri dan mahasiswa, ia mengaku mempunyai idealisme yang tinggi untuk berubah, untuk melakukan yang terbaik, dan menghadapi tantangan yang berat. Bahkan sebelum Obama mempopulerkan ungkapan, “Yes we can”, ia berusaha terlebih dulu menerapkannya. “Tentu, tetap berlandaskan sifat kesantrian,” imbuhnya.

Menurut Rahmat, berbagai pikiran nyeleneh, ide-ide yang tak terpikirkan orang, dan mimpi-mimpi yang dulunya mustahil untuk diwujudkan, semua itu sebenarnya serba mungkin dan serba bisa dengan kata: “Ya, kita bisa!”.

Dengan prinsip itulah Rahmat kemudian ikut ajang kompetisi. Dan akhirnya, ia menjadi pemenang. “Ini membuktikan bahwa mahasiswa Fakultas Dakwah IAII mampu berbicara di tingkat nasional,” imbuhnya bangga. (syamsul a hasan)
Selengkapnya...

• Beberapa “Kekeliruan” tentang Angka Haul Almarhumain (II)

Antara Tanggal Kewafatan dan Tanggal Peringatan Haul


Oleh: Syamsul A. Hasan


Lalu bagaimana dengan Kiai As’ad? Kiai As’ad wafat hari Sabtu, 13 Muharram 1411 atau tgl 4 Agustus 1990. Dengan demikian, pada acara Haul Almarhumain nanti, Kiai As’ad wafat sudah 20 tahun, 5 bulan. Sedangkan haulnya, yang ke-19 bukan ke-20!

Namun mengapa haul terjadi setiap tgl 17 Jumadil Ula? Sampai saat ini, saya tidak mengetahui alasan yang tepat. Saya pun belum mengetahui, kapan pertama kali haul ini diselenggarakan.

Kalau kita baca lagi buku Kharisma Kiai As’ad, ternyata ketika Kiai Syamsul wafat, Kiai As’ad tidak ada di Pondok Sukorejo. Beliau sedang dalam persembunyian di Madura. Beliau bersembunyi dari kejaran penguasa karena difitnah. Beliau difitnah menyebarkan minyak babi kepada para santrinya. Kiai As’ad juga diisukan mengadakan gerakan di bawah tanah dan pengikut DI/TII. Lima hari kemudian, Lurah Pesantren, Kiai Chudlory datang ke Madura untuk memberitahu berita wafatnya Kiai Syamsul itu kepada Kiai As’ad.

Kembali, kepada masalah haul. Mengapa haul diselenggarakan pada tanggal 17 bukan tanggal 17 Jumadil Ula? Padahal, Kiai Syamsul wafat pada tanggal 27 Jumadil Ula.

Analisis saya: Pertama, barangkali para penggagas haul terdahulu tidak terlalu ingat tanggal wafatnya Kiai Syamsul. Mereka hanya ingat angka “7”.

Kedua, para penggagas haul memang sengaja memperingati haul pada tgl 17 Jumadil Ula bukan pada tanggal 27 Jumadil Ula, yang bertepatan dengan hari kewafatan Kiai As’ad. Jadi, harus dibedakan antara tanggal kewafatan Kiai Syamsul dan tanggal peringatan haul. Barangkali, alasan inilah yang paling tepat.

Berdasar ulasan di atas, saya berharap kepada panitia haul agar mengubah angka haul yang keliru, selisih setahun. Pada tahun ini, haul ke-60 (bukan ke-61) Kiai Syamsul Arifin dan haul ke-19 (bukan ke-20) Kiai As’ad. Begitu pula, tulisan yang benar: haul ke-19 KHR. As’ad Syamsul Arifin, bukan haul KHR. As’ad Syamsul Arifin ke-19. (Sebab yang ke-19 itu haulnya ataukah Kiai As’adnya?)

Saya juga berharap kepada perancang kalender Pesantren Sukorejo, agar pada tanggal 27 Jumadil Ula 1370 dicatat sebagai hari wafatnya Kiai Syamsul. Sedangkan pada tgl 17 Jumadil Ula dicatat sebagai hari peringatan haul Kiai Syamsul.

Semoga, tulisan saya ini berguna bagi kita, terutama para peminat sejarah Pesantren Sukorejo. Amin.
Selengkapnya...

Syukur



Oleh: Riska Rismaya

Setiap manusia seharusnya selalu mengingat nikmat yang telah Allah berikan kepadanya. Nikmat yang ada di bumi dan seisinya telah disediakan Allah sebagai kelengkapan dan pelengkapan ciptaan-Nya. Air, tanah, udara dan semesta alam dengan penuh kasih dan sayangnya mengapa kehadiran kita didunia atas perintah-Nya, belum lagi kelengkapan anggota badan, sehingga kita dengan mudah menjalankan tugas sebagai khalifah dibumu. Disadari atau tidak, apa yang ada pada diri manusia, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki adalah nikmat yang telah diberikan Allah dan merupakan anugerah yang tiada tara nilainya.
“Karena itu ingatlah kamu kepada-ku. Niscaya Aku ingat kepadamu. Dan bersyukurlah kepada-ku dan jangan kamu mengingkari-ku” (QS. Al-Baqarah: 152)

Bersyukur pada hakekatnya merupakan konsekuensi logis bagi seseorang makhluk seperti manusia kepada Allah, sebagai Tuhan yang telah menciptakan dan melimpahkan berbagai nimat. Namun, kerap sekali makhluknya terlupa bahkan melupakan-Nya.

Pada umumnya ada 3 hal yang sering membuat kita tidak bersyukur. Pertama kita sering memusatkan diri pada apa yang kita inginkan bukan pada apa yang kita miliki. Hal ini terjadi karena kita salah dalam melakukan penilaian. Kita sering mengukur suatu nikmat dari Allah dengan ukuran diri sendiri, artinya jika keinginan dipenuhi, maka ia kan mudah bersyukur sebaliknya jika belum dikabulkan, maka ia enggan untuk bersyukur.

Kedua, selalu melihat kepada orang lain yang diberikan lebih banyak nikmat, perilaku ini hanya menyuburkan rasa iri, hasud dan dengki kepada orang lain. Cobalah untuk melihat orang yang kurang beruntung, banyak disekitar kita yang tak bisa menikmati indahnya pandangan dunia, bahkan ada yang takbisa hanya untuk sekedar berjalan. Tidak jarang kita merasa orang lain lebih beruntung, kemanapun kita pergi, selalu ada yanglebih pandai, lebih tampan, lebih cantik dan lebih segalanyaaa dari kita. Rasullah menagajarkan “apabila seseorang diantara kamu melihat orang yang dilebihkan Allah dalam hal harta benda dan bentuk rupa, maka hendaklah ia melihat kepada orang-orang yang lebih rendah daripadanya”.

Ketiga, menganggap apa yang dimilki adalah hasil usaha sendiri, perilaku ini menumbuhkan sifat kikir, sombong dan melupakan Allah sebagai pemberi nikmat tersebut, padahal tidak ada satu nikmat pun yang dating dengan sendirinya. Melainkan Allah yang telah mengatur semuanya, kini mumpung Allah masih memberikan waktu, satu-satunya cara yang harus kita lakukan adalah mensyukuri semua nikmatnya dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Bukankah Sang Maha Pencipta telah berfirman:

“Bersyukurlah kepadaku maka Ak akan tambahkan nikmat-ku dan janganlah kufur (congkak/sombong) karena siksaku teramat pedih”.

Pertanyaannya, dengan apa kita harus mewujudkan rasa syukur itu?

Adapun manifestasi dari rasa syukur itu adalah: Pertama, hendaklah tertib menjalankan ibadah sebagai bagian terima kasih kita kepada Sang Pencipta, bukan lagi sebagai suatu yang membebani hidup kita, justru sebaliknya tetapi sangat mudah dan sangat murahnya, hanya dengan ketaatan, ketertiban dan kekhusyu’an ibadah.

Kedua, tekun belajar bukan lagi beban karena disuruh oleh orang tua, guru atau siapa pun, tetapi tekun belajar karena kita bersyukur atas anugerah otak yang telah diberikan kepada kita. Berprestasi dalam pendidikan adalah jawaban dari rasa terima kasih kita atas anugerah otak apabila kita tidak mengoptimalkan pengguna otak dengan tekun belajar, maka sang pencipta akan menghinakan kita baik didunia maupun diakhirat.

Sebelum semua terlambat marilah kita mengubah polah pikir tingkah laku dan amal perbuatan kita dengan bersyukur kepada Sang Pencipta agar kita dimuliakan saat hidup didunia dan dimuliakan ketika menghadap-Nya. Sebagaimana janji Sang Pencipta: “Allah akan meninggikan orang yang beriman dantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat ” (Q.S. 58: 11)

Semoga kita semua termasuk diantaranya Amin…nah, selagi ada waktu yang diberikan oleh-Nya, sudahkah kita mensyukuri semua nikmat-Nya?

(Ka. Iksass Rayon Jember 2009-2010)
Selengkapnya...

Aktivis Dakwah Kampus dalam Menjawab Tantangan Dakwah Kedepan


Oleh: Yakut Datul Hamroh

Dakwah adalah kewajiban asasi bagi setiap muslim yang harus senantiasa ditegakkan, dimantapkan, ditata gerakkan kelembagaannya baik syi’ar dan keberadaannya. Dalam tatanan pembinaan masyarakat terutama mahasiswa. Dakwah menjadi semakin penting mengingat kampus adalah tempat kuliah dan penyiapan kader ummat pada kondisi ini. Fakultas Dakwah diharapkan dapat memberikan tuntutan bagi mahasiswa dalam mencapai sebuah cita-cita. Mempunyai keberpihakkan tinggi dalam terhadap nilai-nilai Allahiyah, peka sosial atas masalah ummat dan professional dalam bidang yang ditekuni. Kader seperti inilah yang akan membawa kearah masyarakat tauhid, adil, makmur dan dapat membawa masyarakat sejahtera.

Dalam kampus semakin menjadi suatu fenomena menarik untuk diperhatikan dengan segala dinamika keaktifitasannya yang memang berbeda dari yang lain aktifitas Dakwah lebih menentang, dengan demikian seharusnya aktivis Dakwah Kampus terus-menerus menjalankan agendanya seperti daurah, halaqah, minotoring, kajian sosial sampai pada aksi-aksi keummatan. Jangan khawatir untuk mahasiswa dakwah yang minoritas buktikan kalau aktivis dakwah berkualitas. Meskipun ada asumsi dikalangan mahasiswa, siapa yang aktif dalam kampusnya lebih-lebih ia termasuk mahasiswa yang minoritas maka nilai akademiknya akan keteteran . ini jelas keliru apakah kita tidak pernah tahu istilah “dakwah sekolah” atau “dakwah kampus?”. Yang aktif didalamnya disebut aktivis dakwah sekolah dan aktivis dakwah kampus, selain kuliah mereka juga berdakwah (berorganisasi) dengan cara memanfaatkan sarana dan prasarana yang ada tempat praktikum dan lembaga organisasi.

Apakah aktivis dakwah yang mereka lakukan bisa mempengaruhi nilai akademik? Jawabannya “iya”. Dengan menjadi aktivis mereka tambah kritis, peka terhadap perubahan. Karena mereka dituntut bisa me-manage, sehingga mereka menjadi orang-orang yang selalu bisa memanfaatkan waktu antara fokus pelajaran dan fokus dakwah (organisasi dakwah). Aktivis dakwah kampus pada dasarnya sama dengan lainnya sama-sama diciptakan sebagai khalifah di bumi. Ada beberapa solusi agar organisasi dakwah dan kuliah berjalan seiringan.
Pertama : memiliki managemen waktu, ketika menyinergikan kuliah dan organisasi harus memanage waktu dengan baik. Dengan begitu tidak ada kegiatan kuliah dengan organisasi.
Kedua : memilki skala prioritas terhadap kegiatan. Gunanya ketika ada dua kegiatan dalam waktu sama, ini terjadi biasanya karena ada kegiatan belum terjadwal baik atau sebelumnya belum pernah terjadwal, maka jika begitu bisa melihat apakah kegiatan itu penting atau tidak, jika tidak bisa diabaikan. Jika tidak bisa diabaikan. Jika sama-sama penting ambil salah satunya.
Ketiga : optimalisasi peran baik organisasi dakwah atau kuliah, ini penting agar kegiatan yang kita ikuti tidak sia-sia. Artinya saat kuliah kita betul-betul kuliah, dan saat berdakwah (berorganisasi) kita betul-betul berdakwah seperti dalam hadits yang artinya “Allah menyukai hamba-Nya yang memilih sebuah pekerjaan dan menekuninya”.
(Penasehat Iksass Rayon Bangkalan)
Selengkapnya...

Brosur Santri Baru

Jumlah Pengunjung

Website counter
 

Tamu Pesantren

Mubes Iksass VIII di Jember

Tamu Pesantren

Powered by Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah